
"Kalian sudah berjuang dengan baik, kalian adalah pemain terhebat dari SMA Cendikia. Kalian adalah pejuang hebat bagi kami. Apa pun yang terjadi kami tetap kagum pada kalian, bangkitkan semangat kalian. Kalah atau menang kalian tetap pejuang terhebat bagi kami." Arumi memberi semangat pada teman-temannya.
"Oh, iya. Ada satu hal yang harus kalian tahu, kalau kalian kalah itu artinya aku sama Laras akan berangkat ke Korea bareng tim basket SMA Nusantara, kalian rela membiarkan aku dan Laras pergi tanpa kalian?" tanya Arumi.
"Aku sama Laras berharap kalian pemenangnya, dan kita liburan bareng ke Korea!" teriak Arumi.
Gaya Arumi memberi support pada sahabatnya memang kocak, tapi hal itu dapat membangkitkan semangat yang menggelora di hati teman-temannya.
"Arum benar, kita harus lebih hati-hati dan waspada, tingkatkan kekuatan kita buat mengalahkan mereka," seru Aldo sebagai tim basket.
Hati teman-teman Arumi mulai tergerak, dan mereka bertekad untuk menang.
Setelah itu, Tian pun memberikan sedikit arahan pada mereka.
Peluit panjang kembali terdengar pertanda babak kedua akan dimulai.
Semua pemain kembali ke lapangan, kali ini mereka berganti posisi.
Satria yang memiliki kemampuan merebut bola dan yang paling lincah berada di posisi point guard, Rendy berada di posisi Shooting guard, Rahmat sebagai small forward, Aldo sebagai power forward, dan Betrand sebagai center.
Mereka akan menggunakan beberapa strategi dalam pertandingan kali ini.
"Stay keep one by one," teriak Aldo sebagai kapten.
Permainan dimulai, kali ini pertahanan tim SMA Cendikia semakin kuat, di babak awal Betrand yang selalu bermain sendiri menjadi pusat perhatian tim lawan, semua orang mulai mengepung Betrand agar dia tidak bisa mencetak skor.
Oleh karena itu, tim Basket SMA Cendikia mulai menggunakan strategi fastbreak sehingga dengan cepat mereka mencetak points.
Aldo yang bebas tanpa ada penjagaan dari lawan karena lawan fokus pada Betrand dengan bebas mencet tree point beberapa kali sehingga skors mereka meroket jauh meninggalkan skor lawan.
Akhirnya tim basket SMA Cendekia pun meraih kemenangan di penghabisan babak kedua. (Ya iyalah, yang menang tim SMA Cendikia karena author mau bawa tim basket ke Korea, kita lanjutkan kisah Arumi dan Tian di Korea, ya readersππ)
"Yeay!" teriak suporter dari SMA Cendikia.
Mereka melompat gembira. Suasana semakin riuh dan heboh dengan teriakan para suporter yang menggema.
Arumi dan Laras berlari menuju lapangan.
Aldo menatap bahagia pada Arumi.
"Korea we are coming!" teriak Aldo pada Arumi dan Laras.
Para pemain pun saling berpelukan, Ridho memeluk sahabatnya.
__ADS_1
"Selamat, Bro," ujar Ridho.
Tian membalas pelukan dari sahabatnya, dia ikut senang.
"Itu artinya kita ke Korea bareng, Bro," ujar Ridho bersemangat.
Sebagai guru pembimbing, mereka akan diikutsertakan dalam perjalanan menuju Korea tersebut karena kemenangan yang diraih oleh anak didik mereka tak luput dari hasil kerja keras mereka berdua sebagai pembimbing.
"Mhm," gumam Tian mengangguk.
Bagi Tian pergi ke Korea bukanlah hal yang istimewa karena untuk pergi ke luar negeri dia tinggal meminta Nick untuk mempersiapkan segalanya. Namun, perjalanan kali ini akan terasa beda karena dia akan pergi bersama gadis yang kini sudah mulai menarik perhatiannya.
Sedikit demi sedikit, Arumi membuat Tian mulai mengagumi dirinya. Selama ini kebencian yang ada di hati Tian terhadap Arumi hanya karena gadis itu berani menentang dirinya dan berani mengambil bola basket kesayangan miliknya.
****
Terik matahari mulai menyelinap di sela-sela tirai kamar sederhana milik Laras. Hangatnya mentari tak mengusik dirinya yang kini masih tertidur pulas di bawah selimut.
"Ya ampun, anak gadis ini masih belum bangun juga," gumam bunda Ranti saat membuka pintu kamar putrinya.
Dia menggelengkan kepalanya saat melihat putrinya masih tenggelam dalam lautan mimpi yang indah.
"Terima kasih," lirih Laras dalam tidurnya.
"Laras mimpi apa, sih?" gumam Bunda Ranti mencoba menebak mimpi putrinya.
Akhirnya bunda Ranti mendekati tempat tidur Sang Putri.
"Laras, bangun udah siang loh," ujar Bunda Ranti sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Putri semata wayangnya.
"Bun, aku masih ngantuk, lagian hari ini kan hari libur, Bun, biarkan aku tidur sebentar lagi," rengek Laras masih dalam keadaan menutup mata.
"Astagfirullah, kualat anak gadis masih tidur jam segini. Ayo, bangun, Nak." Bunda Ranti menggoyangkan tubuh Sang Putri.
"Aduh, Bun. aku masih ngantuk banget," ujar Laras.
Dia masih enggan untuk bangun dari tidurnya matanya masih terasa sangat berat.
"Aduh, Ras. Apakah kamu sudah shalat subuh?" tanya Bunda Ranti pada putrinya.
"Udah, Bun." Akhirnya Laras mulai perlahan membuka matanya.
"Udah siang, Nak. Ayo, bangun," ujar Bunda Ranti.
__ADS_1
"Ih, Bunda. Aku masih ngantuk." Laras mengucek-ngucek matanya.
"Tumben kamu masih ngantuk? Udah jam 10 lho," ujar Bunda Ranti sambil menunjuk jam di dinding kamar Laras.
"Hah? Jam 10? Bunda bohong," pekik Laras.
"Iya, Sayang. Kalau kamu tidak percaya lihat aja tuh jam," ujar Bunda Ranti.
"Ya ampun, Bun. Aku ada janji mau pergi sama teman," ujar Laras mulai panik.
Laras memang sudah janji akan pergi dengan Nick pada pukul 11.00 itu artinya dia hanya punya waktu setengah jam lagi untuk bersiap-siap.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Bunda Ranti heran.
Tidak biasanya sang putri panik kalau mau pergi dari rumah.
"Jalan, Bun," jawab Laras.
"Jalan ke mana, Ras?" tanya Bunda Ranti heran.
"Belum tahu, Bun. Liat nanti aja," jawab Laras.
Laras pun berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi, dia meninggalkan wanita yang sudah melahirkannya itu dalam kebingungan.
"Tumben Laras pergi jalan tidak kasih tahu ke mana? Anak itu mau pergi jalan sama temannya, eh teman? Emangnya temannya yang mana?" Bunda Ranti terus menerus bermonolog seorang diri.
Dia terus bertanya-tanya dengan siapa putrinya mau pergi.
Bunda Ranti dengan setia menunggu putrinya selesai mandi, dia ingin memperjelas lagi sang putri hendak pergi ke mana dan dengan siapa.
Tak berapa lama Laras keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit di kepalanya.
"Lho, bunda masih di sini?" tanya Laras heran saat melihat sang bunda masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Ras, bunda harus tahu kamu mau ke mana?" tanya Bunda Ranti penuh selidik.
"Ya ampun, Bun. Palingan aku cuma pergi jalan ke mall atau taman gitu," jawab Laras.
"Lalu kamu pergi dengan siapa?" tanya Bunda Ranti menatap putrinya.
"Mhm, a-aku mau pergi de-dengan,--" Laras tampak bingung harus menjawab apa.
Dia ragu untuk memberitahukan kedekatannya saat ini dengan Nick.
__ADS_1
Bersambung...