
Tim basket SMA Cendekia masuk babak semifinal. Kali ini mereka akan bertarung untuk dapat masuk ke dalam babak final.
Pertandingan kali ini Indonesia berlawanan dengan tim dari negara Thailand.
Pemain basket Tim Thailand terdiri dari beberapa orang peserta yang memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar dari tim basket SMA Cendikia.
"Gila, tubuh mereka jauh lebih besar dari kita," ujar Rendy saat melihat pemain yang akan menjadi lawan mereka.
"Postur tubuh mereka tidak menjadi tolak ukur bagi kita untuk menang, tetap menggunakan trik dan strategi yang sudah kita praktekkan selama ini." Tian memberi semangat kepada anak didiknya.
Pertandingan pun dimulai saat wasit mulai meniupkan peluit panjang. pertandingan kali ini berbeda dengan pertandingan sebelumnya, kali ini tim basket SMA Cendekia kewalahan melawan tim basket dari Thailand.
Mereka kalah dalam strategi dan postur tubuh. Tim basket dari Thailand bermain dengan baik dan memiliki kekuatan yang lebih kuat dari tim basket SMA Cendikia.
Sehingga tim basket dari Indonesia gugur dalam pertandingan kali ini. mereka tidak bisa melanjutkan perjuangan menuju babak final.
Meskipun Tian kecewa dengan hasil yang diraih oleh anak didiknya tapi dia tetap memberi semangat pada timnya.
Tian juga mengakui kehebatan dan kelincahan lawan dari anak didiknya, untuk itu dia tetap terus memberi semangat pada peserta didiknya.
"Kalian sudah melakukan yang terbaik untuk tim kita dan negara kita, mungkin saat ini kita belum memiliki peluang untuk menang semoga di lain waktu kita bisa meraih kemenangan tersebut," ujar Tian memberi semangat kepada anak didiknya yang kini terlihat bersedih.
"Kita sudah berjuang, Teman-teman, jadi jangan sedih, dong." Arumi juga ikut menghibur teman-temannya.
"Ya udah, ayo kita pulang," ajak Tian pada anak didiknya.
Semua anggota tim basket SMA Cendekia bangkit lalu melangkah keluar dari gedung olahraga universitas, mereka pun kembali ke hotel.
Tian menghentikan langkah semua orang saat mereka hendak masuk ke dalam hotel.
"Semuanya tolong diperhatikan, setelah ini kalian beristirahatlah, pukul 17.00 sore kita akan berkumpul di sini. Kita akan pergi ke suatu tempat," ujar Tian memberi pengumuman.
"Benarkah, Pak, kita mau ke mana?" tanya Rendy bersemangat.
"Kita pergi cari makan malam," jawab Tian.
Tian akan membawa para siswanya ke kafe milik salah satu rekan bisnisnya.
Di sana, mereka bisa menikmati makan malam yang lezat.
"Baik, Pak." Semu siswa terlihat riang dengan ajakan Tian.
__ADS_1
Ridho salut dengan temannya. Dia menepuk pundak Tian.
"Anak-anak beruntung memiliki pelatih basket seperti lu," puji Ridho setelah para siswa melangkah menuju kamar masing-masing.
"Apaan, sih, biasa aja kali. Lagian cuma sekali-sekali gue bisa nyenengin mereka," ujar Tian.
Tak berapa lama Nick datang menghampiri Tian.
"Gue ke kamar duluan, ya," ujar Ridho.
Ridho tahu saat ini Nick dan Tian akan berbicara hal yang serius tentang pekerjaan. Oleh sebab itu dia memilih untuk ke kamar lebih awal.
"Arum, Laras ikut bapak dulu, ya. Ada hal yang akan bapak selesaikan," ujar Tian pada Arumi dan Laras yang sejak tadi menunggu Tian mengantar mereka menuju kamar mereka.
"Iya, Pak," sahut Arumi dan Laras.
Mereka pun melangkah menuju sofa yang tersedia di pojok lobby hotel.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Tian pada Nick yang baru saja melakukan meeting dengan klien penting.
Kedatangan Nick ke Korea tidak hanya untuk bertemu dengan Laras melainkan dia memiliki urusan penting mengenai bisnis kuliner yang sudah berkembang beberapa tahun terakhir di negara Korea.
"Beres, kita akan buka cabang di beberapa tempat yang biasa dikunjungi oleh para wisatawan sehingga," jawab Nick serius.
Arumi dan Laras hanya diam menyaksikan keseriusan dua orang yang ada dihadapannya.
Mereka yang masih seorang siswa SMA belum paham dan belum mengerti tentang dunia perbisnisan. Mereka memilih untuk berselfie ria mengabadikan keberadaan mereka di Korea.
"Bagus," seru Tian setelah selesai membaca laporan yang diberikan oleh Nick.
"Lalu kapan lu balik ke Indonesia?" tanya Tian pada asisten pribadinya itu.
"Maunya bareng kalian, tapi besok kita ada meeting dengan klien penting," ujar Nick.
"Terus?" tanya Tian.
"Gue akan berangkat sore ini ke Indonesia," jawab Nick.
Laras menghentikan kegiatannya saat mendengar ucapan Nick.
Dia merasa sedih saat mendengar bahwa kekasihnya akan berangkat ke Indonesia.
__ADS_1
Padahal Laras masih ingin jalan-jalan bersama Nick berkeliling Korea.
Nick melihat ekspresi kekecewaan di wajah Laras, dia tersenyum pada gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya.
"Lusa kalian akan kembali ke Indonesia, kita akan berjumpa lagi," ujar Nick pada Laras di hadapan Arumi dan Tian.
Arumi dan Tian saling melempar pandangan, mereka tersenyum melihat dua sejoli yang kini tengah dimabuk asmara.
Wajah Laras berubah memerah menahan malu saat sahabatnya melihat dirinya yang takut ditinggal oleh kekasihnya.
"Ya udah kalau gitu selesaikan urusanmu dengannya," ujar Tian sambil melirik ke arah Laras.
Tian mengajak Arumi melangkah menuju sofa bagian pojok lainnya, memberi ruang untuk Laras dan Nick berbicara.
Nick berpindah ke sofa tempat Laras, dia menggenggam erat tangan gadis yang dicintainya.
"Maafkan, aku. Aku tidak bisa menemanimu hingga selesai, karena perusahaan membutuhkan aku." Nick menjelaskan posisinya saat ini.
Di saat Tian tidak berada di perusahaan maka semua hal akan bertumpu di pundak Nick. Dia harus bertanggung jawab dengan semua itu.
"Iya, aku enggak apa-apa, kok. Aku juga mengerti keadaanmu saat ini. Yang penting nanti kamu hati-hati di jalan dan tetap jaga hatimu untukku," ujar Laras pada Nick.
Nick mengangguk.
"Kamu tenang saja, aku akan menjaga diriku. Kamu di sini juga harus hati-hati. Kalau ada apa-apa kamu harus langsung menghubungiku," ujar Nick berpesan.
Laras mengangguk.
"Ya sudah kalau gitu aku harus berangkat sekarang, takut ketinggalan pesawat," ujar Nick.
Dia berdiri, diikuti oleh Laras. Setelah itu dia pun melangkah menuju mobil yang terparkir di depan lobby.
Laras pun melangkah menghampiri Tian dan Laras yang sedang asyik mengobrol setelah memastikan Nick sudah pergi.
Setelah itu, Tian pun mengantarkan Arumi dan Laras menuju kamar mereka.
Sejak kejadian yang menimpa Arumi, Tian selalu mengantar Arumi hingga kamar, meskipun masih ada 4 orang bodyguard yang selalu menjaganya.
Sesampai di depan pintu kamar, Laras masuk lebih awal.
"Ya sudah, habis ini kamu istirahat dulu, ya, nanti sore kita cari tempat makan malam yang seru," ujar Tian pada Arumi.
__ADS_1
Arumi mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Tian. Setelah itu dia pun masuk ke dalam kamarnya.
Bersambung...