Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 56


__ADS_3

Pukul 17.00 semua siswa sudah berkumpul di lobby, Tian dan Ridho masih berada di kamar mereka, sementara itu Arumi dan Laras sudah di suruh turun terlebih dahulu dan ikut berkumpul bersama teman-temannya.


"Rum, sepertinya pak Tian naksir, lu deh," bisik Aldo di telinga Arumi saat mereka tengah duduk-duduk di sofa yang tersedia di lobby hotel.


"Lu apaan sih, Al," lirih Aldo.


"Tapi, kalaupun dia naksir lu, gue setuju aja, kok. Dia kan orangnya baik," ujar Aldo mengeluarkan pendapatnya terhadap hubungan Tian dan Arumi.


"Ih, jangan yang aneh-aneh deh, Al. Nanti malah jadi gosip," bisik Arumi berusaha menutup hubungannya dengan guru olahraganya.


Aldo kang pernah naksir dengan Arumi, tapi setelah dia berteman dengan Arumi, dia memilih untuk mengubur rasa cintanya dan tetap menjadi teman Arumi kapan pun dan di mana pun.


"Sudah, siap?" tanya Tian.


"Sudah, Pak," seru semua siswa yang sejak tadi menunggu Ridho dan Tian.


"Yuk," ajak Tian.


Di depan lobby hotel sudah terparkir mini bus yang akan membawa peserta didik Tian ke beberapa tempat yang biasa dikunjungi oleh wisatawan jika mereka berada di Korea.


Sebelum menikmati makan malam, Tian membawa siswanya ke Namsan Tower yang terdapat di tengah kota Seoul.


Di sana mereka berselfie ria mengabadikan keberadaan mereka di luar negeri.


Mereka berfoto mulai bersama-sama hingga seorang diri, semua orang sibuk mengabadikan kenangan dan pengalaman mereka selama berada di Korea.


Ada yang langsung update status FB, Ig, dan wa, sebagai bentuk rasa syukur sudah diberi kesempatan untuk berkunjung ke negara asing.


Arumi dan Tian juga tidak melewati moment ini, mereka berdua mengambil foto keseruan mereka berdua, mereka sengaja mengajak Laras ikut berfoto agar yang lainnya tidak curiga dengan hubungan mereka.


Di saat mereka tengah asyik berfoto, Betrand melihat beberapa hal yang mencurigakan menurutnya. Dia yang menyukai Arumi terlihat cemburu dengan apa yang dilakukan oleh guru olahraganya itu.


"Apa jangan-jangan, Pak Tian menyukai Arumi?" gumam Betrand menduga-duga apa yang terlihat di depan matanya.


Sekilas memang interaksi keduanya terlihat biasa saja, tapi setelah diperhatikan lebih seksama semua orang dapat melihat sorotan mata Tian dan Arumi yang menyiratkan sebuah rasa yang sulit diartikan.


Usai mereka berfoto ria di Namson Tower, Tian mengajak mereka ke Hongdae street, sebuah tempat yang biasa menjadi tempat tongkrongan para anak muda. Mereka akan menikmati makan malam di sana.

__ADS_1


"Anak-anak, kita akan kembali ke Indonesia lusa, setelah acara puncak kompetisi antar negara Asia. Berhubung jadwal kita esok hari kosong, maka kami akan mengajak kalian ke beberapa tempat yang harus kalian kunjungi selama berada di sini," ujar Tian mengumumkan rencana traveling yang sudah disiapkannya.


"Lu yakin, Bro?" tanya Ridho.


Ridho tahu, sahabatnya itu memang orang kaya tapi kalau keseringan mengajak siswanya traveling, dia akan menghabiskan uang dengan jumlah yang lebih besar dari gaji yang akan diterimanya sebagai guru pendamping melakukan perjalanan ini.


"Lu, tenang saja. Nick sudah mempersiapkan ini semua untuk kita," bisik Tian.


Ridho tak menyangka sahabatnya rela mengeluarkan uang yang banyak untuk perjalanan ini. Dia bersyukur bisa pergi bersama Tian sebagai guru pendamping.


"Wah, seru dong, Pak." Putra merasa senang karena lagi-lagi Tian mengajak mereka Traveling dengan biaya yang ditanggung oleh Tian.


Melihat sikap Tian, rasa kagum Arumi terhadap Tian semakin bertambah.


"Ternyata penilaianku selama ini terhadap dirimu salah besar, kamu pemuda yang baik dan tidak perhitungan," gumam Arumi di dalam hati.


****


Keesokan harinya, semua teman-teman Arumi sudah siap untuk melakukan perjalanan.


Tempat yang pertama kali akan mereka kunjungi adalah Bukchon Hanok Village, sebuah tempat yang menampilkan suasana pemukiman penduduk dengan tampilan Hanok yang bernuansa masa lalu.


"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Tian pada Arumi saat mereka sedang duduk di sebuah bangku yang ada di taman Nami Island itu.


"Mhm," gumam Arumi sambil mengangguk.


Dia tersenyum pada sang guru yang sudah menjadi kekasihnya itu.


"Bapak sudah sering ke sini, ya?" tanya Laras pada Tian penasaran.


Apalagi beberapa kali Laras mendengar Tian berbicara dengan penduduk Korea menggunakan bahasa Korea.


"Mhm, di bilang sering enggak juga. Saya ke sini di saat saya mengurusi urusan bisnis," jawab Tian apa adanya.


Tian sengaja berbicara apa adanya karena menurut Tian tidak ada yang harus disembunyikan dari Laras karena secara tidak langsung dia akan mengetahui tentang dirinya dari asisten pribadinya.


Satu hari mereka habiskan bersama dengan suka cita. Mereka mengunjungi beberapa tempat penting yang biasa dikunjungi oleh wisatawan.

__ADS_1


****


Acara puncak kompetisi di hadapan mereka, mereka sengaja menunggu acara pengumuman kejuaraan karena saat itu Laras menerima peringkat harapan 1 dalam bidang sains.


Mereka kembali ke Indonesia tidak hanya dengan tangan kosong. Mereka membawa piala perunggu dan sejumlah uang.


Mereka bersyukur dengan apa yang sudah mereka dapatkan, pengalaman berharga selama berada di negara oppa-oppa tersebut.


Usai acara penutupan mereka pun langsung kembali ke Indonesia menggunakan pesawat yang akan berangkat pada pukul 17.00.


"Akhirnya kita kembali ke Indonesia," lirih Arumi sudah tak sabar menginjak tanah kelahirannya.


Mereka kini sudah berada di bandara menunggu keberangkatan pesawat beberapa menit lagi.


"Iya, gue juga sudah tak sabar ketemu Bunda dan Ayah." Laras menimpali ucapan sang sahabat.


Tak berselang waktu lama mereka pun masuk ke dalam pesawat dan siap untuk berangkat ke Indonesia.


****


Mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta pada pukul 02.00 dini hari.


Semua keluarga peserta yang ikut sudah datang menjemput kecuali kedua orang tua Arumi, mereka tengah berada di luar kota.


Arumi melihat pak Didin sudah menunggunya, Pak Didin sudah datang menjemputnya.


"Papi dan mami kamu mana?" tanya Tian pada Arumi Setelah dia melepas semua siswa kembali pada keluarga mereka masing-masing.


"Mhm, papi dan mami masih berada di luar kota," jawab Arumi dengan raut sedih.


Meskipun dia merasa sedih, tapi Arumi tetap berusaha memperlihatkan bahwa dia tegar.


Arumi sudah terbiasa menjalani hari-hari tanpa kedua orang tuanya. Arumi mengerti keadaan yang kini tengah dijalaninya.


"Ya udah, kalau begitu. Aku akan antar kamu langsung ke rumah," ujar Tian menawarkan diri.


"Enggak bisa, kamu tidak bisa antar aku pulang, karena Pak Didin sudah datang menjemputku," ujar Arumi menolak tawaran Tian dengan halus.

__ADS_1


"Tapi, Rum," lirih Tian merasa khawatir membiarkan Arumi pulang bersama supirnya.


Bersambung...


__ADS_2