
"Apa? Istri? Pak Tian sudah menikah?" tanya Laras tak percaya.
Laras tak percaya Tian bisa berpaling secepat itu dari Arumi, awalnya Laras bisa menerima alasan Tian pergi tanpa kabar karena perusahaannya sudah beralih tangan, tapi Laras tidak terima Tian menikah dengan wanita lain karena itu artinya Tian sudah mengkhianati cinta sahabatnya.
"Iya, Tian sudah menikah dengan putri Tuan Basuki," jawab Nick.
"Apa? Kenapa dia menikah dengan putri penjahat?" tanya Laras tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh mantan guru olahraganya itu.
"Iya, dia menikahi putri penjahat itu demi merebut semua yang seharusnya menjadi haknya. Selama ini keluarga Atmaja pindah keluar negeri di daerah terpencil untuk menghilang dari gosip dan berita yang beredar," ujar Nick.
"Aku tak percaya," lirih Laras.
"Tian memutuskan melakukan hal ini karena kejadian satu tahun yang lalu?" ujar Nick.
Nick masih menyimpan banyak cerita selama 4 tahun mereka tak berjumpa.
"Apa yang terjadi satu tahun yang lalu?" tanya Laras penasaran.
Satu tahun yang lalu.
"Sudah sore, Bro. Yuk, kita pulang," ajak Tian pada Nick yang masih asyik dengan pekerjaannya.
"Oke," sahut Nick.
Setelah itu, Nick dan Tian pun bersiap pulang ke rumah sederhana yang mereka miliki sejak mereka tinggal di desa itu.
Di desa yang jauh dari keramaian, tak banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan, sehingga dua sahabat itu memilih untuk membuka bengkel las, yang menjual jasa pembuatan pagar maupun teralis besi atau yang lainnya.
Meskipun penghasilan mereka tak banyak tapi, dapat membiayai kebutuhan mereka hari ke hari sehingga mereka hidup dengan cukup.
Mereka pulang menggunakan mobil legendaris yang sudah tua. Dua sahabat itu terus berjuang untuk menghidupi kedua orang tua mereka.
Saat mereka sampai di rumah, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Tian! Nick, tolong mama!" teriak Nyonya Sarah saat mendengar suara Tian dan Nick.
Tian dan Nick saling berpandangan lalu mereka berlari masuk ke dalam kamar kedua orang tua mereka.
"Tian, lihat papamu," Isak Nyonya Laras sambil merangkul tubuh sang suami dengan erat.
Terlihat Tian Farhan tengah kejang menahan rasa sakit di dadanya.
"Papa!" pekik Tian dan Nick.
__ADS_1
Mereka langsung menghampiri Tian Farhan lalu membawa tubuh pria tua itu ke dalam mobil, setelah itu mereka membawa Tuan Farhan menuju rumah sakit.
"Dokter, help me!" pekik Tian memanggil dokter setelah mereka sampai di rumah sakit terdekat dari desa tersebut.
Dua orang petugas kesehatan yang bertugas di ruang emergency langsung keluar dengan brangkar, mereka mengangkat tubuh tuan Farhan lalu membawanya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Tian memeluk tubuh mamanya yang saat ini takut bercampur sedih karena mencemaskan keadaan suaminya.
"Mama tenang, ya. Semoga papa baik-baik saja," ujar Tian membawa wanita yang sudah melahirkannya itu duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia di depan ruang emergency.
"Mama takut terjadi apa-apa sama papamu, Nak," Isak Nyonya Sarah sedih.
"Kita berdoa semoga papa baik-baik saja, mama harus tenang dulu," ujar Tian menguatkan mamanya.
Tak berapa lama setelah itu, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"How is my father? (Bagaimana keadaan papaku?" tanya Tian pada dokter.
"Kamu orang Indonesia?" tanya Dokter memastikan pasiennya berasal dari negara yang sama dengannya.
"Iya, Dok." Tian mengangguk.
"Keadaan pasien saat ini kritis, beliau mengalami bocor jantung, sehingga kerja jantungnya terganggu," ujar Dokter memberi penjelasan.
"Kita harus melakukan operasi secepatnya," ujar Dokter pada Tian.
"Apa?" Tian kaget mendapatkan kabar itu.
Setahunya selama ini tuan Farhan sehat-sehat saja, dia tidak pernah mengalami sakit pada jantungnya.
"Iya, hanya operasi jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa pasien," jelas sang dokter.
"Untuk melakukan tindakan, pihak keluar bisa menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu," ujar sang dokter.
Nick mendengar penjelasan dokter langsung melangkah menuju bagian administrasi.
Tak berapa lama Nick kembali, dia menghampiri Tian.
"Kita membutuhkan uang 50 ribu dollar untuk tindakan operasi itu," ujar Nick memberitahukan nominal yang diminta oleh pihak rumah sakit.
"Apa? Dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu?'' ujar Tian mulai panik.
Tian dan Nick terdiam sejenak.
__ADS_1
"Satu-satunya jalan kita harus menjual kafe yang ada di Korea," ujar Nick memberi usul pada Tian.
"Lakukan secepatnya, Nick. Gue tidak mau terjadi apa-apa sama papa,' ujar Nick langsung.
Saat ini harya mereka hanya kafe yang ada di Korea yang diurus oleh teman Tian yang berada di sana.
Tian sengaja menjadikan kafe itu sebagai aset untuk kehidupannya yang pas-pasan di desa terpencil itu.
"Tapi, Bro," lirih Nick membantah.
Nick tahu betul saat ini kafe di Korea yang menjadi sumber tambahan kehidupan mereka.
"Tidak ada tapi-tapian, Bro. Kita harus selamatkan nyawa papa," ujar Tian dengan nada yang mulai meninggi.
"Baiklah," lirih Nick.
Nick langsung menghubungi sahabatnya yang ada di Korea dan meminta sejumlah uang dikirimkan secepatnya dengan jaminan kafe milik Tian yang ada di Korea.
Tak berapa lama teman mereka yang ada di Korea langsung mengirimkan sejumlah uang yang diminta.
Nick langsung mengurusi administrasi yang harus dibayarkan untuk biaya operasi tuan Farhan.
Hari itu juga operasi langsung dilaksanakan untuk menyelamatkan nyawa pria yang paling disayangi oleh Tian dan Nick.
"Ma, mama pulanglah terlebih dahulu dengan Nick. Biar aku yang jagain papa di sini, apa pun yang terjadi nanti aku akan mengabari mama," ujar Tian pada mamanya yang terlihat lelah menunggu hasil operasi sang suami.
"Tidak, Sayang. Mama tidak bisa pulang, mama ingin selalu di dekat papamu,' tolak Nyonya Sarah.
Nyonya Sarah terlihat lusuh dan lelah, rambutnya berantakan, wajahnya kusut tak keruan.
Tian merasa kasihan pada mamanya yang terlihat semakin tua karena hidup mereka kini yang sudah tidak seperti biasanya yang serba ada.
Tian mengingat masa lalu mereka yang bisa melakukan apa saja sesuka hati mereka dengan harta yang melimpah, jauh berbeda dengan apa yang kini mereka jalani.
"Ma, seandainya aku punya uang yang lebih, aku tidak akan membiarkan mama tersiksa seperti ini. Maafkan aku, Ma," gumam Tian di dalam hati.
Tian mulai menitikkan air matanya, tanpa disadarinya buliran bening terus membasahi pipinya begitu saja.
Hatinya saat ini rapuh, tapi dia harus tetap kuat dengan apa yang kini harus dijalaninya.
Musibah yang menimpa keluarganya harus dihadapinya. Dia berusaha tetap bangkit agar kedua orang tuanya dapat hidup layak.
Bagi Tian saat ini adalah waktunya untuk membalas semua jasa kedua orang tuanya yang sudah membesarkan dirinya dengan harta yang berlimpah.
__ADS_1
Bersambung...