
"Apa? Cemburu? Ya, enggaklah, Ras. Lu jangan mengada-ada, mana mungkin gue cemburu dengan mereka," bantah Arumi tidak terima dikatakan cemburu melihat kedekatan Tian dan wanita itu.
"Apakah aku benar-benar cemburu? Tidak, aku hanya kesal padanya. Dia baru saja meminta maaf padaku, dan aku hampir saja mempercayai dirinya, aku benci sama dia, tak boleh lebih dari itu," gumam Arumi di dalam hati.
"Hati-hati, Rum. Nanti lu jatuh hati sama dia," ujar Laras mengingatkan sahabatnya.
"Ish, lu apa-apaan, sih," ujar Arumi kesal.
"Kan udah biasa tuh, awalnya benci akhirnya jadi cinta," ledek Laras.
Drrrttt drrrttt drrrttt.
Ponsel Laras berdering, Laras mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, dia melihat panggilan masuk dari sang kekasih lalu menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Ya ampun, ponsel gue ketinggalan di atas meja," pekik Arumi teringat dengan ponselnya.
Dia berbalik badan, lalu dia melangkah kembali menuju restoran hotel meninggalkan Laras. Sementara itu Laras langsung masuk kamar karena dia tengah berkomunikasi dengan sang kekasih.
Di restoran hotel sudah tidak ada seorang pun di sana. Arumi mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dikenalinya, tapi sia-sia semua teman Arumi sudah keluar dari restoran.
Mereka pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan mereka yang terlupa.
Arumi melihat meja yang tengah dibersihkan oleh pelayan.
Di sana tidak terlihat lagi ponsel miliknya. Arumi menghampiri pelayan yang sedang bekerja.
"Permisi," ujar Arumi pada di pelayan yang merupakan orang Indonesia.
"Iya, Kak," ujar si pelayan.
"Apakah kamu tadi melihat ponsel di atas meja ini?" tanya Arumi pada si pelayan.
pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Sejak tadi saya belum menemukan ponsel di atas meja ini, Nona," jawab si pelayan.
"Teman-teman saya ke mana, Kak?" tanya Arumi pada sang pelayan berharap pelayan itu tahu ke mana teman-temannya.
"Sebagian ada yang masuk ke dalam lift dan sebagian lagi ada yang keluar dari hotel ini, Nona," jawab si pelayan seadanya.
"Oh, terima kasih ya, Kak." Arumi pun melangkah keluar dari restoran.
Dia kini berada tepat di depan hotel sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok teman-temannya.
__ADS_1
Arumi kini berdiri di pinggir jalan, dia masih mencari teman-temannya.
Di saat itu sebuah mobil Van berwarna silver berhenti tepat di hadapannya. Seseorang membuka pintu mobil van, lalu dia menarik tangan Arumi masuk ke dalam mobil itu.
"Hei, tolong!" teriak Arumi.
Namun, semua yang dilakukan Arumi sia-sia, mobil itu tertutup dengan rapat. dia melihat 4 orang pria asing yang berada di dalam mobil tersebut.
"Apa yang ingin kalian lakukan padaku?" teriak Arumi pada mereka.
Mereka hanya tertawa karena mereka tidak paham apa yang tengah diucapkan oleh Arumi.
Si sopir mengemudikan mobilnya ke sebuah tempat yang sangat sepi. Dia menghentikan mobilnya di jalan buntu.
Mereka turun dari mobil, dua orang menarik tangan Arumi untuk keluar dari mobil.
Arumi berusaha melepaskan diri dari 2 pria itu, dia mengandalkan ilmu beladiri yang dimilikinya. dia dapat terlepas dari dua penjahat itu tapi dua penjahat lainnya langsung menangkap Arumi sehingga gadis itu tidak bisa berkutik lagi.
Mereka memegangi tangan Arumi dengan sekuat tenaga sehingga Arumi tidak bisa berbuat apa-apa.
"I yeojado yeppeuda, (gadis ini cantik juga)," ujar si penjahat A pada temannya.
"geunyeoui mom-eul palgi jeon-e meonjeo jeulgyeoboneun geon eotteolkkayo? (Bagaimana kalau kita nikmati tubuhnya terlebih dahulu sebelum kita jual?)" usul si penjahat B pada teman-temannya.
Kali ini mereka mendapatkan korban yang berasal dari negara lain.
Di tempat lain Laras yang baru saja selesai menelpon dengan Nick merasa khawatir pada sahabatnya yang sejak tadi tak kunjung datang.
Laras keluar dari kamarnya, lalu melangkah menuju lobi hotel sambil menelpon Aldo.
Dia memberitahukan Arumi yang belum kembali sejak tadi.
Mereka semua berkumpul di lobi, begitu juga dengan Ridho.
Ridho mencoba menghubungi Tian yang tadi sempat keluar bersama Karin. Tapi, sahabatnya itu belum juga mengangkat panggilannya.
"Kenapa Arumi bisa keluar seorang diri?" tanya Ridho pada Laras.
"Maaf, Pak. Tadi aku sedang menelpon, dia memilih pergi sendiri untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan di restoran hotel," jelas Laras.
Laras merasa bersalah tidak menemani Arumi. Entah mengapa Laras tiba-tiba mencemaskan sahabatnya. Dia merasa sahabatnya itu dalam bahaya.
"Aldo, kita harus cari Arumi di mana? Firasat gue mengatakan kalau dia dalam bahaya," Laras merengek pada Aldo.
__ADS_1
Arumi dan Laras memang lebih dekat dengan Aldo dari pada teman-teman yang lain.
"Kamu tenang dulu, Ras. Kita coba pikirkan solusinya." Aldo berusaha menenangkan Laras yang sudah panik.
Ridho terus mencoba menghubungi Tian, dia berulang-ulang menekan nomor sahabatnya itu, tapi masih sama Tian belum juga mengangkat telponnya.
"Nih anak ke mana, sih?" gumam Ridho mulai kesal.
"Dalam keadaan gawat darurat seperti ini dia masih asyik kencan dengan Karin," umpat Ridho lirih.
Namun, Laras dapat mendengar umpatan sang guru.
"Arum, lu di mana? Ya Allah, tolong jagain sahabatku," ucap Laras.
Gadis itu mulai meneteskan air matanya. Laras sudah membayangkan hal-hal buruk yang menimpa sahabatnya di negara orang.
"Help!" teriak Arumi.
Dia hanya bisa menggunakan kemampuannya dalam bahasa Inggris di situasi yang membahayakan dirinya.
Si penjahat sudah mulai membuka kemeja yang dikenakan Arumi. Kini gadis itu hanya mengenakan tang top dan celana jeans-nya.
Di saat seperti ini Arumi tidak bisa memanfaatkan ilmu bela dirinya karena tenaga penjahat itu lebih kuat dari dirinya.
Salah satu penjahat mulai mengelus pelan kulit mulus tubuh Arumi.
Dia mulai membelai wajah Arumi, hingga menyentuh lehernya. Si penjahat mendekatkan wajahnya ke leher jenjang milik Arumi.
"I yeoja jeongmal maelyeogjeog-iya, (Gadis ini benar-benar menarik)" ujar si penjahat memuji keindahan tubuh Arumi.
Arumi terus berusaha membebaskan diri dari cengkeraman penjahat itu tapi tenaganya kalah kuat. Si penjahat mendorong tubuh Arumi ke tumpukan kardus bekas di sudut lorong.
Mereka bersiap untuk membuka celana jeans yang dikenakan oleh Arumi.
Keempat penjahat itu sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh Arumi, mereka berencana akan memperk*sa Arumi secara bergiliran.
Mereka membiarkan pemimpin penjahat itu terlebih dahulu menikmati tubuh Arumi.
"No, please, help me," Isak Arumi.
Arumi benar-benar takut dengan apa yang menimpanya saat ini.
Buliran bening mulai mengucur membasahi pipinya. Tangisan Arumi tak membuat penjahat itu meras kasihan dengan Arumi.
__ADS_1
Bersambung...