Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 92


__ADS_3

Tian langsung mengangkat wajahnya menjauh dari wajah Kyomi.


“Sarapanlah dulu, aku akan berangkat ke kantor,” ujar Tian pada Kyomi.


“Apakah kamu tidak bisa tetap berada di sini menemaniku?” tanya Kyomi pada Tian.


“Maaf, Kyo. Aku harus bekerja,” ujar Tian menolak permintaan Kyomi.


Tian pun berdiri dan melangkah keluar dari kamar Kyomi, Tian meninggalkan sang mantan istri itu dalam keadaan hati yang berbunga-bunga.


Seketika Kyomi merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Tian, meskipun pria itu melakukan hal itu hanya sekadar merasa kasihan pada sosok wanita manja yang selalu bergantung pada papanya saat masih hidup.


“Apa yang terjadi padaku, apakah aku mulai jatuh cinta padanya?” gumam Kyomi di dalam hati.


Kyomi bangkit dari tidurnya, dia pun langsung menyantap makanan yang dibawakan Tian tadi.


“Sarapan kali ini terasa begitu enak, apakah karena yang mengantarkan makanan itu Tian?” gumam Kyomi tersipu malu.


Hatinya kini merasa sangat bahagia. Dia sudah salah mengartikan kebaikan Tian malam ini.


Awalnya Tian datang ke mansion milik Tuan Basuki, karena ada berkas yang perlu diambilnya di ruang kerja Tuan Basuki. Namun, di saat dia hendak pergi meninggalkan kediaman tuan Basuki, dia mendengar isakan tangis Kyomi.


Seketika hati Tian merasa iba terhadap mantan istrinya itu, akhirnya Tian pun melangkah masuk ke dalam kamar Kyomi.


Tian semakin iba pada Kyomi saat melihat wanita itu tengah menangis di lantai balkonnya,tian dapat merasakan sakit apa yang kini dirasakan oleh Kyomi karena Tian terlebih dahulu sudah merasakan kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan.


Tian semakin iba dan kasihan pada Kyomi karena dia merupakan seorang wanita yang manja, 5 bulan menjadi suami Kyomi, dia dapat memahami bagaimana pribadi Kyomi.


Tian takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Kyomi, makanya dia bertindak perhatian pada wanita itu.


Di tempat lain, seorang pria tampak menghempaskan berbagai barang-barang yang ada di hadapannya.


“Hal ini, tidak boleh terjadi! Lebih baik dia mati!” bentak si pria di hadapan beberapa anak buahnya yang kini hanya bisa menundukkan kepala menerima amarah dari bosnya.


“Kalian jangan pernah kasih ampun bajingan itu, aku ingin mayatnya secepatnya ada di hadapanku!” bentak si pria lagi.


“Arrrghhh, Tian harus mati secepatnya!” bentak si pria membanting sebuah gelas yang ada di hadapannya.


“Cepat bunuh pria bajingan itu!” bentak si pria lagi.

__ADS_1


Akhirnya semua anak buahnya pun pergi meninggalkan tempat itu, mereka akan mencari cara untuk melenyapkan pria yang bernama Tian.


Si pria pun duduk di atas kursi kebesarannya, dia menatap Tian dengan penuh kebencian.


“Kamu harus mati secepatnya!” ujarnya dengan dendam yang membara.


Tian baru saja sampai di depan gedung perusahaan Global Group, hari ini dia tidak berangkat bersama Nick, karena dia berangkat dari mansion milik tuan Basuki, sedangkan Nick berangkat dari apartemen milik Karin yang memang mereka tempati.


Tian turun dari mobilnya lalu memberikan kunci mobil pada satpam agar satpam memarkirkan mobilnya di parkiran khusus para petinggi perusahaan.


Pria tampan yang selalu menarik perhatian wanita itu mengabaikan beberapa pasang mata yang terus mengaguminya.


Dia melangkah masuk ke dalam lift khusu petinggi perusahaan, ternyata pada saat yang bersamaan Arumi sudah berada di dalam lift itu.


“Ka-kamu?” lirih Tian dan Arumi serentak.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Tian heran saat melihat wanita yang dicintainya berada di dalam lift yang sama dengannya.


Arumi tidak menjawab pertanyaan Tian, tapi dia langsung menghambur ke dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu.


Semakin hari, rasa cinta Arumi pada Tian semakin bertambah, begitu juga dengan pria tampan tersebut.


Ting.


Pintu lift terbuka, mereka pun melepaskan pelukan mereka satu sama lain. Mereka melangkah keluar dari lift dan langsung masuk ke dalam ruangan CEO di perusahaan global tersebut.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Tian lagi setelah mereka berada di dalam ruangan CEO.


“Aku hanya ingin mengambil berkas yang kemarin terbawa oleh Nick. Apakah jam segini dia sudah berada di ruangannya?” tanya Arumi.


“Kamu itu datang terlalu pagi, kamu ingin bertemu Nick atau ingin bertemu aku?” tanya Tian menggoda Arumi.


“Haha, kamu kepedean banget sih,” ujar Arumi sambil memasang wajah yang sangat menggemaskan.


“Apa salah aku kepedean dengan wanita yang sangat aku cintai?” tanya Tian balik pada Arumi.


“Huhft, aku tidak akan pernah menang, jika berdebat denganmu,” ujar Arumi pasrah.


Akhirnya Arumi dan Tian pun mulai asyik mengobrol, Tian yang awalnya berencana akan memeriksa proposal meeting yang akan dibahas nanti, dia seakan lupa dengan tanggung jawabnya.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Nick membuka pintu ruangan tersebut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Mata Arumi dan Tian kini tertuju pada sosok pria yang berdiri di depan pintu.


“Eits, sorry apakah aku mengganggu?” tanya Nick tanpa ada bersalah sedikitpun.


“Si*alan, Kau,” umpat Tian.


Nick hanya tersenyum melihat ekspresi marah dari sahabatnya.


“Maaf, Rum. Aku datang sedikit terlambat. Ini berkas yang kemarin tertinggal,” ujar Nick sambil menyerahkan sebuah map kepada Arumi.


Arumi tersenyum melihat sikap cuek yang dilakukan Nick. Dia sama sekali tidak takut dengan wajah Tian yang kini bagaikan seekor harimau hendak memakan mangsanya.


“Tadinya aku mau mengantarkan langsung, tapi berhubung meeting kali ini dilakukan di sini, ya sekalian saja kamu datang menjemputnya,” ujar Nick lagi


“Ya sudah, kalau begitu. Aku pamit dulu,” ujar Nick dengan gaya cueknya hendak keluar dari ruangan Tian.


“Pergi sana!” teriak Tian sambil melemparkan bantal sofa yang ada di sampingnya kea rah Nick.


Melihat aksi Tian,akhirnya Nick pun langsung kabur.


Arumi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kekocakan Tian dan Nick.


Baru kali ini Arumi melihat sikap konyo mereka, karena selama ini Tian dan Nick selalu berpenampilan serius.


Hari ini Arumi akan ikut dalam meeting masalah proyek mereka yang sedang berlangsung di perusahaan global Group, kali in Laras tidak bisa ikut karena dia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


Arumi dan Tian kembali mengobrol sambil menunggu meeting dimulai.


Pada pukul 12.00. meeting pun selesai, Tian dan Arumi keluar dari gedung perusahaan global group untuk melaksanakan makan siang bersama.


Sepasangs ejoli itu tampak menikmati kebersamaan mereka, sehingga membuat sepasang mata yang melihatnya semakin marah.


“Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil mobil ke parkiran dulu, sepertinya satpam sedang makan siang,” ujar Tian saat mereka sudah berada di lobi perusahaan.


Di saat Tian melangkah, Arumi melihat seseorang yang menggunakan hoodi dan masker mendekati Tian. Seseorang itu tengah memegang pisau di tangannya, pria itu terlihat hendak melakukan hal buruk terhadap Tian.


Arumi berlari mendekati Tian, hingga si pria yang berencana menusuk Tian melakukan kesalahan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2