Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 37


__ADS_3

Tian yang melangkah di dekat Arumi langsung meraih tubuh Arumi yang hampir saja jatuh ke lantai sehingga Arumi jatuh tepat di dalam pelukan tubuh kekar si guru tampan itu.


Kini mata mereka saling beradu, Tian menatap dalam bola mata indah milik gadis tengil yang dulu sempat dibencinya, entah mengapa kini ia ingin terus menatap bola mata indah siswinya itu.


Arumi juga menatap bola mata hitam nan tajam milik guru sombong yang tidak disukainya.


Sesaat Arumi terpukau dengan ketampanan yang terpancar dari wajah sang guru, aroma maskulin yang menyeruak menusuk hidung Arumi membuat dirinya semakin terbang melayang.


Dia hilang kesadaran akan kebenciannya terhadap sosok pria yang kini memeluk erat tubuhnya.


"Arum, lu baik-baik saja, kan?" tanya Laras mencemaskan sahabatnya.


Suara Laras membuat akal sehat Arumi kembali pada tempatnya.


Dia berusaha untuk berdiri, tapi Tian masih saja tenggelam dalam angan-angannya.


"Woi, lepasin gue!" bentak Arumi.


Mendengar teriakan Arumi, sontak Tian melepaskan Arumi, dengan susah payah Arumi berusahalah menyeimbangkan tubuhnya, hampir saja dia jatuh ke lantai.


Beruntung Laras langsung memegangi tangan sang sahabat.


"Lu, baik-baik saja?" tanya Laras memastikan.


Arumi mengangguk, lalu dia melangkah mengikuti langkah siswa lainnya.


Betrand melihat apa yang baru saja terjadi di antara Tian, dia merasa khawatir guru olahraga di sekolah barunya itu menyukai Arumi.


Tian masih terpaku memandangi Arumi dan Laras beserta siswa yang lainnya sudah keluar dari kafe.


"Ada apa, Bro?" tanya Ridho heran melihat sahabatnya mematung.


Dia baru saja membayar tagihan makanan mereka di kasir sehingga dia tidak melihat apa yang terjadi di antara Arumi dan Tian.


"Eh, enggak apa-apa," lirih Tian.


"Gue perhatikan akhir-akhir ini lalu sering bengong, deh," ujar Ridho heran.


"Masa, sih, sepertinya lu salah sangka, deh sama gue," bantah Tian.


Ridho mengangkat bahunya, lalu dia melangkah meninggalkan Tian.


"Woi, tungguin gue, Bro," teriak Tian pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Semua anggota tim basket sudah berada di gedung olahraga SMA Nusantara. mereka kini tengah berlatih sambil menunggu kompetisi dimulai.


Tian mulai fokus mengarahkan taktik yang akan mereka gunakan dalam kompetisi nantinya, sementara itu Arumi dan Laras duduk di bangku penonton bersama Pak Ridho.


Beberapa siswa dan siswi SMA cendekia mulai terlihat berdatangan untuk memberi support kepada tim basket dari sekolah mereka dalam kompetisi nantinya.


Mereka memilih duduk di bangku penonton dekat Arumi karena di sana masih banyak bangku yang kosong.


Tak berapa lama gedung olahraga itu pun dipenuhi oleh banyak siswa yang berasal dari SMA Cendikia dan siswa SMA negeri 1 Jakarta.


Kompetisi kali ini tim basket SMA Cendekia akan berlawanan dengan tim basket SMA negeri 1 Jakarta.


Terdengar wasit mulai membunyikan peluit, pembawa acara pun mulai mengarahkan jalannya kompetisi.


Peluit panjang dari wasit menandakan kompetisi akan dimulai, semua penonton yang ada di sana mulai bersorak mendukung tim mereka masing-masing.


Tim basket dari SMA Cendekia menggunakan taktik yang diberikan oleh Tian, itu dengan mudah mereka dapat mengalahkan tim basket SMA negeri 1 Jakarta.


Pertandingan kali ini terlihat biasa saja karena tidak terjadi persaingan yang begitu alot di antara kedua tim.


Babak pertama dan babak kedua dimenangkan oleh tim basket SMA Cendekia.


Tian tersenyum melihat kemenangan awal yang diraih oleh tim basket didikannya.


Tian teringat dengan masa-masa dia masih duduk di bangku SMA, dia merupakan salah satu atlet basket utusan dari SMA nya.


Di saat itulah Tian mendapatkan bola basket dari salah satu pemain terhebat di dunia, yang mana bola basket itulah yang di bawa oleh Arumi waktu itu.


"Wah keren, Bro, basket SMA Cendekia menang masalahnya pelatihnya atlet basket terhebat di Jakarta," ujar Ridho memuji sahabatnya.


Ridho juga tahu kemampuan sang sahabat dalam hal bermain basket.


"Selamat buat kalian," ujar Arumi pada Betrand, Aldo, dan Rendy yang kini sedang merapikan barang-barang mereka.


"Sama-sama, semoga kalian juga lolos tahap berikutnya," ujar Betrand.


"Aamiin," sahut Arumi dan Laras penuh harap.


Setelah itu mereka pun kembali, semua siswa diantarkan ke sekolah dengan menggunakan bus sekolah. Begitu juga dan Arumi karena mereka sama-sama berangkat dari SMA tadi pagi.


saat mereka baru saja sampai di depan sekolah, terdengar ponsel Arumi berdering.


Arumi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, terlihat di layar ponselnya nama maminya yang memanggil.

__ADS_1


Arumi langsung menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Halo," ujar Arumi setelah panggilan tersambung.


"Sayang, kamu lagi di mana?" tanya mami Moura pada Putri kesayangannya.


"Aku masih di sekolah MI baru saja pulang dari lokasi kompetisi, ada apa, Mi?" tanya Arumi heran.


Tidak biasanya mami Arumi menghubunginya.


"Sayang mami dan papi ada undangan makan malam di rumah rekan bisnis papi, kamu cepat pulang ya karena mami dan papi ingin kamu juga ikut dalam acara makan malam itu," ujar Maura menyampaikan tujuan dirinya menghubungi Sang Putri.


"Tapi, Mi. Aku masih berada di sekolah, aku juga harus mengantarkan Laras terlebih dahulu, Mi." Arumi menolak secara halus ajakan dari wanita yang melahirkannya.


"Sayang, mami dan papi sangat berharap kamu ikut dalam acara makan malam ini, jangan kecewakan mami, ya," pinta Nyonya Moura sedikit memaksa.


Panggilan itu pun terputus.


"Ada apa, Rum?" tanya Laras heran melihat wajah kusut sang sahabat.


"Itu lho, mami sama papi ngajakin makan malam bareng dengan rekan bisnisnya," jawab Arumi jujur.


"Ya udah, lu langsung pulang aja gue bisa naik angkot atau ojek online nanti," ujar Laras pada sahabatnya.


Laras tidak ingin Arumi menolak permintaan kedua orang tuanya hanya karena alasan akan mengantarkannya pulang.


"Tapi, Ras," lirih Arumi.


"udah deh lu tenang aja gue bisa kok naik angkot atau ojek online," ujar Laras.


"lu ikut gue sampai perempatan jalan sana, setelah itu lu bisa naik angkot satu jurusan," ujar Arumi merasa tidak enak pada sahabatnya karena selama ini Laras selalu pulang bersamanya.


"Ya udah terserah lu aja, gue ikut," ujar Laras.


Melihat teman-teman mereka sudah mulai pulang, Arumi pun mengambil sepeda motornya lalu melajukan sepeda motor meninggalkan kawasan SMA Cendikia.


Tak berapa lama mereka sampai di perempatan jalan, Arumi menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan.


"Maaf ya, Ras. gue cuma bisa antar lu sampai di sini," ujar Arumi merasa bersalah.


"Iya, enggak apa-apa. Lu tenang aja," ujar Laras sambil tersenyum.


Setelah itu Arumi pun mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan Laras di pinggir jalan.

__ADS_1


Gadis itu pun menunggu angkot, hampir 15 menit Laras menunggu angkot. Namun, dia belum melihat angkot jurusan rumahnya melintas di sana.


Bersambung...


__ADS_2