Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 64


__ADS_3

Laras semakin bingung saat melihat air mata yang membasahi pipi sang kekasih.


“Apa yang terjadi?” tanya Laras pada Nick.


“Maafkan aku, Ras. Aku tidak bisa menceritakan apa yang sedang terjadi. Saat ini, aku berada dalam dua pilihan. Dan aku terpaksa memilih pergi dan meninggalkanmu, aku harap kamu tidak membenciku,” ujar Nick jujur.


Masalah yang tengah dihadapinya membuat Nick harus meninggalkan wanita yang dicintainya, tapi dia hanya berharap suatu hari nanti dia masih dipertemukan dengan Laras.


Laras menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menerima keputusan Nick yang dianggapnya tidak adil baginya.


“Ini tidak adil, kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja, kamu harus menjelaskan alasannya,” pinta Laras pada Nick.


“Ras, selama ini hanya kamu wanita yang sudah mengisi hatiku. Aku akan selalu mencintaimu.” Nick masih bersikeras untuk menyembunyikan alasannya.


“Kamu jahat!” teriak Laras.


Laras pun hendak berdiri, tapi Nick langsung menarik tangan Laras. Nick memeluk tubuh Laras dengan erat.


“Jika kamu sanggup menungguku, aku akan kembali. Jika kamu tak sanggup menungguku carilah pria yang menyayangimu melebihi diriku,” pesan Nick.


Laras terdiam saat merasakan pelukan hangat yang diberikan Nick. Dia yakin Nick sangat mencintainya, hanya saja masalah yang dihadapinya membuat dia harus meninggalkan Laras.


“Aku mohon jangan pernah membenciku,” pinta Nick lagi pada Laras.


Laras berusaha menguatkan hatinya.


“Baiklah, jika memang itu pilihanmu. Aku akan selalu menunggumu,” lirih Laras.


Laras membalas pelukan erat dari Nick, dia tak lagi mempertanyakan alasan Nick. Laras berusaha menguatkan dirinya.


Setelah hari itu, Nick tidak lagi memperlihatkan wajahnya di hadapan Laras. Nomor kontak yang biasa dihubungi Laras pun sudah tidak aktif.


Sejak itu Laras berusaha menenangkan dirinya. Dia berusaha kuat dan melupakan kesedihannya terlebih setelah dia mengetahui kondisi Arumi yang sudah sadarkan diri tapi tidak bisa berjalan.


Laras bertekad akan memberi dukungan sepenuhnya pada sang sahabat, dia tidak akan bersedih di hadapan Arumi karena saat ini hanya dirinya yang dapat menghibur sahabatnya.


Sejak itu Nick dan Tian menghilang entah ke mana.


Flash back off.


“Dia memang laki-laki breng*ek,” ujar Arumi menilai Tian.


“Rum, gue tidak tahu persis apa yang terjadi pada mereka, tapi gue yakin mereka meninggalkan kita pasti memiliki alasan tertentu.” Laras berusaha meminta pengertian Arumi terhadap masalah yang dihadapi Tian dan Nick.

__ADS_1


“Dia hanyalah laki-laki pengecut, gue akan hapus dirinya dalam hati gue,” ujar Arumi penuh tekad.


Arumi kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Tian. Jika Tian datang menemui Arumi seperti yang dilakukan Nick akan beda halnya, sikap Tian yang pergi begitu saja membuat hati Arumi kembali membenci pria breng*ek itu, terlebih Arumi sempat melihat Arumi yang sudah sadarkan diri dari komanya.


Laras hanya bisa menghela napas panjang dengan sikap Arumi yang saat ini kembali membenci Tian. Laras tidak berhak melarang Arumi untuk membenci Tian.


****


Hari-hari terus dilewati Arumi dengan kekurangannya saat ini, dia tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya saat ini. Arumi mulai terbiasa dengan kondisinya saat ini.


Ujian semester pun berakhir hingga tibalah waktu liburan.


Di waktu liburan, Arumi sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti terapi berjalan dengan dokter yang menanganinya selama ini.


"Besok kamu sudah bisa mulai terapi," ujar dokter Tania pada Arumi.


"Terima kasih, Dok," ucap Arumi.


Keesokan harinya Arumi datang ke rumah sakit ditemani oleh Laras dan Betrand.


Sejak hari itu Betrand rajin mengantarkan Arumi pulang sehingga Arumi sudah terbiasa dengan kehadiran Betrand di sisinya.


Meskipun Betrand selalu mendampingi Arumi dalam berbagai hal, Laras pun tetap menyediakan waktunya bersama Arumi karena Laras tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dia selalu ikut di saat Betrand membawa Laras ke manapun.


Dengan sigap Betrand membantu Arumi untuk berdiri dengan perlahan.


"Ayo, Rum. Kamu harus semangat," seru Betrand menyemangati Arumi.


Arumi tersenyum mendengar ucapan Betrand yang memberi semangat pada dirinya untuk memulai terapi pertama.


Laras juga ikut tersenyum melihat keceriaan di wajah sahabatnya.


Meskipun dengan susah payah Arumi mulai terapi ini, Arumi tetap bersemangat dan tidak pantang menyerah.


Hampir 2 jam Betrand membantu Arumi untuk melakukan terapinya.


"Sudah, dulu untuk hari ini," ujar dokter yang memandu terapi hari ini.


"Tapi, Dok." Arumi masih ingin melanjutkan perjuangannya.


"Kamu bisa lanjutkan besok. Saraf-saraf kamu masih tegang, jadi kamu belum bisa memaksakan dirimu hari ini," nasehat dokter pada Arumi.


"Baiklah dokter terima kasih atas saran dan nasehatnya," ucap Arumi.

__ADS_1


Betrand menjabat tangan dokter sebagai ucapan terima kasih. setelah itu mereka pun keluar dari rumah sakit dan kembali ke mansion.


Sepanjang perjalanan menuju mansion keluarga Arnold, tak banyak suara yang keluar dari mulut Arumi, Betrand dan Laras.


Arumi tertidur di dalam mobil Betrand, dia terlihat sangat lelah setelah melakukan terapi.


Sesampai di depan mansion keluarga Arnold, Arumi masih tertidur.


Laras hendak membangunkan Arumi yang tertidur dengan pulasnya.


"Tidak usah dibangunkan," ujar Betrand.


Laras menautkan kedua alisnya, lalu dia melihat Betrand keluar dari mobil.


Dia membuka pintu mobil bagian tempat Arumi berada. Tian menggendong tubuh Arumi lalu membawa tubuh mungil Arumi masuk ke dalam mention keluarga Arnold.


Laras mengikuti langkah Betrand dari belakang.


"Ras, gue pulang duluan, ya." Betrand pamit pada Laras setelah membaringkan tubuh Arumi di atas tempat tidur.


Betrand memilih pulang daripada menunggu Arumi terbangun bersama Laras di mansion keluarga Arnold.


"Ras, gue pulang duluan, ya," ujar Betrand pamit.


"Iya, lu hati-hati di jalan, ya," ujar Laras.


"Siip," sahut Betrand, setelah itu Betrand pun keluar dari rumah Arumi, Laras mencatatkan Betrand hingga teras rumah.


Sore hari saat Arumi sudah terbangun, Laras dan Arumi duduk di pinggir Taman.


"Rum," lirih Laras.


"Ada apa?" tanya Arumi.


Dia menoleh ke arah sahabatnya.


"Gue perhatikan sepertinya Betrand menyukai lu, bagaimana menurut lu. Apakah lu juga merasakan sikap Betrand yang sangat baik sama lu," ujar Laras menyampaikan pendapatnya terhadap Betrand yang bersikap manis setiap hari pada Arumi.


"Mhm, entahlah. Gue sendiri juga bingung dengan sikap Betrand, tapi apa yang harus gue lakuin? Gue hanya menganggap Betrand sebagai sahabat tidak lebih dari itu," jawab Arumi.


"Gue tidak ingin membuka hati gue untuk siapa pun, gue tidak mau terluka untuk kedua kalinya. Cukup gue membenci pria bren*sek itu," ujar Arumi seketika mengingat hubungannya dengan Tian.


Arumi pun mengenang masa-masa saat bersama Tian selama di Korea. Tanpa disadarinya buliran bening mulai membasahi pipinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2