
"Tidak apa-apa, aku tidak mau merepotkanmu," ujar Arumi pada Tian.
Arumi juga tidak ingin membiarkan pak Didin pulang tanpa dirinya, dia merasa tidak enak pada pak Didin, supir keluarganya sudah capek-capek menjemputnya dan tidak mungkin baginya membiarkan Pak Didin pulang begitu saja.
"Kamu yakin akan baik-baik saja?" tanya Tian memastikan.
"Iya, aku bisa jaga diri. Lagian ada pak Didin yang akan menjagaku," ujar Arumi pada Tian.
"Ya udah kalau begitu," ujar Tian.
Akhirnya dia pun mengantarkan Arumi hingga masuk ke dalam mobil.
Pak Didin membantu Arumi memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam bagasi mobil.
Setelah itu, Arumi pun masuk ke dalam mobil.
"Kamu hati-hati, ya. Kalau sudah sampai rumah langsung kabari aku," ujar Tian pada Arumi.
Saat ini dia masih mengkhawatirkan keadaan Arumi. Baginya gadis itu bagai berlian yang harus dijaga di mana pun dan kapan pun.
Tian tidak ingin gadis yang kini sudah mengisi hatinya terluka sedikitpun.
"Iya, kamu juga hati-hati," ujar Arumi pada Tian.
"Jalan, Pak," perintah Arumi setelah dia pamit pada Tian.
Setelah memastikan semua siswanya pulang bersama keluarga masing-masing. Tian dan Ridho masuk ke dalam mobil yang kini sudah terparkir di depan bandara.
Di samping mobil itu sudah berdiri supir keluarga Atmaja yang sejak tadi menunggunya.
Sang supir membantu Tian dan Ridho memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil.
Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil, supir pun mulai melajukan mobil meninggalkan bandara.
Jalanan ibu kota mulai sepi karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 2.30 dini hari.
Sepanjang perjalanan Tian masih saja merasa tidak tenang. Pikirannya terus tertuju pada Arumi.
Akhirnya Tian pun menghubungi Arumi, dia menelpon gadis yang dicintainya itu.
Satu kali panggilan, Arumi belum menjawab panggilan. Kedua kalinya Arumi mengangkat panggilan itu.
"Halo," lirih Arumi.
"Kamu sudah di mana?" tanya Tian pada Arumi.
"Mhm, aku sudah berada di jalan Menteng," jawab Arumi.
"Kamu pastikan pak Didin tidak mengantuk mengendarai mobilnya," pesan Tian pada Arumi.
__ADS_1
PRANK BUAARR
Terdengar dengan jelas di telinga Tian sebuah hantaman yang besar.
"Rum, suara apa itu?" tanya Tian panik.
"Arum, Arum! Arumi!" pekik Tian.
Tian berteriak dengan keras, karena dia tak lagi mendengar suara dari Arumi.
"Pak, balik arah kita. Kita menuju jalan Menteng," perintah Tian pada sang sopir.
Ridho juga ikut panik.
"Apa yang terjadi, Bro?" tanya Ridho pada Tian yang kini sudah panik.
Tian benar-benar mencemaskan keadaan Arumi saat ini.
"Gue tidak tahu apa yang terjadi, baru saja gue mendengar suara hantaman yang begitu keras," jawab Tian.
"Astagfirullah, apa yang terjadi?" Ridho juga ikut panik.
"Pak, percepat laju mobilnya!" perintah Tian pada supirnya.
Sang supir melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia sudah berusaha melajukan mobil dengan kencang tapi Tian masih merasa laju mobil itu sangatlah pelan.
Tian ingin cepat sampai di lokasi yang diberitahu Arumi tadi. Pikiran Tian kini sudah jauh ke mana-mana.
20 menit perjalanan, mereka sampai di jalan Menteng. Saat mereka sampai di sana, beberapa orang sudah berkerumun menyaksikan apa yang baru saja terjadi di sana.
Tian melihat sebuah mobil sedan mewah yang tadi dikendarai oleh Pak Didin.
Mobil itu kini terbalik di pinggir jalan dengan kondisi bagian depannya penyok karena benturan keras.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Tian pada salah satu orang yang juga berada di lokasi.
Sebuah mobil truk menabrak mobil sedan itu sampai mobil itu terbalik. Kelihatannya penumpang yang ada di dalam mobil itu sudah dibawa ke rumah sakit," jelas warga yang menyaksikan kejadian tersebut.
"Apa? Lalu di mana truk yang sudah menabrak mobil sedan itu.
"Kabur, Pak. Ini termasuk tabrak lari, nih," ujar salah satu warga lain yang mendengar pertanyaan dari Tian.
Mobil ambulans baru saja membawa korban laka lantas yang baru saja terjadi di tempat itu.
"Lalu korban kecelakaannya di mana?" tanya Tian tak sabar pada orang-orang yang kini melihatnya heran.
Sikap Tian yang panik membuat perhatian orang-orang yang berada di sana tertuju padanya.
"Korbannya sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Baru saja ambulans membawanya," ujar salah satu warga menjelaskan apa yang sudah terjadi di TKP.
__ADS_1
"Bro, kita langsung ke rumah sakit saja," usul Ridho pada Tian.
"Ayo, Pak. Kita langsung ke rumah sakit saja." Tian melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Supir pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Tak berapa jauh mereka melewati TKP Ridho mendengar suara mobil ambulan.
Tian menyuruh sopir nya untuk mengikuti mobil ambulans itu. Tian yakin korban kecelakaan tadi dibawa oleh mobil ambulans tersebut.
Sesampai di rumah sakit, korban kecelakaan sudah masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Tian turun dari mobil mengabaikan keberadaan Ridho yang hanya mengikuti langkah Tian.
"Dokter saya ingin bertemu dengan korban kecelakaan tadi," pinta Tian panik.
"Maaf, Tuan. Kami sedang memeriksa keadaannya." Seorang perawat menghentikan langkah Tian yang hendak masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Tapi, Sus. Saya ingin memastikan siapa yang menjadi korban kecelakaan itu," ujar Tian memaksa.
"Iya, Tuan. Kami mengerti, saya harap tuan bisa bekerja sama dengan kami untuk menunggu. Setelah pemeriksaan kami akan mengabari pihak keluarga," ujar si perawat yang berjaga di sana.
"Bro, lebih baik kita tunggu saja," bujuk Ridho.
Ridho mengajak sahabatnya untuk menunggu sambil duduk di bangku ruang tunggu.
Wajah Tian saat ini benar-benar panik, dia tak sanggup membayangkan terjadi hal buruk pada Arumi.
"Korban kecelakaan itu tidak bisa diselamatkan, salah satu dari mereka kabarnya sudah meninggal," ujar seorang perawat yang melintas di depan Tian dan Ridho.
Dia tengah berbicara dengan rekan kerjanya.
Tian menoleh ke arah Ridho, bola mata Tian membulat tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tidak mungkin, Arumi tidak akan meninggalkanku," teriak Tian.
Tian kini melangkah mondar mandir tepat di depan ruang pemeriksaan.
Dia tidak sabar menunggu kabar dari dokter yang kini memeriksa korban kecelakaan yang baru saja masuk ruangan itu.
"Arum, jangan tinggalkan aku. Aku baru saja menemukan wanita yang pantas untuk mendampingiku. Aku mohon jangan tinggalkan aku," gumam Tian di dalam hati.
Tian pun meneteskan air matanya, dia benar-benar sedih dan menyesal.
Setelah satu jam berlalu, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana dengan korban kecelakaan itu, Dok?" tanya Tian langsung.
Bersambung...
__ADS_1
"