Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 23


__ADS_3

Laras dan Arumi merasa tegang berhadapan dengan kepala sekolah yang duduk dengan wajah serius.


Pria yang terbilang masih muda menduduki jabatan sebagai kepala sekolah, penampilannya yang rapi dengan potongan rambut seperti TNI muat kharisma terpancar dari penampilannya.


Mereka pun menundukkan kepala karena mereka takut entah ada kesalahan mereka yang tidak mereka sadari sehingga dipanggil secara langsung oleh orang paling penting di sekolah mereka.


"Laras?" ujar kepala sekolah ingin mengetahui yang mana siswinya yang bernama Laras.


Beliau belum mengenal Laras dan Arumi secara baik karena beliau merupakan kepala sekolah baru.


"Saya, Pak," jawab Laras.


Sang Kepala sekolah mengangguk, dia dapat mengenali bahwa siswinya yang duduk di samping Laras bernama Arumi.


"Mhm, apakah kalian tahu kenapa saya memanggil kalian untuk datang ke sini?" tanya Pak Eka, sang kepala sekolah.


Arumi dan Laras menggelengkan kepala, karena mereka memang tidak tahu alasan sang kepala sekolah memanggil mereka.


"Baiklah, coba kamu lihat ini," ujar Pak Eka sambil menyodorkan selembar kertas yang berisikan surat undangan.


Laras mengambil kertas itu, lalu mereka membaca isi surat yang tertera di kertas itu.


Laras dan Arumi saling melempar pandangan, mereka terkesiap membaca isi surat tersebut.


Di sana tertera bahwa SMA Cendikia diundang untuk mengikuti lomba Sains tingkat nasional. Jika mereka meraih juara maka mereka akan menjadi kontingen Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara yang ada di Asia.


"Bagaimana, apakah kalian bersedia menjadi utusan dari SMA Cendikia?" tanya sang kepala sekolah.


"Mhm," gumam Laras dan Arumi tampak berpikir.


Saat kepala sekolah menunggu jawaban dari 2 siswinya. 2 orang guru mengetuk pintu kantor Kepala sekolah.


"Maaf, Pak kami terlambat," ujar Pak Ridho, guru Fisika di SMA Cendikia.


Salah satu guru tampan yang mengabdi di SMA Cendikia, penampilannya yang selalu rapi mengenakan kemeja serta dasi yang senada terpasang di bawah dagunya, membuat kharisma dan ketampanannya semakin menarik perhatian semua siswi di sekolah Cendikia.


Tak hanya siswa saja yang tertarik pada sosok guru tampan dan cerdas itu, beberapa guru perempuan yang masih single juga berlomba-lomba menarik perhatiannya.


Mata Arumi tertuju pada sosok yang berada di samping sang guru Fisika. Seorang guru Olahraga yang biasanya selalu mengenakan pakaian olah raga dan berpenampilan santai serta terlihat sangat sederhana.

__ADS_1


Kini dia melihat sosok guru sombong itu mengenakan kemeja yang rapi serta tak lupa di bawah dagunya terpasang dasi yang membuat penampilannya memancarkan kharismatik yang menawan.


Mata Arumi tak berkedip melihat sosok yang dibencinya tampak beda dari pada biasanya.


"Dia tampan sekali," gumam Arumi di dalam hati.


"Eh, Pak Ridho dan Pak Tian, silakan masuk," ujar Pak Eka dengan ramah.


Dua pria tampan itu masuk dan duduk di sofa yang terdapat di samping Laras dan Arumi.


"Ada apa gadis tengil ini dipanggil Kepala sekolah?" gumam Tian di dalam hati.


Dia penasaran dengan keberadaan gadis yang dibencinya juga berada di ruangan yang sama dengannya.


"Kebetulan Pak Ridho dan Pak Tian sudah datang. Saya meminta Pak Ridho dan Pak Tian datang ke ruangan ini untuk memberitahukan undangan yang tertuju pada sekolah kita. Undangan perlombaan Sains dan Olah Raga tingkat Nasional," ujar Pak kepala sekolah.


"Sekolah yang diundang dalam kompetisi ini hanya sekolah-sekolah terpilih yang sudah berturut-turut meraih juara dalam tingkat nasional," jelas Kepala sekolah lagi.


Tian dan Ridho mengangguk paham dengan apa yang disampaikan oleh Pak Eka.


"Untuk itu saya meminta Pak Ridho sebagai guru pendamping dalam kompetisi Sains, sedangkan Pak Tian sebagai guru pendamping dalam kompetisi Basketball," ujar Pak kepala sekolah.


"Bagaimana Arumi dan Laras, apakah kamu bersedia mewakili SMA Cendikia dalam kompetisi ini?" ujar Pak Eka.


"Baiklah, Pak kami bersedia," jawab Laras dan Arumi serentak menerima permintaan dari sang kepala sekolah.


Mereka sudah biasa mengikuti berbagai kompetisi, jadi bukan hal baru lagi bagi mereka mengikuti kompetisi tersebut.


"Pak Ridho, tolong bantu Arumi dan Laras dalam mempersiapkan diri mengikuti kompetisi ini. Sedangkan pak Tian saya minta bantuan Pak Tian untuk mempersiapkan Tim basketball SMA Cendikia untuk mengikuti kompetisi ini," ujar Pak Eka memberikan tugas pada 2 guru di ruangannya itu.


"Baik, Pak," sahut Ridho setuju.


Tian masih diam, dia ragu untuk menyanggupi permintaan sang kepala sekolah karena dia juga masih memiliki tanggung jawab mengurus perusahaan keluarganya.


"Bagaimana, Pak Tian? Apakah bapak bersedia membantu siswa kita?" tanya Pak Eka pada Tian.


"Baiklah, Pak. Saya akan usahakan," jawab Tian menyanggupi permintaan atasannya.


"Ya sudah, kalau begitu saya ucapkan terima kasih pada kalian karena sudah hadir di sini,' ujar Pak Eka.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun pamit dan keluar dari kantor kepala sekolah.


Laras dan Arumi berjalan tepat di belakang 2 pria tampan itu, saat mereka sudah berada di luar kantor.


"Laras, Arumi," panggil Ridho.


Arumi dan Laras berhenti mereka yang hendak melangkah menuju kelasnya.


"Iya, Pak," lirih Arumi dan Laras.


"Kalian tentukan jadwal kita belajar tambahannya, bapak akan sesuaikan dengan kegiatan bapak di luar sekolah, nanti pulang sekolah kalian temui bapak untuk memberikan jadwal kosong kalian," ujar Ridho dengan ramah dan penuh wibawa.


"Baiklah, Pak," sahut 2 gadis itu.


Arumi mengabaikan keberadaan Tian yang ada di samping Ridho, sementara itu Tian menatap pada gadis tengil yang dibencinya dengan tatapan remeh


Kali ini Arumi mengabaikan sikap Tian terhadap dirinya karena Arumi tidak ingin bermasalah dengan Tian jika mereka berada di dalam lingkungan sekolah.


Arumi tidak mau dia dicap sebagai siswa tidak memilik sopan santun pada guru, karena semua orang di sekolah itu mengenal Arumi sebagai siswi teladan.


"Ya sudah, silakan kembali ke kelas," ujar Ridho pada siswinya.


"Baik, Pak," sahut Arumi dan Laras.


Arumi dan Laras pun kembali ke kelasnya untuk melanjutkan mata pelajaran yang sudah tertinggal sebelumnya.


"Bagaimana, Bro. Sekarang kamu yakin kalau Arumi dan Laras merupakan siswi teladan di sekolah ini?" tanya Ridho pada sahabatnya.


"Mhm," gumam Tian setuju dengan ucapan Ridho.


"Bro, gue langsung cabut, ya. Satu jam lagi gue mau meeting," ujar Tian berpamitan dengan sahabatnya.


"Oke, hati-hati," ujar Ridho.


Ridho menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh melewati lorong sekolah menuju parkiran.


Tian melangkah keluar dari kawasan sekolah, dia sengaja memarkirkan mobilnya di seberang jalan sekolah agar tidak ada yang mengetahui status dirinya.


Dia melangkah menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan sekitar beberapa meter dari sekolah, dia masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan SMA Cendikia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2