Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 83


__ADS_3

Kyomi tidak menyangka Tian akan membantah perkataannya.


Selama ini diam selalu tunduk dengan apa yang dikatakannya, dia merasa heran dengan sikap dia kali ini.


"Kamu sudah berani membantah apa yang aku katakan? apa jangan-jangan karena papa sudah pergi kamu berani melawan apa yang aku katakan?" ujar Kyomi kecewa.


Dia mengira Tian akan selalu tunduk pada dirinya, dan menuruti apa yang diinginkannya seperti biasanya.


"Aku sudah terlambat, aku harus pergi," ujar Tian memilih untuk meninggalkan istrinya.


Tian tidak ingin terjadi perdebatan antara dirinya dan sang istri.


Akhirnya dia masuk mobil begitu saja, dia langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Global Group.


"Apa jadwal hari ini?" tanya Tian pada Nick saat dia sudah berada di ruangannya.


"Hari ini kita akan melakukan kunjungan lokasi proyek pendirian apartemen di Bandung," ujar Tian.


"Itu artinya kita harus ke Bandung hari ini?" tanya Tian pada Nick.


"Iya, kita akan berangkat sekarang," ujar Nick.


"Kenapa mendadak begini?" tanya Tian.


"Bukan mendadak, agenda sudah dijadwalkan seminggu yang lalu, hanya saat saat itu lu masih sibuk dengan pemakaman tuan Basuki," ujar Nick memberi penjelasan.


"Ya sudah kalau begitu kita harus berangkat sekarang," ajak Nick.


"Baiklah," lirih Tian.


Setelah itu mereka pun melangkah keluar dari gedung perusahaan global Group.


Nick melajukan mobil meninggalkan gedung perusahaan global Group.


"Lho kenapa putar arah?" tanya Tian heran melihat Nick mengarahkan mobil di jalan yang bukan jalur menuju Bandung.


"Gue mau jemput seseorang," jawab Nick singkat.


"Oh," lirih Tian.


Dia tidak berkomentar lagi, dia membiarkan Nick fokus dalam mengendarai mobilnya.


Setelah itu, Tian pun asyik dengan iPad yang ada di tangannya sambil mengecek beberapa laporan yang belum sempat dilihatnya karena dia sibuk menemani istrinya yang masih dalam suasana berduka.


Saking fokusnya Tian dengan Ipad-nya, dia tidak menyadari Nick menghentikan mobil di depan lobi sebuah perusahaan besar di Jakarta.


Nick keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil bagian penumpang bagian belakang.


"Silakan, Nona," ucap Tian pada wanita yang sudah berdiri di samping mobilnya bersama sang sahabat.

__ADS_1


Arumi kaget saat melihat Nick yang keluar dari mobil yang ada di hadapannya.


Dia menoleh ke arah sang sahabat, Arumi menatap kesal pada sahabatnya.


"Jadi ini tumpangan yang akan membawa kita ke lokasi proyek itu?" bisik Arumi pada Laras.


Laras mengangguk sambil tersenyum dengan manis.


Mau tidak mau Arumi masuk ke dalam mobil, dia kaget saat melihat keberadaan pria yang sangat di bencinya tapi tak pernah hilang dari hatinya.


jantung Arumi berdetak dengan kencang, dia mulai grogi duduk di samping Tian.


Seketika Arumi teringat dengan kejadian di saat dia berada di dalam lift bersama Tian.


Dia merasa malu karena saat itu dia juga menikmati apa yang dilakukan oleh Tian terhadap dirinya.


Di saat mengetahui seseorang duduk di sampingnya Tian menoleh wanita yang kini sudah duduk di sampingnya.


Tian kaget melihat Arumi sudah berada di sampingnya, tapi dia sangat senang melihat gadis yang dicintainya kini berada dalam satu mobil dengannya.


Tak lama setelah itu Laras pun naik mobil di bangku bagian depan tepat di samping Nick yang sedang menyetir mobil.


Nick dan Laras asik bercerita di depan sambil menikmati perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.


perjalanan mereka kali ini bukanlah perjalanan yang singkat, mereka butuh waktu 3 jam untuk sampai ke Bandung.


Tian dan Arumi hanya bisa mendengarkan ocehan dan tawa dari dua insan yang kini menikmati kebersamaan mereka.


Dia berusaha keras untuk menganggap bahwa di dalam mobil itu hanya dirinya seorang tanpa adanya pria yang sedang saat ini.


baru saja mereka menempuh setengah perjalanan, Nick menghentikan mobilnya di sebuah kedai kopi.


"Kita ngopi dulu ya gue ngantuk banget," ujar Nick mengajak semua yang ada di dalam mobil untuk keluar dan menikmati secangkir kopi.


Laras dan Nick keluar dari mobil, antara itu Dian dan Arumi masih diam di dalam mobil.


Laras dan Nick saling berpandangan heran melihat sikap kedua sahabat mereka yang masih saja duduk diam.


Tian bingung harus ikut atau membiarkan Arumi seorang diri di dalam mobil.


Tian tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi pada wanita yang dicintainya itu.


Meskipun Arumi masih membenci, Tian akan tetap berusaha meraih cinta Arumi lagi.


Apalagi saat ini misinya sudah berhasil, Tian akan menaklukkan hati Arumi agar gadis itu mau memaafkan dirinya.


Tian akan menceraikan Kyomi, lalu dia akan meminta Arumi untuk menikah dengannya.


Nick menggedor jendela kaca mobil tempat Tian berada, seketika Tian membuka kaca jendela.

__ADS_1


"Lu enggak ikut minum?” tanya Nick pada sahabatnya.


"Mhm," Humam Tian.


Saat ini dia belum bisa menjawab pertanyaan dari Nick.


Tian hanya memberi ke arah Arumi sebagai jawaban pertanyaan dari sang sahabat.


"Ya udah, kalau begitu," ujar Nick.


Laras juga mengetuk jendela mobil di bagian tempat Arumi duduk.


"Ada apa?" tanya Arumi pada Laras.


"Lu enggak ikut minum kopi?" tanya Laras pada Arumi.


"Lanjut aja, gue lagi enggak pengen minum kopi," tolak Arumi.


Akhirnya Laras dan Nick meninggalkan mereka berdua di dalam mobil.


Ini menjadi kesempatan bagi Tian untuk dapat berbicara dengan wanita yang dicintainya.


"Rum, maafkan Aku," ujar Tian.


Lagi-lagi hanya kata maaf yang dapat diucapkannya, dia bingung untuk memulai menjelaskan apa yang sudah terjadi pada dirinya saat itu.


"Aku tidak butuh permintaan maaf darimu aku butuh penjelasan darimu," lirih Arumi tegas.


Arumi menatap Tian.


"Aku hanya ingin penjelasan darimu agar aku bisa menerima permintaan maaf darimu," lirih Arumi.


Akhirnya Tian pun mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi 4 tahun terakhir dengan sesingkat mungkin.


"Awalnya aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah lagi kembali ke sini, tapi demi mendapatkan apa yang seharusnya aku miliki, aku dan Nick kembali hidup di sini, memulai dari awal." Tian menutup penjelasannya.


Arumi terdiam, dia tak menyangka Tian mengalami hal yang sulit selama beberapa tahun ini, dia dapat membayangkan kehidupan keras yang sudah dijalani Tian selama diluar negeri.


Pengkhianatan dari rekan bisnis Tuan Farhan, Tian ikut merasakan sulitnya menjalani kehidupan.


"Seandainya waktu itu kamu tidak pergi, kamu bisa bekerja di perusahaan papa," ujar Arumi.


Arumi mulai luluh, diapun sudah memaafkan Tian.


"Selama ini aku belum bisa menceritakan hal ini karena aku belum mendapatkan hakku, tapi sekarang Piramids Group sudah ada di tanganku," ujar Tian.


"Bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan semua itu?" tanya Tian.


"Dengan menjadi menantu Tuan Basuki," lirih Tian.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah menikah?" tanya Arumi tak percaya.


Bersambung...


__ADS_2