
"Alhamdulillah, luka yang dialami Arumi tidak terlalu parah," jawab Tian.
"Ini semua pasti gara-gara kamu!" tuduh Nyonya Moura tidak suka pada Tian.
"Maaf, Tante," lirih Tian shock mendengar ucapan Nyonya Moura.
"Arumi selalu mengalami nasib sial di saat dia sudah dekat dengan kamu!" bentak Nyonya Moura.
"Mi, tenang." Tuan Arnold berusaha menenangkan istrinya yang kini terlihat tidak suka dengan Tian.
"Papi enggak usah belain anak ini, setiap kali Arumi mulai dekat dengan Dia, nasib sial selalu menimpa putri kita," ujar Nyonya Moura lagi.
Entah mengapa, tiba-tiba Nyonya Moura mulai membenci Tian. Dia sama sekali tidak ingin melihat Arumi berdekatan lagi dengan pria itu.
"Istighfar, Mi. Ini semua sudah takdir," ujar Tian Arnold mengingatkan istrinya.
"Ma-ma-mi," lirih Arumi terbangun mendengar suara ribut maminya.
Tian hanya diam menunduk. Dia menyadari hal ini terjadi karena dirinya.
"Arum, kamu udah sadar, Nak," lirih Nyonya Moura menghampiri putri kesayangannya.
"Ma-mi kenapa marah?" tanya Arumi sedih.
Arumi sempat mendengarkan amarah maminya pada pria yang dicintainya.
"Ehem." Tuan Arnold berdehem lalu menghampiri putrinya.
"Mami tidak marah, Sayang. Mami hanya shock mendengar kabar kamu masuk rumah sakit," ujar Tuan Arnold mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Tian, terima kasih kamu sudah bawa Arumi ke rumah sakit," ujar Tuan Arnold pada Tian.
Dia yakin, Tian dengan susah payah membawa putrinya ke rumah sakit karena tuan Arnold melihat kemeja dan celana Tian penuh berlumuran darah.
"Ini salah aku, Om. Aku yang lalai menjaga Arumi," ujar Tian menyesali apa yang sudah terjadi.
"Tidak, kamu tidak salah. Ini sudah takdirnya," ujar Tuan Arnold dengan lapang dada.
Nyonya Moura terdiam mendengar ucapan sang suami dengan Tian.
Nick dan Laras baru saja sampai di parkiran rumah sakit, di saat mereka baru keluar dari mobil. Laras tidak sengaja melihat Betrand juga berada di parkiran tersebut bersama seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Dasar bodoh! Kenapa jadi salah sasaran?" bentak Betrand pada pria yang ada di hadapannya itu.
"Aku menyuruhmu membunuh Tian bukan Arumi!" bentak Betrand lagi.
Mendengar nama Tian dan Arumi disebut-sebut, Nick langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam percakapan antara keduanya.
Sedangkan Laras menutup mulutnya tak percaya mendengar apa yang direncanakan oleh Betrand.
"Aku tidak mau tahu, jika terjadi apa-apa dengan Arumi. Kalian semua akan aku bunuh!" bentak Betrand lagi dengan suara yang ditekan.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tian. Saya tidak tahu kalau Nona Arumi akan datang menyelamatkan pria itu," ujar si pria tersebut.
"Sekarang pikirkan cara untuk membunuh Tian, aku ingin pria itu cepat mati!" bentak Betrand lagi pada pria yang ada di hadapannya.
"Ba-baik, Tuan. Aku akan memastikan Arumi masih hidup atau,--" Betrand melangkah meninggalkan si pria tersebut.
Nick dan Laras berusaha sembunyi agar Betrand tidak mengetahui.
"Ya ampun, aku enggak nyangka Betrand berniat membunuh Pak Tian, padahal Pak Tian kan gurunya," ujar Laras setelah memastikan Betrand tak lagi berada di parkiran.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang rawat tempat Arumi berada.
Saat mereka sampai di ruang rawat Arumi, Betrand sudah berada di ruang rawat Arumi.
Nick dan Laras masih diam.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Betrand pada Arumi.
Pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Arumi.
"Gue baik-baik saja, lu jangan lebay gitu, deh," ledek Arumi melihat wajah Betrand yang mencemaskan dirinya.
"Gue cuma khawatir sama lu, Rum," ujar Betrand.
Pok pok pok, Nick bertepuk tangan melihat sandiwara yang dilakukan oleh Betrand.
Semua orang menoleh ke arah Nick.
"Apa maksud kamu, Tuan?" tanya Betrand pura-pura tidak tahu.
"Ras, perlihatkan rekaman tadi pada Tian Arnold dan Nyonya Moura," perintah Nick pada kedua orang tua Arumi.
Betrand masih diam, dia ingin melihat rekaman apa yang dimiliki Nick.
Betrand bersiap untuk lari saat dia mendengar pembicaraannya dengan pelaku yang menusuk Arumi tadi.
Namun, Nick sudah siap siaga mengunci pergerakan Betrand, tidak berapa lama polisi datang.
Mereka langsung menangkap Betrand, dan membawa Betrand dari ruangan rawat Arumi.
Arumi tak percaya dengan apa yang baru saja diketahuinya.
Tian merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Dia tak menyangka Betrand ingin membunuhnya.
"Apa alasan Betrand ingin menghabisi aku?" gumam Tian di dalam hati.
****
Di kantor polisi, Betrand sedang diinterogasi. Dengan susah payah polisi meminta Betrand buka mulut, akhirnya dia pun mengakui hal itu memang sengaja direncanakannya karena, Ayah Betrand meninggal dunia karena ulah Tian yang mengungkap kebusukan ayahnya saat menjabat di pemerintahan.
Ulah Tian mengakibatkan ayah Betrand stroke dan meninggal dunia. Beberapa kali dia mencoba membunuh Tian tapi selalu gagal.
__ADS_1
Dari pengakuannya Betrand pun di hukum penjara, sementara itu keluarga Arumi kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Betrand karena selama ini Betrand selalu berbuat baik terhadap Arumi.
****
Setelah keluar dari rumah sakit, Tian langsung meminang Arumi dengan tujuan dia benar-benar ingin melindungi Arumi di mana pun dan kapan pun.
Dengan berat hati, Nyonya Moura menerima lamaran itu karena tuan Arnold selalu memberikan masukan padanya bahwa Tian merupakan seorang yang baik dan bertanggung jawab.
Sebelum Arumi dan Tian menikah, mereka datang ke rumah keluarga tuan Basuki untuk menemui Kyomi.
"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Kyomi kesal pada Tian yang tiba-tiba datang.
Kyomi kesal melihat Tian yang datang ke rumahnya dengan membawa Arumi bersamanya.
Tian sengaja membawa Arumi untuk memperkenalkan calon istrinya pada sang mantan istri.
"Aku ingin bertemu dengan kamu," jawab Tian.
Kyomi masih saja menatap kesal pada Arumi.
"Sekarang sudah bertemu, lalu apa lagi?" tanya Kyomi ketus
"Kyo, aku datang ke sini ingin memberitahukan padamu bahwa sebentar lagi aku akan menikah dengan Arumi," ujar Tian jujur pada Sang mantan istri.
"Kamu tidak perlu lakukan itu," ujar Kyomi.
"Kyo, aku sengaja datang ke sini membawa Arumi karena aku ingin kamu mengenal calon istriku, dan aku ingin kita tetap berteman setelah perceraian kita selesai," ujar Tian tulus.
"Apa maksudmu?" tanya Kyomi lagi.
Arumi mendekati Kyomi, dia menggenggam tangan Kyomi dengan erat.
"Aku minta maaf hal ini harus terjadi, tapi aku tahu kamu tidak pernah mencintai Tian. Aku ingin kita berteman layaknya seorang kakak dan adik, meskipun kalian sudah bercerai. Tian akan bertanggung jawab atas kebutuhanmu setiap bulannya," ujar Arumi dengan lembut.
Perlahan Kyomi mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Arumi, akhirnya Kyomi pun menerima apa yang diinginkan oleh Arumi dan Tian.
Kyomi mengikhlaskan Tian dimiliki oleh wanita lain.
Akhirnya Tian dan Arumi pun menikah dan hidup bahagia.
Begitu juga dengan Laras dan Nick, mereka melakukan acara resepsi pernikahan secara bersamaan.
Tamat.
Readers yang baik hati...Author minta maaf harus menamatkan kisah Arumi dan Tian, karena sesuatu hal...
Author harap Readers bisa memakluminya...
πππ
Terima kasih atas dukungan yang kalian berikanπππ
__ADS_1