Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
hari pernikahan


__ADS_3

pagi pagi sekali aku terbangun, aku terbangun karna mendengar suara bising,terdengar samar samar seperti ibuku yg sedang memanggilku, tapi rasa kantuk dan malas membuatku engga untuk beranjak dari tempat tidur, namun tiba tiba aku teringat bahwa hari ini adalah hari pernikahan ku


"ya tuhan aku berharap ketika aku membuka mata semua kembali seperti semula, tidak ada perjanjian kakek, ataupun pernikahan" ucapku.


tiba tiba saat ku buka mata "ayo rachelle sayang, segeralah mandi dan berpakaian hari ini, hari pernikahanmu, sangat tidak baik jika pengantin telat dihari pernikahannya".


sontak saja perkataan ibuku membuatku membuka lebar lebar mataku dan berkata dalam hati " astaga ternyata itu bukan mimpi ".


tak berapa lama aku segera mandi, memakai gaun pengantinku serta merias diriku, aku melihat diriku dicermin dan berkata, " bukan pernikahan seperti ini yg aku impikan tuhan",kataku dalam hati dibarengi dengar air mataku yg mengalir deras hingga membuat perias ku putus asa.


"yaampun sayang udah nangisnya ini riasannya jadinya jelek " rengek perias ku


kini tiba saatnya aku melangsungkan ijab qobul, jam menunjukan pukul 09:00,pernikahan kami diadakan disebuah masjid diderah bandung, jika pernikahan pada umumnya dihadiri ribuan tamu, berbeda dengan pernikahan ku yg hanya dihadiri belasan orang, itupun hanya segelintir orang yg ku kenal, karna notabennya hanya mengundang keluarga inti.


ijab qobul telah selesai dilaksanakan, kini aku SAH menjadi nyonya rafael kusuma," ya tuhan kini kehidupan bak neraka akan segera dimulai. " gumamku dalam hati.


setelah ijab qobul selesai, sungkeman selesai, serta foto bersama pun selesai, kini saatnya aku harus pergi menuju ke kediaman kusuma sebagai menantu, tidak ada acara resepsi karna keluarga masih belum mau pernikahan ku di ketahui publik, maklum pernikahan diusia kami ini banyak mendatang polemik, serta pikiran negatif dimasyarakat.

__ADS_1


aku brangkat ke kediaman kusuma bersama rafael, duduk berdua dengannya membuat ku gerah, bahkan selama didalam mobil dia hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


" apakah dia mendadak menjadi bisu, sehingga tak mengeluarkan sepatah katapun, atau dia belum menggosok giginya?, sehingga itu dia takut berbicara dengan ku? hmmmm, " ucapku pelan


namun alangkah sialnya aku, ternyata ucapanku didengar oleh rafael dan dia berkata " hmmmm diamlah, jika kau tidak bisa diam akan kuturunkan kau dijalanan"


aku pun kaget mendengarnya,


"apakah ini perkataan yg dikatakan oleh seorang suami kepada istrinya yg baru beberapa jam dinikahinya? dasar brengsek " umpat ku .


"apa katamu?? istri, suami, hah, hubungan kita ini tak lebih dari sebuah perjanjian, jadi kau tidak usah berharap lebih dariku, mengerti!! " .


mendengar perkataan yg keluar dari rafael aku semakin membencinya.


tak selang berapa lama kemudian sampailah kita di kediaman kusuma, rumah bak istana ini sekarang menjadi tempatku tidur. setelah mobil diparkir dihalaman, pintu mobilku pun dibuka oleh bodyguard "silahkan nona ",seraya membukakan pintu untukku.


didepan pelataran aku sudah disambut oleh beberapa pekerja rumah itu, belasan pelayan, supir, tukang kebun, beberapa pengawal, satpam bahkan seorang dokter. mereka tersenyum seakan akan hari ini memang hari bahagiaku,

__ADS_1


" apa apaan ini, mereka tersenyum begitu bahagia seakan akan aku ini seorang pengantin yg beruntung, huft mereka tidak tau saja jika pernikahan ku ini hanya sebuah perjanjian, bahkan laki laki yg berada disamping ku,yg akan ku sebut suami adalah salah satu alasan hancurnya masa depanku " kataku dalam hati.


setelah melewati para pekerja rumah tibalah aku masuk ke dalam kediaman kusuma, disana kami sudah ditunggu oleh nenek, iya nenek, dia tidak menghadiri pernikahan ku dan lebih memilih menyambutku dirumah, karna ia sudah tidak sanggup untuk melakukan perjalanan jauh ,maklum alasan kesehatan yg menjadi kendala, nenek tersenyum bahagia menyambut ku dan rafael.


" ini dia pengantin baru rumah ini " ucapnya dengan membuka tangan seakan ingin memelukku.


disaat aku dan rafael ingin menghampirinya rafael berkata lirih padaku, " tersenyumlah, meskipun itu senyum palsu, setidaknya pura pura bahagia dihadapan nenek".


tanpa sadar sedari tadi rafael memperhatikan ekspresiku, yg memang sedari tadi memperlihatkan ekspresi yg kurang senang, tapi mau bagaimana lagi aku memang tidak senang.


namun saat pertemuan pertamaku dengan nenek, beliau adalah seorang yg hangat,jadi aku akan berusah berpura pura senang meskipun sulit.


" baiklah, seperti ini senyumku sudah bisa dibilang bahagia? ", seraya memperlihatkan senyumku kepada rafael.


dan dia pun memperhatikanku dengan ekspresi datarnya.


huft....aku tak akan bisa membayangkan akan bagaimana hidupku besok dan seterusnya.

__ADS_1


__ADS_2