Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 78


__ADS_3

Arumi terdiam, dia mengerti dengan ucapan Laras.


Jika saat itu Tian juga menemuinya sebelum pergi, mungkin Arumi bisa menerima alasannya, tapi sayang Tian pergi di saat dirinya butuh Tian untuk memberi semangat dalam musibah yang menimpanya.


"Rum, jika dia memang jodoh lu, dia akan kembali untuk lu," ujar Laras berusaha menghibur Arumi yang terlihat sedih.


"Enggak, Ras. Dia tidak pantas buat gue. Mungkin suatu hari nanti akan ada pria yang lebih baik dari dia menjadi jodohku," ujar Arumi membantah ucapan Laras.


"Kenapa, Rum?" tanya Laras.


"Gue tidak mau berhubungan lagi dengan pria itu, menurut gue dia adalah satu-satunya pria yang paling brengsek di dunia ini," jawab Arumi.


Terlihat dengan jelas kebencian yang mendalam di hati Arumi terhadap Tian.


"Rum, jika kamu tahu masalah yang saat itu harus dilewati oleh Tian, mungkin lu tidak akan sebenci ini dengannya," gumam Laras di dalam hati.


"Kamu dari mana saja, sih? Aku sudah lama menunggumu di sini!" Terdengar suara seorang wanita membentak seorang pria yang berdiri di hadapan wanita itu sambil menunduk.


Di belakang si wanita terlihat dua orang teman si wanita tengah menatap remeh pada si pria.


"Maaf," lirih si pria.


"Bayar semua tagihan makananku, kamu menyusahkanku saja," bentak si wanita lalu dia pun melangkah keluar dari kafe itu diikuti oleh dua temannya.


Perhatian Arumi dan Laras tertuju pada pria itu, mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


Arumi memperhatikan si pria yang menunduk, dia tak percaya pria itu adalah Tian sedangkan wanita yang baru saja membentak pria yang selama ini dikenal Arumi sombong dan angkuh itu adalah istrinya.


Kyomi lupa membawa dompetnya, sementara itu dia sudah berjanji dengan dua temannya untuk mentraktir makan. Akhirnya, Kyomi menyuruh Tian datang mengantarkan dompetnya.


Perlakuan Kyomi terhadap Tian tidak pernah ranah sama sekali, dia selalu berbuat kasar. Meskipun begitu Tian mencoba untuk bertahan hingga nanti dia sudah mendapatkan peluang untuk mengambil alih perusahaan keluarganya.


Tian pun melangkah menuju kasir, wajah tampannya yang sombong dan angkuh kini menahan rasa malu akibat perlakuan sang istri.


Arumi tak menyangka wanita yang bersama Tian itu bersikap kasar pada Tian, Arumi juga tidak melihat kesombongan yang selalu ditunjukkan Tian terhadap dirinya.


Sementara itu, Laras merasa kasihan pada Tian. Dia tak menyangka istri Tian akan memperlakukannya dengan tidak baik.


"Ras, ayo kita pergi sebelum Tian menyadari keberadaan kita," ajak Laras.


Arumi dan Laras pun berdiri dan melangkah keluar di saat Tian masih sibuk membayar tagihan makanan istri dan teman-temannya.

__ADS_1


Sedangkan Arumi meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribu di atas meja untuk membayar tagihan makanan mereka.


Arumi sedih melihat perlakuan Kyomi terhadap Tian, tapi dia cepat-cepat menepis rasa kasihan itu.


****


Hari-hari terus berlalu, Arumi dan Laras pun dapat menyelesaikan pendidikan mereka kini mereka sudah bergelar sarjana.


Mereka berdua masih tetap melanjutkan pendidikan mereka di universitas ternama di ibukota.


Di samping kuliah, Arumi sudah diberi kepercayaan oleh Tuan Arnold untuk melanjutkan semua usahanya, sedangkan Laras dipercaya sebagai asisten pribadi Arumi.


Mereka berdua dipercaya Arnold untuk mengelola perusahaan yang selama ini dirintisnya.


Hari ini adalah hari pertama Arumi melakukan meeting dengan beberapa klien yang bekerja sama dalam proyek pembangunan Apartemen mewah yang akan didirikan di pusat kota di daerah Bandung.


Dia sudah berada di ruang meeting, sebentar lagi para klien akan datang untuk membahas rancangan proyek tersebut.


"Kenapa gue jadi grogi seperti ini, ya?" tanya Arumi pada Laras yang berada di sampingnya.


Semua berkas presentasi sudah disiapkannya. Dia merasa gugup karena ini adalah hari pertama Arumi memegang proyek yang dipercayakan tuan Arnold padanya.


"Kamu siap, Sayang?" tanya Tuan Arnold yang baru saja masuk ke dalam ruang meeting.


Putri papi adalah gadis yang hebat dan pintar, Papi yakin kamu pasti bisa melakukan ini," ujar Tuan Arnold.


"Makasih, Pi." Arumi tersenyum.


Tak berapa lama beberapa orang klien datang dan mereka langsung duduk di tempat mereka masing-masing.


Di saat meeting akan di mulai, Tian datang bersama Nick.


Mata Tian tertuju pada gadis cantik yang duduk di kursi utama ruangan itu, gadis itu terlihat cantik dan anggun dengan penampilannya yang sangat anggun.


Seketika Tian teringat masa-masa 4 tahun yang lalu, di saat itu Arumi tidak pernah berdandan, dia selalu mengikat asal rambutnya. Penampilannya pun sederhana tidak seperti yang kini dilihat oleh Tian.


"Kamu semakin cantik, Rum," lirih Tian.


Tuan Arnold melihat kedatangan Tian, dia kaget melihat sosok Tian yang ikut bergabung dalam meeting tersebut.


Mata Arumi melebar tak percaya di dalam ruangan tersebut juga hadir pria yang sangat dibencinya.

__ADS_1


"Rum, lu harus fokus." Laras berbisik di telinga sahabatnya meminta Arumi mengabaikan keberadaan Tian saat ini.


Sedangkan Nick dan Laras saling beradu pandang, mereka tersenyum tersipu.


"Gue harus abaikan keberadaan pria brengsek itu," gumam Arumi di dalam hati sebelum dia menyampaikan presentasi.


"Nona Arumi benar-benar hebat," puji seorang klien lalu menyalami Arumi.


Semua orang di ruangan itu pun mulai bertepuk tangan mengagumi presentasi yang dirancang oleh Arumi dalam proyek ini.


Satu persatu klien berdiri dan melangkah menghampiri Arumi memberi selamat atas keberhasilannya menarik perhatian semua klien.


Performa yang diberikan Arumi sangat memukau, meskipun dia melakukan presentasi dalam keadaan duduk.


Satu persatu klien keluar dari ruan meeting, semua klien menyalami Arumi begitu juga dengan Tian.


"Senang bekerja sama dengan anda, Nona," ujar Tian.


Setelah itu Tian pun hendak keluar dari ruang meeting tersebut.


"Tian," panggil tuan Arnold.


Tian dan Nick menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Tian pada tuan Arnold.


"Bisa ikut saya ke ruangan saya?" tanya Tuan Arnold pada Tian.


"Baiklah, Tuan," jawab Tian.


Arumi hanya diam menyaksikan papinya mengajak Tian ke ruangannya.


Setelah itu Tian Arnol, Tian dan Nick melangkah menuju ruangan Tuan Arnold


Mereka langsung duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Tuan Arnold menatap dalam pada Tian, sementara itu Tian merasa gugup dengan tatapan yang dilayangkan Tian Arnold terhadapnya karena Tian sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan terhadap putri tuan Arnold .


"Tian, sudah lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu saat ini?" tanya Tuan Arnold pada Tian.


"Mhm, Alhamdulillah saya baik, Tuan," jawab Tian pada.

__ADS_1


"Saya tidak menyangka setelah empat tahun lebih kamu pergi menghilang bagaikan ditelan bumi kini kamu muncul di hadapan kami sebagai rekan kerja, bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Tian Arnold penasaran alasan Tian pergi begitu saja.


Bersambung...


__ADS_2