
Dokter membuka kaca mata yang dikenakannya, dia mengelap kaca matanya yang basah karena keringat.
"Maafkan kami, kami hanya bisa berusaha tapi hanya Tuhan yang berkehendak, Tuan Farhan sudah meninggal dunia. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya," ujar Dokter.
Nyonya Sarah menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Ini tidak mungkin," teriak Nyonya Sarah histeris.
Dia mendorong tubuh dokter dan perawat yang berdiri di depan pintu. Nyonya Sarah berlari menghampiri suaminya.
"Pa, papa bangun! Papa jangan tinggalkan mama, Papa!" teriak Nyonya Sarah histeris dia tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dia mengguncang tubuh tuan Farhan yang kini sudah tak bernyawa lagi.
Tian melangkah perlahan masuk ke dalam ruang itu, dia menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Tian belum bisa menerima kepergian papanya, karena dia masih membutuhkan bimbingan papanya.
Tian menatap nanar pada mamanya yang kini hilang kendali, wanita renta itu terus mengguncang tubuh tuan Farhan.
Nick juga melangkah masuk ke dalam ruangan itu, dia menghampiri Nyonya Sarah lalu memeluk dengan erat tubuh Nyonya Sarah agar bisa tenang.
"Nick, bangunkan papamu! Tian Bangunkan papa Kalian, papa kalian cuma tidur, bangunkan papa kalian cepat!" teriak Nyonya Sarah semakin histeris.
Dokter dan perawat hanya bisa melihat mereka yang kini dirundung kesedihan.
"Papa!" teriak Nyonya Sarah.
Sesaat Nyonya Sarah jatuh, dia tak sadarkan diri. Nick langsung mengangkat tubuh Nyonya Sarah menuju Sofa.
Dokter yang melihat hal itu langsung menghampiri Nyonya Sarah yang kini sudah terbaring di atas sofa.
Tian yang bersedih atas kepergian papanya, kini mulai khawatir dengan keadaan mamanya.
Tian menghampiri sang mama, lalu dia duduk di sofa bagian kaki mamanya.
Tian memijat-mijat kaki mamanya yang mulai terasa dingin.
Dokter mulai memeriksa kondisi Nyonya Sarah. Dokter kaget saat dia tidak dapat merasakan denyut nadi Nyonya Sarah.
Dokter pun langsung mengecek jantung istri dari pasiennya yang baru saja meninggal dunia.
Dokter tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
"Bawa pasien ke ruang emergency!" perintah dokter dengan wajah panik.
Tian pun langsung mengangkat mamanya menuju ruang emergency yang terdapat tidak jauh dari ruangan tuan Farhan.
"Tunggu sebentar, Tian," ujar perawat pada Tian saat Tian sudah membaringkan tubuh mamanya di atas brangkar rumah sakit.
__ADS_1
Si perawat menuntun Tian untuk keluar dari ruang rawat itu.
Dengan terpaksa Tian pun keluar dari ruang itu dan memberi waktu pada dokter dan perawat untuk memeriksa Nyonya Sarah.
Tian ditemani Nick di luar ruang pemeriksaan, saat ini jasad tuan Farhan sedang dipersiapkan untuk dibawa pulang ke rumah.
"Nick, apa yang akan terjadi pada hidupku?" ujar Tian tampak putus asa.
Nick menepuk pundak sahabatnya.
"Sabar, Bro." Nick memberi semangat pada sahabatnya.
Ujian datang dalam hidup Tian secara bersamaan. Dia tak menyangka setelah papanya sakit dan meninggal kini mamanya juga sakit.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan, dia menghela napas panjang.
"Bagaimana keadaan mama saya, Dok?" tanya Tian pada sang dokter.
Tian sangat mengkhawatirkan kondisi sang mama.
Dokter menghela napas panjang, lalu dia pun menepuk pundak Tian.
"Kamu yang sabar, ya. Nyonya Sarah sudah tiada," lirih Dokter pelan.
Ucapan sang dokter bagaikan petir di siang bagi Tian.
Dia tak percaya, mamanya juga meninggalkan dirinya setelah papanya baru saja dinyatakan meninggal dunia.
Tian mulai hilang kendali, dia menarik kerah baju sang dokter.
"Dokter jangan main-main dengan saya," ujar Tian lagi dengan nada yang mulai meninggi.
Nick yang juga terpukul mendengar ucapan dokter berusaha menenangkan sahabatnya.
Dia memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. Akhirnya mereka pun sama-sama menangisi kepergian kedua orang tua yang sudah membesarkan mereka.
Selama ini mereka berjuang hanya demi membahagiakan mereka, kini mereka sudah pergi untuk selama-lamanya.
****
Tian memutuskan untuk memakamkan kedua orang tuanya di Indonesia.
Pagi ini setelah semua urusan selesai, Tian dan Nick berangkat ke Indonesia. Mereka terpaksa menjual semua yang ada untuk kembali ke Indonesia.
Mereka berencana untuk kembali ke Indonesia, dan mulai kembali menjalani kehidupan di Indonesia, tapi mereka tetap merahasiakan asal usul mereka.
Di Indonesia, Tian dan Nick makamkan jenazah kedua orang tuanya di TPU yang biasa digunakan untuk keluarga besar Atmaja.
Saat Tian dan Nick keluar dari kawasan TPU, seorang wanita datang menghampiri Tian.
__ADS_1
"Tian?" panggil wanita itu ambil memperhatikan Tian dengan seksama, dia terus mencoba memastikan bahwa dia tidak salah orang karena penampilan Tian saat ini jauh berbeda dengan biasanya.
"Tian dan Nick saling berpandangan, mereka mencoba mengingat sosok wanita yang baru saja memanggilnya
"Hei, kamu Tian, kan?" tanya sang wanita pada Tian.
"I-iya," lirih Tian.
Tian terus mencoba mengingat wanita yang tidak asing baginya.
"Kamu lupa denganku?" tanya si wanita.
"Siapa, ya?" gumam Tian lirih.
"Aku Karin, masa kamu lupa denganku, sih?" ujar Karin sambil tersenyum.
"Ya ampun Karin, kamu sekarang penampilannya sangat berbeda." Tian menepuk jidatnya.
Karin sekarang sudah mengenakan pakaian yang tertutup. Penampilannya juga terlihat mewah dan elegan.
"Ah, biasa saja. Sudah lama kita tidak berjumpa. Kita minum kopi dulu, yuk," ajak Karin sambil menunjuk sebuah kedai kopi di seberang jalan.
"Bagaimana, Nick?" tanya Tian.
"Boleh," sahut Nick.
Mereka bertiga pun melangkah menuju sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari TPU tersebut.
Mereka berjalan kaki menuju kedai kopi tersebut.
Mereka langsung masuk dan memesan kopi saat sudah duduk di sebuah tempat yang nyaman bagi mereka.
"Sudah lama aku tidak dapat kabar tentang kalian, apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" tanya Karin mulai membuka topik pembicaraan.
"Banyak," ujar Tian.
Tian sangat dekat dengan Karin, akhirnya Tian pun menceritakan perjalanan hidupnya 3 tahun terakhir.
"Tuan Basuki? Gue enggak nyangka dia akan berbuat seperti itu, jadi Global group sekarang adalah Piramids Group yang diganti namanya oleh Tuan Basuki, pria tua itu memang manusia tidak punya hati." Karin geram mendengar apa yang diceritakan oleh Tian.
Sepertinya Karin juga memilik dendam pada tuan Basuki.
"Bagaimana kalau aku bantu kamu untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakmu?" Karin menawarkan diri untuk membantu Tian merebut kembali perusahaan keluarga Atmaja yang sudah diambil oleh Tuan Basuki dengan cara licik.
"Bagaimana caranya?" tanya Nick langsung tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh Karin.
Nick juga geram dengan teman almarhum tuan Farhan yang sudah menipu temannya, sehingga mereka mengalami kehidupan yang sulit 3 tahun terakhir.
"Baiklah, setelah ini kita atur rencana untuk bisa merebut kembali Piramids Group," usul Karin.
__ADS_1
Bersambung...