Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 32


__ADS_3

"Tidak, Ma, Pa," ujar Tian menutupi apa yang kini tengah menjadi beban pikirannya.


"Kamu ada masalah, Sayang?" tanya Nyonya Sarah penasaran.


Dia yakin bahwa putranya tengah menyimpan beban saat ini.


"Ada, sedikit, Ma. Tapi mama tenang aja, Tian bisa menyelesaikannya, kok," ujar Tian.


Akhirnya Tian jujur, tapi dia belum mau cerita pada kedua orang tuanya, karena permasalahan yang kini dihadapinya adalah akibat dari apa yang sudah dilakukannya.


Entah mengapa saat Tian berada di hadapan Arumi, pola pikirnya terlalu kanak-kanak. Seolah umurnya berubah menjadi anak remaja yang masih labil.


"Kamu yakin, Sayang? Apakah mama perlu turun tangan untuk mendekati gadis itu?" tanya Nyonya Sarah yang salah tanggap.


Dia mengira putranya kini telah mendapatkan seorang gadis yang akan dijadikan sebagai pendamping hidup.


"Ah, mama bukan masalah itu, Ma. Aku belum kepikiran ke sana," ujar Tian membantah ucapan sang Mama.


"Tadi kamu bilang gadis, mama kira kamu sedang berusaha mendekati seorang gadis, melihat umurmu sepertinya kamu sudah pantas menikah," ujar Nyonya Sarah.


"Jangan dulu, Ma. Aku masih cari wanita yang baik untuk jadi ibu dari anak-anakku nanti," ujar Tian.


Farhan hanya diam menyimak obrolan antara ibu dan anak itu.


"Ya udah kalau gitu, kalau nanti kamu mang sudah punya pilihan jangan lupa langsung kasih tahu mama," ujar Sarah penuh harap.


"Mama tenang aja," ujar Tian.


"Ya udah kalau gitu, aku masuk ke kamar lagi ya, Ma. Masuk banyak urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Tian.


"Iya," lirih Nyonya Sarah.


Tian pun berdiri dan melangkah meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya yang terdapat di samping kamarnya di lantai 2.


"Papa lihat, kan. Raut wajahnya murung," ujar Sarah pada sang suami setelah dia memastikan Tian sudah keluar dari ruang makan.


"Wajarlah, Ma. Namanya juga anak muda," ujar Farhan menanggapi keluhan sang istri.


"Ih, Papa." Nyonya Sarah kesal pada sang suami.


Dia berdiri lalu melangkah meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Keesokan harinya saat pulang sekolah Laras datang menghampiri Tian yang sedang duduk di pinggir lapangan basket sambil menunggu waktu latihan datang.


"Maaf, Pak. Saya mengganggu," ujar Laras pada Tian.


Nick mengangkat alisnya memberi dukungan pada sang sahabat. Ridho mengira Tian memiliki rasa pada siswinya yang kini tengah berada di di hadapan sang sahabat.


Tian menggelengkan kepalanya.


"Ada apa, Ras?" tanya Tian pada siswinya.


"Ada yang mau saya bicarakan, bisakah Bapak ikut saya sebentar," ujar Laras.

__ADS_1


Tian melirik pada sahabatnya, Ridho menganggukkan kepala memberi isyarat pada sang sahabat agar mengikuti gadis itu.


Ridho pun berdiri lalu mengikuti langkah siswinya.


Laras membawa sang guru ke sebuah lorong yang sepi, Laras menghentikan langkahnya.


"Maaf, Pak. Saya hanya menyampaikan pesan. Ada yang mau bicara dengan bapak," ujar Laras.


Tak berapa lama Arumi keluar dari sebuah kelas.


Dia berdiri tepat di depan Tian dengan membawa bola basket kesayangan Tian.


"Nih, gue balikin bola lu! Jika karena ini lu tidak henti-hentinya membenci dan membuat gue susah maka mulai sekarang bola ini gue balikin," ujar Arumi tegas.


Arumi tidak ingin berbicara santun dengan pria yang dibencinya itu.


Dia pun melemparkan bola itu tepat di perut Tian.


"Auw," lirih Tian merasa sakit di perutnya.


Tian tidak sigap menerima bola basket yang dilemparkan Arumi padanya.


"Gila nih cewek, tenaganya kuat juga," gumam Tian di dalam hati.


Arumi menatap tajam pada Tian.


"Dan ini! Ini ganti rugi mobil lu yang rusak! Gue rasa ini semua cukup!!! Gue tidak mau berhutang pada pria yang tidak punya hati." Arumi meletakkan sejumlah uang di tangan Tian.


Sementara itu Laras hanya diam.


"Satu lagi, mulai hari ini gue tidak ingin berurusan dengan lu. Urusan kita selesai sampai di sini!" bentak Arumi pada Tian.


Arumi menarik tangan sahabatnya, dia melangkah menuju laboratorium untuk bersiap-siap mengikuti pelajaran tambahan bersama Ridho.


Tian terpaku di tempatnya, matanya menatap bola basket dan uang yang diberikan Arumi padanya tadi.


"Hei, ada apa, Bro?" tanya Ridho pada sahabatnya saat melihat Tian diam terpaku di lorong sekolah.


Ridho melintasi lorong itu menuju laboratorium.


Dia tak sengaja melihat sahabatnya yang bengong seorang diri di sana.


"Eh," lirih Tian.


Dia tersadar dari lamunannya.


"Itu uang apa?" tanya Ridho melihat tangan Tian yang memegangi uang.


"Mhm," gumam Tian.


"Sudah masuk waktu latihan, gue ke lapangan dulu," ujar Tian.


Tian sengaja mengalihkan pembicaraan, Tian memasukkan uang yang ada di tangannya lalu dia pun melangkah menuju lapangan sambil membawa bola basket yang tadi diberikan oleh Arumi.

__ADS_1


Tian mulai melatih tim basketnya. Kali ini dia membagi tim menjadi dua lalu menyuruh mereka untuk bertanding satu sama lain.


Pikirannya kali ini tidak fokus melatih anak didiknya, sebisa mungkin dia menyatukan pikiran pada anak didiknya walaupun terlihat sesekali wajah murung tersirat dari raut wajahnya.


Sebelum pukul 17.00, Tian menutup latihan.


"Oke, Anak-anak. Latihan kali ini cukup sekian dulu. Kita lanjutkan pertemuan berikutnya," ujar Tian menutup latihan hari ini.


Setelah itu Tian melangkah menuju parkiran.


"Pak Tian kayaknya lagi ada masalah," ujar Aldo pada Rendy saat mereka sedang bersiap-siap untuk pulang.


"Iya, wajahnya murung begitu," sahut Rendy.


"Eh, tadi gue lihat dia sedang ngobrol dengan Arumi di lorong sekolah, kali aja hal itu yang membuat dia murung," ujar Satria ikut menimpali obrolan temannya.


"Arumi?" gumam Aldo heran.


"Iya, kayaknya ada sesuatu di antara mereka," ujar Satria lagi.


"Hush, jangan aneh-aneh. Lu mau Arumi marah besar sama Lu?" tanya Aldo.


"Iya, Sat. Lu kan tahu Arumi gimana," ujar Rendy tidak ingin ikut campur dengan urusan Arumi dan gurunya itu.


Arumi terkenal dengan gadis yang baik hati dan ramah, dia tidak pernah menyakiti temannya dan dia selalu membela siapa yang ditindas. Semua orang di sekolah itu menyegani sosok Arumi.


"Iya juga, sih." Satria mengangguk.


"Yuk, pulang," ajak Aldo.


"Yuk," sahut kedua temannya.


Mereka pun melangkah menuju parkiran dan bersiap untuk pulang.


Begitu juga dengan Arumi dan Laras, mereka pun sudah selesai belajar tambahan bersama Ridho.


Mereka melangkah menuju parkiran, Arumi pun melajukan sepeda motornya meninggalkan sekolah.


Arumi melajukan sepeda motor gede miliknya dengan kecepatan sedang.


Saat Arumi melintasi jalan menuju perumahan Laras, mereka melihat ada kerumunan orang-orang.


"Ada apa tuh, Tas," tanya Arumi pada sahabatnya.


"Eh, iya ya, gue juga tidak tahu," jawab Laras polos.


"Sepertinya ada kecelakaan, deh," ujar Arumi.


Arumi dan Laras pun turun dari sepeda motor mereka melangkah untuk melihat kerumunan itu.


Arumi dan Laras membulatkan bola matanya melihat korban kecelakaan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2