Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 48


__ADS_3

"Hei, lu apa-apaan, sih?" bentak Arumi.


"Gue mau minta maaf," ujar Tian menyesal.


Tian memegang erat telapak tangan Arumi, dia memohon agar gadis yang ada di hadapannya itu mau memaafkan atas kesalahannya selama ini.


"Lepas!" Arumi menghempaskan tangan Tian yang memegangi tangannya.


"Gue tidak butuh permintaan maaf dari lu," bentak Arumi sambil mendorong dada Tian.


Gadis itu kini membelakangi Tian, terlihat dengan jelas sorot mata Arumi yang sangat membenci dirinya, hal itu membuat Tian semakin menyesali apa yang sudah dilakukannya terhadap Arumi.


Arumi ingin cepat keluar dari lift itu, dia tidak ingin berlama-lama berada di tempat yang sama dengan Tian.


Tian pun berinisiatif untuk memeluk tubuh Arumi dari belakang.


"Maaf, aku menyesali apa yang sudah aku lakukan," bisik Tian di telinga Arumi.


Deg...


Tiba-tiba jantung Arumi berdebar dengan kencang, dia merasakan kehangatan dari tubuh pria yang dibencinya itu. Arumi dapat merasakan bahwa Tian benar-benar menyesali perbuatannya.


Namun, ego Arumi masih menguasai dirinya. Arumi tidak mau menerima sikap dan tingkah laku Tian yang sudah berbuat sesuka hatinya.


"Lepasin gue!" bentak Arumi kembali menghempaskan tangan Tian.


Arumi membalikkan tubuhnya lalu menatap tajam ke arah Tian.


Arumi meruncingkan telunjuknya tepat di depan wajah Tian.


"Lu jangan coba-coba mencari kesempatan dalam kesempitan,!" bentak Arumi lagi.


Arumi tidak terima dengan apa yang sudah diperbuat Tian. Dia tidak menyangka, Tian akan berani memeluk tubuhnya.


"Lu itu tidak lebih dari seorang pria yang pengecut! Gue benci sama lu!" teriak Arumi.


Ting, pintu lift mulai terbuka. Lagi-lagi Arumi mendorong Tian.


Tian terdiam. Dia menatap Arumi yang keluar dari lift.


"Gue tidak menyangka gadis itu benar-benar sudah membenci diriku," gumam Tian di dalam hati.


"Tuan." seseorang menyapa Tian Setelah dia berada di luar lift.


Arumi dapat mendengar dengan jelas seseorang itu bersikap sopan dan santun terhadap Tian.


Gadis itu menoleh ke belakang dan melihat wanita yang kini bersama dengan Tian terlihat sangat menghormatinya.

__ADS_1


"Siapa dia?" gumam Arumi di dalam hati.


Ada rasa penasaran tentang sosok wanita yang bersama Tian saat itu, tapi dia lebih mementingkan egonya, dan berusaha untuk mengabaikannya.


"Arumi, lu cepat banget," ujar Laras heran saat melihat sahabatnya baru saja masuk ke dalam kamar.


Dia mengira Arumi butuh waktu untuk sampai ke kamar karena dia juga baru masuk ke dalam kamar itu.


"Gue naik lift yang ada di samping lift kalian," jawab Arumi jujur.


"Itu kan lift khusus pejabat tinggi hotel, kok bisa?" tanya Laras heran.


Arumi mengangkat bahunya, dia sendiri tidak tahu.


"Tapi, kalau tidak salah dengar ada seseorang yang mengenalinya di hotel ini," ujar Arumi.


"Masa, sih?" tanya Laras tak percaya.


"Iya, gue juga tidak tahu dia itu sebenarnya siapa. Sepertinya dia bukan hanya guru biasa, mungkin dia juga seorang pengusaha," ujar Arumi menyampaikan pendapatnya pada sang sahabat.


"Maksud, lu?" tanya Laras bingung.


"Mhm, lu masih ingat, kan waktu gue acara makan malam sama kedua orang tua gue?" tanya Arumi.


Laras mengangguk.


"Nah, waktu itu Papi ngajakin aku makan malam dengan rekan bisnisnya, dan ternyata rekan bisnis papi itu dia," ujar Arumi.


Tian selalu datang ke sekolah dengan sepeda motor butut, tapi Arumi pernah melihat Tian naik mobil mewah beberapa kali. Jadi, Arumi mengambil kesimpulan, Tian bukanlah guru biasa, dia pasti memiliki pekerjaan lainnya.


"Tapi, buat apa coba dia menyamar jadi guru. Kalau dia memiliki pekerjaan yang lebih menghasilkan?" tanya Laras penasaran.


"Au ah, gelap," ujar Arumi.


Arumi malas membicarakan Tian, karena saat ini hati dan pikirannya mulai bertentangan.


Bayangan apa yang sudah dilakukan Tian di dalam bus, serta apa yang baru saja terjadi di dalam lift membuat hati Arumi mulai bergejolak.


Arumi memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dari pada terus-terusan membicarakan sosok Tian.


Saat makan malam, semua peserta telah berkumpul di restoran hotel yang berada di lantai dasar hotel.


Mereka duduk di sebuah meja panjang, pihak hotel telah menyediakan makanan khas Indonesia karena pemilik hotel tempat mereka berada merupakan milik orang Indonesia.


Di sana juga banyak pelayan yang berasal dari Indonesia.


Mereka mulai menyantap hidangan makan malam yang ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyik makan, seorang wanita dengan gaun berwarna merah merona, tubuhnya yang langsing serta kulitnya yang putih mulus tanpa cacat datang menghampiri tempat mereka.


Wanita itu melangkah mendekati guru pendamping mereka. Semua peserta pria menatap genit pada wanita yang mengenakan pakaian kurang bahan itu.


Mata mereka tak beralih dari sosok sang wanita.


"Hei, Tian, Ridho," sapa si wanita pada Ridho dan Tian.


Dua pria tampan itu mengangkat wajah mereka dan melihat sosok yang sangat dikenalnya.


"Karin, lu di sini?" ujar Ridho surprise melihat teman kuliahnya kini berada di negara yang sama dengannya.


"Karin," lirih Tian.


Tian dan Ridho berdiri, dan menyalami gadis itu. Karin pun merangkul kedua pria tampan itu secara bergantian sebagai tanda kerinduan yang mendalam karena mereka sudah lama tidak berjumpa.


Karin memilih duduk di samping Tian.


"Aku kangen banget sama kamu," ujar Karin sambil mengelus lengan kekar Tian.


Semua siswa hanya menatap perilaku wanita itu terhadap guru mereka.


Mereka dapat melihat dengan jelas keakraban antara Tian dengan wanita yang bernama Karin itu.


Arumi dapat melihat dengan jelas interaksi yang terjadi di antara Karin dan Tian.


Entah mengapa hatinya mulai memanas, dia tidak suka melihat Tian dekat dengan wanita lain.


"Ih, gue kenapa jadi marah ngeliat mereka?" gumam Arumi di dalam hati.


Arumi buru-buru menghabiskan makanannya.


"Ras, aku capek. Ayo, kita balik ke kamar," ajak Arumi pada Laras.


Laras pun bingung melihat sikap Arumi yang kini terlihat emosi melihat Tian dan Karin.


"Iya, tunggu bentar. Bentar lagi gue selesai," ujar Laras dan mempercepat kegiatan makannya.


Dia tahu saat ini sang sahabat tengah jengah berada di restoran tersebut.


"Lu kenapa sih, Rum?" tanya Laras saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Lu lihat kan, apa yang dilakukan cowok breng*ek itu? Dia pamer kemesraan dengan cewek itu di hadapan kita. Sebagai seorang guru tak sehat dia bersikap seperti itu," ujar Arumi meluapkan kekesalannya.


"Lho? Mungkin mereka sudah terbiasa berperilaku seperti itu," ujar Laras menyampaikan pendapatnya.


"Tapi, enggak seperti itu juga kali. Gadis itu datang ke hadapan kita dengan pakaian minim seperti itu, lalu mengajak Tian mengobrol dan mengabaikan keberadaan kita," ujar Arumi meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Eh, jangan-jangan lu cemburu, Rum?" tanya Laras.


Bersambung...


__ADS_2