
"Halo," ujar seseorang di seberang sana.
Arumi mendengar suara yang tidak asing baginya, dia tersenyum senang saat mendengar suara pria yang dicintainya.
"Kamu?" lirih Arumi tersipu malu.
Dia tak menyangka, Tian akan menghubunginya terlebih dahulu di saat dia juga ingin menghubunginya.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Tian.
"Mhm, aku lagi nungguin papi sama mami pulang," jawab Arumi berbunga-bunga.
Saat ini hatinya yang terluka dan sedih kembali ceria dan bahagia, luka dan kesedihan sudah terhapus oleh penuturan sang kekasih tentang alasan kepergiannya.
"Memangnya papi sama mami ke mana?" tanya Tian pada Arumi.
"Kata Bi Nah, tadi mereka pergi kondangan," jawab Arumi.
Mereka pun mengobrol asyik sambil melepaskan rasa sayang mereka yang selama ini terpendam.
Mereka bersyukur, Tuhan masih memberi kesempatan untuk mereka kembali bersatu.
"Ya udah, aku istirahat dulu. Salam buat papi dan mami kamu," ujar Tian sebelum menutup telponnya.
Matanya sudah terasa panas karena menahan rasa kantuk.
"Iya, nanti aku sampaikan sama mami dan papi," jawab Arumi.
Setelah itu, Tian memutuskan panggilan telpon.
"Aduh, anak mami belum tidur," ujar Nyonya Moura saat melihat Arumi masih asyik dengan ponselnya di ruang tamu.
"Mami, Papi, sudah pulang?" tanya Arumi dengan wajah yang berbinar.
Tuan Arnold dan Nyonya Moura saling melempar pandangan, mereka heran melihat putrinya malam ini sangat ceria.
Arumi berdiri lalu melangkah menghampiri kedua orang tuanya yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Arum!" pekik Nyonya Moura dan Tuan Arnold bersamaan.
Mereka surprise saat melihat putri mereka sudah bisa berjalan tanpa mengurangi tongkat.
Tuan Arnold dan nyonya Moura langsung memeluk putrinya. Mereka sangat bahagia dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Kamu sudah bisa jalan, Sayang?" ujar Nyonya Moura sangat senang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mi, Pi. Sekarang aku sudah bisa jalan seperti orang-orang normal lainnya," ujar Arumi.
"Papi ikut senang dengan perkembangan yang kamu alami, berarti sekarang kamu sudah bisa papi beri kepercayaan untuk menjalankan bisnis papi," ujar tuan Arnold bahagia.
"Ih, papi. Aku masih butuh bimbingan papi," rengek Arumi.
"Iya, Pi. Jangan langsung dilepas begitu saja sama Arumi, dia kan juga masih harus kuliah," ujar Nyonya Moura membela putrinya.
"Iya, tapi proyek yang kemarin kamu lanjut tanggung jawabnya," ujar Tuan Arnold.
Tuan Arnold tampak bahagia dengan kesembuhan putrinya, meskipun putrinya sempat mengalami lumpuh, Tuan Arnold tetap percaya bahwa putri sanggup untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya.
"Kamu udah makan, Sayang?" tanya Nyonya Moura mengalihkan pembicaraan.
Dia mulai bosan, setiap hari yang didengarnya urusan bisnis terus.
"Udah, Mi. Tadi aku sama Laras udah makan malam sama rekan kerja kami," jawab Arumi.
Arumi belum berani memberi tahu hubungannya dengan Tian saat ini kepada kedua orang tuanya karena Arumi takut kedua orang tuanya kecewa pada Tian yang sudah menikah.
Arumi berencana akan menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya setelah Tian benar-benar bercerai dari istrinya.
"Ya udah, udah malam. Kamu istirahat sana, besok kamu harus masuk kantor, kan?" ujar Nyonya Moura menyuruh Arumi beristirahat.
"Iya, Mi. Aku tidur dulu, ya, Mi, Pi," ujar Arumi.
"Good night, Mi, Pi," seru Arumi seraya dia melangkah meninggalkan Tian Arnold dan Nyonya Moura.
Tuan Arnold dan nyonya Moura saling merangkul, tak ada kebahagiaan bagi mereka yang paling membahagiakan kecuali melihat buah cinta mereka kembali bisa berjalan seperti orang normal lainnya.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam kamar.
Sebelum Tuan Arnold dan nyonya Moura tidur, mereka duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Pi," lirih Nyonya Moura meminta perhatian suaminya.
"Mhm," gumam Tian Arnold sambil membuka Ipad-nya.
"Mami bersyukur, Arumi sudah sembuh." Nyonya Moura mulai membuka pembicaraan.
"Iya, Mi. Papi juga bersyukur. Akhirnya putri kita bisa beraktivitas seperti biasanya," ujar tuan Arnold tersenyum bahagia sambil merangkul istrinya.
Bertahun-tahun mereka menjalani rumah tangga, hubungan mereka tetap rukun dan saling menyayangi karena bagi tuan Arnold, nyonya Moura adalah wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
"Mhm, dengan keadaan Arumi saat ini. Mami jadi kepikiran dengan jodoh buat Arumi," ujar Nyonya Moura mengkhawatirkan jodoh putrinya.
__ADS_1
Tian Arnold tersenyum, dia pun meletakkan iPad miliknya di atas nakas.
Dia menoleh pada sang istri, menatap wanita yang paling dicintainya itu dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, aku sudah memikirkan hal itu. Banyak rekan kerja yang menginginkan Arumi, tapi papi lebih percaya Tian yang menjaganya. Semoga saja mereka berjodoh," ujar Tian Arnold pada istrinya.
"Apa, Pi? Papi mau Arumi menikah dengan pria yang tidak bertanggung jawab itu?" tanya Nyonya Moura tidak setuju.
Dia tidak akan pernah menyerahkan putrinya pada pria yang sudah menyakitinya.
"Sayang, kamu tidak mengenal Tian dengan baik," lirih Tuan Arnold.
Nyonya Moura berpaling dari suaminya.
"Maksud kamu apa, Pi?" Nyonya Moura bingung.
"Sayang, Tian itu pria yang baik. Apa yang sudah dia lakukan terhadap Arumi semata-mata bukan untuk menyakiti Arumi, dia memiliki alasan yang kuat berbuat itu," jelas tuan Arnold pada istrinya.
Tuan Arnold tidak mau istrinya salah paham pada Tian, karena tuan Arnold sangat mengenal pribadi Tian.
Tuan Arnold sempat mencari tahu segala hal tentang Tian sebelum Tian pergi empat tahun yang lalu.
"Sepertinya kamu sangat mengenal Tian, Pi. Apakah ada yang papi sembunyikan dari mami?" tanya Nyonya Moura pada suaminya.
"Tidak ada yang papi sembunyikan dari mami, papi hanya yakin Tian akan membahagiakan putri kita." Tuan Arnold sangat yakin dengan ucapannya.
Nyonya Moura terlihat berpikir, dia mencoba menerima apa yang dikatakan oleh sang suami saat ini dan dia juga berharap apa yang dikatakan oleh sang suami memang benar adanya.
****
Pagi ini Arumi mengawali hari-harinya yang baru, dia sangat bersemangat untuk menjalani aktivitasnya kali ini karena Tuhan telah memberikan nikmat yang sangat berharga baginya.
Pukul 04.00 sebelum subuh, Arumi sudah terbangun dari tidurnya. Dia bangkit dari posisinya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai membersihkan diri, Arumi melangkah menuju lemarinya. Dia mencari sesuatu yang jarang dipakainya.
Dia mengambil setumpuk kain putih yang tertata rapi di dalam lemarinya itu, setelah itu dia pun mengenakan kain putih itu menutupi auratnya.
Arumi melihat pantulan wajahnya di cermin yang ada di dalam lemari.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Arumi.
Kali ini dia pun mulai beribadah, dia teringat dengan nasehat bunda Ranti untuk terus melakukan ibadah shalat 5 kali sehari semalam.
Saat dia mendapatkan nikmat terindah dari Tuhan, dia mulai bertekad untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim secara perlahan.
__ADS_1
Dia berjanji pada dirinya untuk terus mendekatkan diri pada Sang Pemilik dirinya.
Bersambung...