
"Saya minta maaf, salah satu dari korban kecelakaan tidak bisa kami selamatkan, sementara itu yang satu lagi dalam keadaan kritis," jawab Salah satu dokter yang menangani korban kecelakaan tadi.
"Bolehkah saya menemui mereka?" tanya Tian tidak sabar untuk memastikan keadaan mereka berdua.
"Boleh, mari ikut saya," ajak sang dokter pada Tian.
Tian melangkah masuk menuju ruang pemeriksaan, terlihat dua berangkat yang berisi satu pasien yang sudah ditutup wajahnya.
Sementara itu pasien yang satu lagi terlihat tengah dipasangkan beberapa alat medis di tubuhnya.
Tian melihat dengan jelas Arumi tengah terbaring lemah.
"Arum, Arum," lirih Tian.
Tian menghampiri tubuh yang kini sudah terpasang alat medis di dalam ruangan itu.
"Dokter, lakukan semua hal untuk kebaikan gadis ini. Dokter, lakukan yang terbaik untuknya," pinta Tian.
Tian sangat terpukul dengan apa yang menimpa kekasihnya. Tian menyesal telah membiarkan Arumi pulang bersama supirnya.
Tian mengabaikan keadaan pak Didin yang kini sudah tiada di samping tempat tidur Arumi dia tenggelam dalam kesedihannya.
"Kamu akan berusaha melakukan hal yang terbaik untuknya, dan semua keputusan berada di tangan Nya," ujar Dokter menenangkan Tian.
Tian terduduk lemas di lantai, dia kini menangis.
Ridho melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya. Ridho melihat kesedihan yang mendalam pada diri sang sahabat. Terlihat dengan jelas bahwa Tian benar-benar mencintai Arumi.
Ridho menghampiri sahabatnya, dia pun mengajak Tian keluar dari ruangan itu karena petugas medis akan memindahkan Arumi ke ruang rawat yang memiliki alat medis yang lebih lengkap.
Arumi butuh perawatan intensif agar dia dapat melewati masa kritisnya.
Semalaman itu, Tian berada di rumah sakit. Dia menunggui Arumi yang kini masih terbaring lemah di atas tempat tidur.
Hingga saat ini Arumi juga belum bisa sadarkan diri.
"Tuan, apakah anda keluarga pasien?" tanya salah seorang perawat pada Tian.
"Bu-bukan, sa-saya temannya," jawab Tian.
"Bisakah tuan menghubungi keluarganya? Kami harus memberitahukan keluarga pasien tentang kondisinya saat ini." Perawat mengingatkan Tian untuk menghubungi keluarga pasien.
Akhirnya Tian pun menghubungi Tuan Arnold dan mengatakan bahwa dirinya saat ini tengah berada di rumah sakit menemani Arumi yang kini dalam keadaan kritis.
__ADS_1
Dua jam setelah kabar yang disampaikan Tian pada mereka, Nyonya Moura dan Tuan Arnold sampai di rumah sakit.
Nyonya Moura dan Tuan Arnold langsung menghampiri Tian yang duduk di kursi panjang ruang perawatan Arumi.
"Nak Tian," panggil Tuan Arnold.
Tian mengangkat kepalanya, dia pun berdiri.
"Bagaimana keadaan Arumi?" tanya Tian Arnold mengkhawatirkan keadaan putrinya.
Tian pun mengajak Tian Arnold dan Nyonya Moura untuk masuk ke dalam ruang rawat Arumi.
"Arum, hiks," tangis Nyonya Moura pecah.
Tuan Arnold langsung memeluk tubuh istrinya.
"Pi, putri kita, hiks." Nyonya Moura tak kuat menahan tangisnya.
Dia merasa hancur saat melihat putrinya yang terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya tuan Arnold pada Tian setelah mereka keluar dari ruang rawat Arumi.
"Mhm, menurut berita dari saksi mata yang ada di sana, mobil yang dikendarai Almarhum Pak Didin ditabrak oleh sebuah truk." Tian menjelaskan apa yang sudah diceritakan oleh warga yang ditanyai oleh Tian saat dia berada di TKP.
"Lalu bagaimana kamu bisa bersama dengan Arumi," tanya Tuan Arnold heran melihat keberadaan Tian di rumah sakit.
Akhirnya Tian pun menceritakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan putri pengusaha sukses yang kini berada di hadapannya.
Tuan Arnold tidak percaya, tapi dia senang dengan apa yang diceritakan Tian padanya, itu artinya setelah ini akan ada seseorang yang akan menyayangi putrinya dan menjaganya dengan baik.
"Maaf, Tuan. Apakah kami bisa bicara dengan keluarga pasien yang bernama Arumi?" seorang perawat datang menghampiri mereka yang sedang berbicara.
"Saya tapi Arumi, Suster." Tuan Arnold langsung memperkenalkan dirinya kepada perawat tersebut.
"Baiklah, Tuan, mari ikuti saya dokter yang menangani pasien yang bernama Arumi ingin berbicara dengan keluarga pasien," ujar si perawat mengajak Tuan Arnold dan nyonya Moura untuk bertemu dengan dokter.
"Baiklah, Sus."
"Tian, Om dan Tante ketemu dokter dulu." Tuan Arnold dan nyonya Moura pun melangkah mengikuti si perawat menuju ruang dokter.
Sesampai di depan ruang dokter, perawat tersebut mengetuk pintu lalu membuka pintu tersebut.
"Dok, keluarga pasien yang bernama Arumi sudah ada di sini," ujar si perawat memberitahukan kedatangan Tuan Arnold dan nyonya Moura pada dokter.
__ADS_1
"Silakan, masuk," perintah sang dokter.
Tuan Arnold dan nyonya Moura masuk ke dalam ruangan sang dokter, mereka pun duduk tepat berhadapan dengan dokter yang telah menangani keadaan putrinya saat ini.
"Maaf, Tuan. Saya harus menjelaskan keadaan pasien saat ini," ujar sang dokter mengawali pembicaraan mereka.
Tuan Arnold dan nyonya Maura masih diam menunggu lanjutan dari perkataan sang dokter.
"Saat ini pasien mengalami traumatic brain injury yang mengakibatkan pasien mengalami koma, kami akan menindaklanjuti masalah ini lebih cepat, kami harapkan keluarga tetap berdo'a dan memberi dukungan pada pasien," jelas sang dokter.
"Lakukan apa pun yang terbaik buat putri kami, Dok," pinta Tuan Arnold memohon.
"Kami akan melakukan apa saja yang bisa kami lakukan," ujar dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Tuan Arnold.
Saat ini hal yang bisa dilakukan oleh Tuan Arnold dan Nyonya Moura adalah memperbanyak berdo'a agar putrinya dapat melewati masa kritisnya.
Kedua orang tua Arumi pun keluar dari ruang dokter. Mereka melangkah menuju ruang rawat Arumi.
Di sana Tian masih setia menunggu Arumi yang belum sadarkan diri.
Nyonya Moura dan Tuan Arnold ikut duduk di samping Tian.
"Tian," lirih Tian Arnold.
Tian menoleh pada Tuan Arnold.
"Ada apa, Om?" tanya Tian.
"Kamu baru saja kembali dari perjalanan jauh, mungkin alangkah lebih baiknya kamu pulang terlebih dahulu untuk beristirahat, biar kami yang menjaga Arumi di sini," ujar Tuan Arnold merasa kasihan pada Tian.
Penampilan Tian saat ini sudah terlihat kacau dan amburadul.
"Tidak, Om. Aku akan menunggu Arumi di sini," bantah Tian.
"Om mengerti dengan apa yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu." Tuan Arnold menasehati Tian.
"Penampilanmu terlihat sangat kacau, Nak. Pulanglah, terlebih dahulu. Jika setelah itu kamu ingin menemani Arumi, kamu bisa datang lagi ke sini," ujar Nyonya Moura.
Nyonya Moura juga kasihan dengan Tian yang terlihat sangat sedih dengan apa yang dialami oleh Arumi.
"Tapi, Om, Tante. Aku sudah janji akan menjaganya, tapi,--"
__ADS_1
"Ini semua musibah, kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri," ujar Tuan Arnold menasehati Tian.
Bersambung...