Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 29


__ADS_3

"Pagi, Mi, Pi," sapa Arumi saat dia baru saja masuk ke dalam ruang makan.


Di sana Nyonya Moura dan Tuan Arnold baru saja duduk di kursi meja makan.


Arumi mengecup pipi Papi dan maminya secara bergantian.


"Pagi, Sayang," ujar Nyonya Moura.


Tuan Arnold tersenyum melihat putri semata wayangnya sudah sembuh dan kembali ceria.


"Bi, aku mau sarapan roti aja, ya," ujar Arumi saat Bi Nah hendak mengambilkan Masi goreng untuknya.


"Oh, ya udah. Ini roti dan selainya, Bi Nah mau ambilkan susu untuk Nona dulu, ya," ujar Bi Nah sambil menyodorkan tempat roti tawar beserta botol selai pada putri majikannya.


"Makasih, Bi," ujar Arumi.


Arumi bergegas mengunyah roti yang sudah diberi selai coklat kacang kesukaannya.


"Sayang, makan pelan-pelan," ujar Nyonya Moura melihat cara makan putrinya yang mengunyah dengan cepat.


"Hehe, iya, Mi. Arum takut terjebak macet, Mi. Entah kenapa jalan kota Jakarta sekarang semakin padat saja," ujar Arumi.


"Iya, tapi jangan buru-buru seperti itu makannya." Nyonya Moura menasehati sang putri.


"Sayang, nanti pulang sekolah kamu ada kegiatan?" tanya Nyonya Moura sebelum putrinya berdiri dari tempatnya.


Arumi baru saja menghabiskan segelas susu yang telah disediakan oleh BI Nah, dia bersiap hendak berangkat.


"Iya, Mi. Aku ada pelajaran tambahan untuk persiapan kompetisi," jawab Arumi.


"Kompetisi?" ujar Nyonya Moura dan Tuan Arnold serentak.


Mereka belum mendapat kabar bahwa putri mereka kembali menjadi peserta kompetisi karena Arumi belum sempat memberitahu kedua orang tuanya tentang kompetisi itu.


"Iya, Mi, Pi. Arum akan mengikuti kompetisi sains tingkat nasional yang akan diadakan dua minggu lagi, jika Arum menang dalam kompetisi ini Arum dan Laras akan mengikuti kompetisi tingkat Asia di Korea Selatan setelah itu," jelas Arumi.


Nyonya Moura menoleh ke arah sang suami, dia merasa bangga terhadap prestasi yang dimiliki oleh sang Putri.


Dia tidak menyangka putrinya dapat meraih prestasi yang gemilang meskipun mereka tidak bisa memberikan perhatian lebih terhadap sang putri dikarenakan sibuk dengan pekerjaan.

__ADS_1


Nyonya Moura berdiri dan melangkah mendekati Sang Putri.


"Terima kasih, Sayang. kamu memang satu-satunya putri kami yang sangat membanggakan, kamu tetap bersemangat mencari ilmu meskipun mami dan papi jarang di rumah memberikan perhatian lebih untukmu," ujar Nyonya Moura sambil memeluk putrinya.


"Iya, Mi." Arumi tersenyum.


"Maafkan mami dan papi yang sering meninggalkan kamu sendiri," ujar Moura penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, Mi. Arumi tahu dan mengerti mami dan papi sibuk juga untuk kebahagiaan Arumi," ujar Arumi berbesar hati.


"Ya udah, Mi. Arumi berangkat sekolah dulu ya, Mi, Pi, Arum takut terlambat," ujar Arumi lalu dia pun berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Arumi melangkah keluar rumah setelah mencium pipi kedua orang tuanya.


Dia menaiki sepeda motor gede miliknya lalu meninggalkan pekarangan mansion keluarga Arnold.


Dia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan kota yang masih terlihat sepi belum dipadati oleh kendaraan lain.


Arumi sampai di depan pagar sekolah setelah dia menempuh 20 menit perjalanan dari mansion keluarga Arnold.


sampai di sekolah Arumi langsung memarkirkan sepeda motor gedenya. di saat itu Arumi melihat Tian juga tengah memarkirkan sepeda motornya.


Tian turun dari sepeda motornya, dia sempat melihat Arumi yang masih berdiri di parkiran.


Tian melangkah meninggalkan parkiran menuju ruang majelis Guru lalu bersiap-siap untuk masuk ke dalam kelas.


Sambil menunggu bel masuk berbunyi Tian memilih untuk duduk santai dengan Ridho di sebuah bangku panjang yang terdapat di lorong sekolah.


Sementara itu Arumi memiliki ide untuk membalas dendam apa yang sudah dilakukan oleh Tian terhadap dirinya.


Arumi melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu 15 menit lagi, lihat aja guru songong yang menyebalkan itu akan aku balas," gumam Arumi di dalam hati.


Dendam di hati Arumi semakin membara saat mengetahui bahwa Tian adalah orang yang sudah memasukkan bubuk cabe ke dalam piringnya waktu itu sehingga alumni mengalami sakit perut dan dirawat di rumah sakit.


setelah Arumi keluar dari rumah sakit dia meminta Laras untuk meminta rekaman CCTV yang ada di cafe pada hari Arumi menyantap makanan pedas itu.


Di dalam rekaman CCTV tersebut terlihat dengan jelas kamera menangkap sosok Tian yang melakukan perbuatan tersebut.

__ADS_1


Arumi menunggu sekitar lapangan mulai sepi, setelah itu dia mengambil sebatang kayu yang tergeletak di atas tanah.


Dia menggunakan kayu tersebut untuk mengempeskan ban motor butut milik Tian.


"Ini belum seberapa dari apa yang sudah kamu buat tunggu saja pembalasanku selanjutnya," Arumi di dalam hati penuh dendam.


Gadis cantik itu pun mulai melangkah menuju kelasnya setelah misinya selesai.


Arumi melintasi 2 guru tampan yang tengah asik mengobrol, di saat itu Arumi dapat melihat dengan jelas Sang Guru tampan yang sombong itu tengah menatap dirinya, dia mengabaikan hal itu lalu berjalan di depan kedua guru tampan tersebut.


"Arum," panggil Pak Ridho saat melihat siswi teladannya melintas di hadapannya.


"Iya, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Arumi menawarkan kedua alisnya.


"Iya, Rum." Pak Ridho mengangguk.


"Kamu sudah sembuh?" tanya Pak Ridho penuh perhatian.


"Alhamdulillah, sudah, Pak," jawab Arumi.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Pak Ridho.


"Iya, Pak. Syukur saya tidak mati karena racun yang diberikan oleh seseorang ke dalam makanan saya waktu itu," ujar Arumi sambil menarik ke arah Tian.


Arumi sengaja menyindir sang guru tampan yang sombong itu agar Tian sadar bahwa perbuatannya sudah membuat Arumi masuk rumah sakit.


"Hah? Racun?" Pak Ridho mengerjakan tahinya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Arumi.


"Iya, Pak. Waktu itu saya makan di sebuah cafe dan seseorang sudah memberi sesuatu ke dalam makanan saya," ujar Arumi menjelaskan.


"Untung saja kedua orang tua saya tidak menuntut seseorang itu karena saat ini saya sudah memiliki bukti kejahatannya," tambah Arumi sengaja menakut-nakuti sang guru tampan nan sombong.


"Apa? Apakah dia juga tahu bahwa aku yang sudah melakukan hal itu," gumam Tian di dalam hati.


Arumi tersenyum sinis saat melihat wajah Tian yang sudah pucat mendengar ucapannya.


"Ya ampun, zaman sekarang masih saja ada orang yang berbuat jahat dengan ceroboh," ujar Pak Ridho menanggapi ucapan Arumi


Arumi tersenyum mendengar ucapan Pak Ridho.

__ADS_1


"Benar, Pak. Orang itu benar-benar ceroboh, saya tidak habis pikir dengan kecerobohan orang tersebut," ujar Arumi terus-terusan menyindir sosok Tian di hadapan Ridho.


bersambung...


__ADS_2