Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 24


__ADS_3

Tian langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Piramids Group, banyak berkas-berkas yang harus di tanda tangani ya sebelum melaksanakan meeting di luar perusahaan nantinya.


Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, karena jalanan di pukul 09.30 memang terbilang sepi, karena para pengendara sudah berada di kantor mereka masing-masing.


Tian menghentikan mobilnya tepat di lobi gedung Piramids Group, dia turun dari mobil lalu memberikan kunci mobilnya pada satpam yang berjaga di sana.


Dia melangkah masuk menuju lift khusus pejabat tinggi di perusahaan itu.


Langkahnya yang cepat menandakan dia tergesa-gesa, panggilan Ridho yang mendadak tidak bisa ditolaknya begitu saja karena statusnya sebagai guru dan bawahan dari seorang kepala sekolah. Ridho memberitahu Tian bahwa Kepala sekolah memintanya datang ke sekolah saat itu juga.


Tian masuk ke dalam ruangannya, dia langsung duduk di kursi kebesarannya lalu mulai menyentuh beberapa map yang sudah menumpuk di atas mejanya.


Satu jam dia berkutat dengan berkas-berkas yang harus ditanda tanganinya, dia berdiri dan melangkah menuju sofa lalu dia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa tersebut.


Baru saja dia meluruskan pinggangnya, terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Masuk," teriak Tian.


Nick melangkah mendekati Tian, dia duduk di single sofa yang terdapat di samping sofa yang ditempati oleh Tian.


"20 menit lagi jadwal meeting dengan perusahaan Atlantik," ujar Nick pada bosnya.


"Apakah semua berkas sudah disiapkan?" tanya Tian pada Nick.


"Sudah, kita bisa berangkat sekarang," ujar Nick berharap Tian bersiap untuk berangkat.


"Baiklah," ujar Tian.


CEO Piramids Group itu pun langsung bangun dari posisi berbaringnya, dia merapikan pakaiannya.


"Yuk, berangkat," ujar Tian pada sang asisten pribadinya.


Mereka melangkah keluar dari ruangan CEO Piramids Group.


Pada pukul 13.00 bel pulang sekolah berbunyi, Arumi dan Laras melangkah menuju ruang majelis guru.


Mereka ingin memberitahukan jadwal kosong mereka pada Pak Ridho, sebagai guru pembimbing mereka dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi Sains yang akan dilaksanakan sekitar 2 Minggu lagi.


"Maaf, Buk. Pak Ridho ada," tanya Arumi pada Buk Melly yang duduk di dekat pintu masuk ruang majelis guru.


"Mhm, itu." Buk Melly menunjuk ke arah Pak Ridho yang kini tengah dikerumuni oleh guru-guru perempuan yang berstatus single.


"Pak Ridho!" panggil Buk Melly dengan suara yang mengudara di ruang majelis guru.


Ridho yang sedang asyik bercanda dengan rekan-rekannya, seketika menghentikan candaannya, dia melangkah menghampiri dua siswi yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Ayo, ikut saya," ajak Pak Ridho.


Guru tampan dan berwibawa itu membawa Arumi dan Laras menuju meja miliknya, dia duduk di kursinya lalu dia meminta siswinya untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Bagaimana, apakah kalian sudah menuliskan jadwal kosong kalian?" tanya Ridho.


"Sudah, Pak," jawab Arumi sambil memberikan secarik kertas.


Bukan hal yang sulit bagi Arumi dan Laras untuk menyesuaikan jadwal karena semua kegiatan Arumi hampir sama dengan Laras.


Ridho mengambil kertas yang diberikan oleh Arumi. Dia membaca tulisan yang tertera di sana.


"Baiklah, menurut jadwal ini, kita bisa belajar pada hari Selasa, Rabu dan Sabtu setelah makan siang pukul 13.30," ujar Ridho mengambil keputusan.


"Baik, Pak." Arumi dan Laras mengangguk paham.


"Sampai jumpa besok sepulang sekolah, ya," ujar Ridho dengan ramah pada siswinya.


"Baik, Pak. Kami boleh keluar?" tanya Laras hendak pamit.


'Ya, boleh,' lirih Ridho.


Dua siswi itu pun keluar dari ruang majelis guru.


Mereka melangkah menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor Arumi, setelah itu Arumi melajukan sepeda motornya ke sebuah kafe yang ada di dekat lokasi les mereka.


Arumi memarkirkan sepeda motor gedenya di depan kafe, setelah itu mereka melangkah masuk ke dalam kafe.


Seperti biasa Arumi dan Laras memilih duduk di bagian pojok kafe, mereka sudah terbiasa menikmati makan siang di kafe ini setiap kali ada jadwal les Kimia.


"Mau pesan apa, Kak Arumi dan Kak Laras," sapa si pelayan yang sudah kenal dengan dua gadis pintar dan rajin ini.


"Seperti biasa," jawab Laras dan Arumi serentak.


"Siap, Kak," ujar si pelayan.


Mereka asyik mengobrol dan bercanda gurau, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan gerak gerik mereka.


Tak berapa lama mereka menunggu, si pelayan membawakan makanan yang mereka pesan.


"Terima kasih, Bang," ujar Arumi sambil tersenyum dengan ramah.


"Sama-sama, Kak Arum dan Kak Laras," ujar si pelayan yang selalu melayani 2 gadis baik hati itu.


"Selamat menikmati," ujar si pelayan sebelum meninggalkan Arumi dan Laras.

__ADS_1


"Ras, kunci motor gue mana, ya?" tanya Arumi pada sahabatnya.


Laras menautkan kedua alisnya.


"Lu tarok di mana tadi?" tanya Laras balik.


"Ya ampun, kayaknya ketinggalan di motor, deh," ujar Arumi sambil menepuk jidatnya.


Arumi bergegas berdiri dan langsung melangkah menuju parkiran untuk memastikan kunci sepeda motornya masih ada di sana.


"Dasar, pelupa," lirih Laras geleng-geleng kepala.


"Aduh, Arumi mana, sih. Mana gue kebelet pipis lagi," gumam Laras setelah beberapa menit Arumi meninggalkannya.


Laras pun berdiri dan melangkah menuju toilet, dia meninggalkan makanan mereka yang sudah terhidang di atas meja.


Saat itu, pria yang sejak tadi memandang pergerakan mereka memiliki ide untuk mengerjakan si bocah tengil itu.


Si pria melangkah menuju meja Arumi dan Laras lalu mengambil bubuk cabe yang tersedia di atas meja, lalu dia menaburkan bubuk cabe itu ke dalam makanan milik Arumi.


"Mampus, Lu. Gue akan lancarkan misi menyakiti lu," ujar Tian dengan senyum sinis di wajahnya.


Setelah itu, dia pun melangkah keluar dari kafe, saat dia hendak membuka pintu kafe.


BRUK.


Lagi-lagi Arumi tidak sengaja menabrak tubuh kekar sang guru menyebalkan.


Tian menghentikan langkahnya, dia menatap tajam ke arah Arumi.


"Kau!" bentak Arumi.


"Kalau jalan bisa liat- liat enggak, sih?" ujar Arumi kesal.


"Hei, anak nakal. Siapa yang jalan sambil menoleh ke belakang, hah?" balas Tian membentak Arumi tidak kalah kesalnya.


"Kau, benar-benar menyebalkan!" bentak Arumi.


Arumi menghantamkan lengannya pada tubuh Tian sebagai tanda kekesalannya pada pria itu.


Tian langsung meraih lengan Arumi sehingga Arumi jatuh ke dalam pelukannya.


Sehingga posisi mereka berada di jarak yang sangat dekat. Arumi dapat melihat bola mata berwarna biru milik Tian dengan sangat jelas, wajah tampan tanpa cacat itu membuat Arumi terdiam sejenak.


Aroma tubuh maskulin yang menyeruak dari raga sang guru menyebalkan itu serta aroma mint segar dari napasnya bagaikan menghipnotis Arumi untuk diam dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan itu.

__ADS_1


"Hei," lirih Tian sambil menjentikkan jarinya.


Bersambung...


__ADS_2