
"Arum, terapi hari cukup sampai di sini dulu. Kamu bisa mengikuti terapi 2 hari lagi, ya." Dokter menghampiri Arumi yang sedang beristirahat.
"Baiklah, Dok. Terima kasih, dokter sudah mendampingi saya," ucap Arumi.
"Ya sudah, kalau begitu saya tinggal, ya," ujar Dokter.
Arumi dan Betrand mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu sang dokter meninggalkan Arumi dan Betrand di ruangan itu berdua.
"Perkembangan hari ini jauh pesat," ujar Betrand memuji semangat Arumi.
"Haha, kamu bisa aja," lirih Arumi.
Betrand menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan, seketika wajah Arumi berubah merah karena menahan malu.
"Rum," lirih Betrand sambil menggenggam erat tangan Arumi.
Arumi melirik tangannya yang digenggam oleh pria yang selama ini selalu ada di saat dia membutuhkan.
"Mhm," gumam Arumi.
"Arum, selama ini gue,--"
Drrrttt drrrttt drrrttt.
Ponsel Arumi bergetar pertanda panggilan masuk. Hal itu memotong kata-kata Betrand
"Bentar, ya," ujar Arumi.
Arumi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia langsung menekan tombol hijau saat melihat nama Maminya tertera di layar ponselnya.
"Halo," ujar Arumi saat panggilan sudah tersambung.
"Sayang, kamu di mana?" tanya Nyonya Moura.
"Aku masih di rumah sakit, Mi," jawab Arumi.
"Mhm, udah selesai terapi nya?" tanya Nyonya Moura lagi.
"Sudah, Mi," jawab Arumi.
"Mhm, mami jemput, ya. Ini mami sama papi udah selesai acara makan siangnya, kebetulan kami lewat rumah sakit," ujar Nyonya Moura.
Arumi melirik ke arah Betrand, dia merasa tidak enak pada Betrand yang sudah menjemputnya dan menemaninya.
"Arum, pulang sama Betrand aja, Mi." Arumi menolak tawaran maminya.
"Lho, kenapa?" tanya Nyonya Moura.
__ADS_1
"Mhm, enggak apa-apa, Mi. Aku pulang sama Betrand aja, mumpung udah nyusahin dia yang sekalian gitu bikin dia susah," jawab Arumi sambil melirik Betrand yang tersenyum manis padanya.
"Oh, ya udah kalau gitu, padahal mami udah berada di depan rumah sakit, lho," lirih Nyonya Moura.
"Kenapa?" tanya Betrand heran melihat ekspresi Arumi.
"Mami udah di depan mau jemput gue," ujar Arumi.
"Kalau kamu mau pulang sama mami kamu juga enggak apa-apa, kok," ujar Betrand.
"Lu yakin enggak keberatan?" tanya Arumi pada Betrand.
Sebenarnya Arumi merasa lebih baik pulang bersama kedua orang tuanya dari pada menyusahkan Betrand.
"Iya, enggak apa-apa." Betrand mengangguk.
"Ya udah, yuk pulang mereka pasti sudah menunggu." Betrand kembali mengangkat tubuh Arumi lalu mendudukkan tubuh gadis itu di atas kursi roda.
Betrand langsung mendorong kursi roda Arumi menuju lobi rumah sakit, tak berapa lama mereka pun sudah berada di depan lobi rumah sakit.
Terlihat di sana mobil milik tuan Arnold sudah berada di depan lobi.
Seperti biasa Betrand menggendong tubuh Arumi dan membantu Arumi masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih ya, Nak Betrand," ucap Tuan Arnold sambil menepuk pundak Betrand.
"Sama-sama, Om," ujar Betrand.
****
Malam semakin larut, Arumi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia kini menatap kosong ke langit-langit kamarnya.
"Betrand begitu baik padaku, dia tulus membantuku berjuang menjalani ujian yang kini aku hadapi, apakah dia yang akan menjadi jodohku?" gumam Arumi mulai memikirkan setiap sikap yang dilakukan Betrand terhadap dirinya.
"Aku belum bisa membuka hati untuk siapa pun, saat aku menerima pria bren*sek itu, aku luluh begitu saja karena dia sudah menolongku saat itu, dan ternyata dia menyakitiku dengan pergi di saat aku lumpuh. Tidak, aku tidak boleh dengan mudah percaya pada siapa pun untuk saat ini." Arumi bermonolog seorang diri
Dia menggelengkan kepalanya, dia meyakinkan dirinya untuk tidak mencintai siapa pun setelah ini.
Arumi kembali teringat dengan sosok Tian yang sangat perhatian padanya waktu itu, tapi dia pergi begitu saja meninggalkan Arumi dalam keadaan sekarat.
Arumi masih belum bisa sepenuhnya melupakan sosok Tian, masih ada luka yang menggores hatinya.
Arumi melirik jam di ponselnya yang kini sudah menunjukkan angka 12, itu artinya malam sudah larut, akhirnya dia memejamkan matanya dan terlelap.
****
Selama liburan sekolah Arumi terus melakukan terapi, sehingga sekarang dia tak lagi menggunakan kursi roda.
__ADS_1
Sekarang Arumi sudah mulai berjalan menggunakan tongkat, perlahan dia mulai membiasakan diri berjalan dengan bantuan tongkat.
Teman-teman Arumi senang melihat kemajuan pesat yang dialaminya. Meskipun dia belum bisa berjalan seperti biasanya, dia tetap bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Tuhan.
Arumi tetap menjalani kehidupannya, Hinga akhirnya Arumi lulus SMA.
kekurangan Arumi saat ini tidak membuat Arumi patah semangat untuk tetap melanjutkan pendidikannya.
Laras sebagai sahabat yang baik selalu memotivasi sahabatnya dengan memilih jurusan yang sama dengan Arumi.
Hari-hari terus mereka lewati Hinga tak terasa 4 tahun sudah berlalu setelah kepergian Tian dan Nick dari kehidupan mereka.
Arumi dan Laras baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhir hari ini.
"Ras, kita ke mall dulu, yuk," ajak Arumi pada sahabatnya itu.
"Boleh," ujar Laras menanggapi ajakan sahabatnya.
Sejak mereka menjadi mahasiswa, Tuan Arnold meminta Laras untuk belajar menyetir mobil.
Tuan Arnold meminta Laras menjadi asisten pribadi Arumi, sekaligus Tuan Arnold juga mengajari mereka dunia perbisnisan agar mereka dapat melanjutkan perusahaan yang sudah dikembangkannya saat ini.
Sesekali, Arumi dan Laras dibawa Tuan Arnold untuk mengikuti pertemuan penting agar mereka semakin paham dunia perbisnisan.
Harapan Tuan Arnold pada CEO Piramids Group kandas ditengah jalan, karena tiba-tiba perusahaan itu gulung tikar dan tak seorangpun yang tahu ke mana perginya pemilik perusahaan tersebut.
Tuan Arnold sudah mencoba mencari informasi tentang keberadaan Tian, tapi semua usahanya sia-sia karena mereka menghilang begitu saja bagaikan ditelan bumi.
"Lu mau cari apa di mall?" tanya Laras pada Arumi saat mereka sudah berada di parkiran mall.
"Mhm, belum tahu, nih. Tiba-tiba, gue mau happy-happy saja sambil shopping," jawab Arumi.
Laras tertawa.
"Dasar," lirih Laras.
Laras sangat mengenal sahabatnya itu, kalau Arumi sedang ingin shoping dan keliling mall, itu artinya dia sedang mengalami kejenuhan dalam menjalani hari-harinya yang belakangan ini padat kuliah dan pertemuan bisnis bersama papinya.
Mereka pun masuk ke dalam mall, saat ini Arumi sudah terbiasa menggunakan tongkat dia tidak lagi minder berjalan ditengah keramaian menggunakan tongkatnya.
Dia gadis itu masuk sebuah toko lalu membeli barang yang mereka suka, setelah itu keluar toko lalu berpindah ke toko lainnya.
Mereka terlihat bahagia dengan apa yang mereka lakukan.
Saat Arumi hendak masuk ke sebuah toko tas branded, Arumi tidak sengaja menabrak seorang pria yang membawa beberapa paper bag di tangannya.
Sehingga barang-barang di tangan pria itu berserakan di lantai.
__ADS_1
"Ma-maaf," lirih Arumi.
Bersambung...