
Seseorang melihat Nick melangkah keluar toko perhiasan dengan Laras.
Dia kaget melihat gadis yang tengah menggandeng pria itu.
"Nick bersama Laras?" gumamnya di dalam hati.
"Ada apa?" tanya Nick pada Laras heran saat mereka sudah berada di luar toko perhiasan.
"Kenapa beli perhiasan segala?" tanya Laras pada Nick.
"aku cuma mau kasih hadiah ke kamu," jawab Nick jujur.
Nick hanya ingin menunjukkan perasaannya, menurutnya membelikan sebuah perhiasan pada seorang wanita akan membuat si wanita bahagia, jadi dia ingin membuat Laras bahagia.
"Enggak, aku enggak suka perhiasan," tolak Laras mentah-mentah.
"Kenapa? Bukannya semua wanita menyukai perhiasan?" ujar Nick heran.
"Tidak semua wanita suka perhiasan, lagian aku ini masih sekolah, mana boleh pake perhiasan," tutur Laras.
Laras sengaja menjadikan statusn sebagai pelajar alasan agar dia tidak dibelikan perhiasan oleh Nick karena Laras memang tidak mau berhutang budi pada pria itu.
Laras hanya berhati-hati, dan menjaga diri.
"Oh, ya udah kalau gitu kamu mau beli baju?" tanya Nick memberi tawaran lain.
"Enggak juga, di rumah bajuku banyak," jawab Laras sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Nick menjadi bingung.
Setahunya seorang wanita akan senang diajak berbelanja.
"Enggak ada," jawab Laras santai.
"Lho? kalau enggak mau apa-apa, ngapain coba dia mau diajak jalan ke mall?" gumam Nick di dalam hati.
"Ya udah, kalau gitu kamu mau ke mana aku ikutin, deh." Nick pun pasrah.
Dia menyuruh Laras melangkah lebih awal, agar dia tahu apa yang diinginkan oleh gadis yang disukainya itu.
"Mhm, ke mana, ya?" lirih Laras bingung.
Akhirnya Laras melangkah ke sebuah toko buku. Dia melihat-lihat beberapa buku Sains. Laras mulai tenggelam memilih buku-buku pelajaran yang menurutnya menarik untuk dibaca.
Laras pun mulai memilih beberapa buku yang diinginkannya.
"Kamu hobi baca?" tanya Nick pada Laras.
"Membaca membuka wawasan kita," jawab Laras simple.
"Iya juga, sih," lirih Nick.
Setelah Laras selesai memilih beberapa buku, dia melangkah menuju kasir untuk membayar buku-buku yang sudah dipilihnya.
Laras sudah menargetkan harga buku-buku tersebut karena dia berniat hendak membayar buku-buku itu dengan uangnya sendiri.
__ADS_1
"jumlahnya tiga ratus tujuh puluh enam ribu," ujar kasir setelah dia menghitung total belanjaan buku Laras.
Laras pun bersiap mengambil uang dari dalam tasnya.
"Pake ini aja." Nick memberikan sebuah kartu kredit pada kasir.
"Kamu mau apa?" tanya Laras.
Nick menautkan kedua alisnya heran dengan sikap Laras.
"Ya mau bayarlah," jawan Nick santai.
"Jangan, pakai uangku saja," ujar Laras menolak.
"Lho?" Nick heran melihat sikap Laras.
"Aku bawa uang, kok," ujar Laras.
Laras pun mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
Nick menghela napas panjang.
"Oke, kalaupun kamu bawa uang. Tapi, selama kamu bareng aku kamu tidak boleh mengeluarkan uang sepeser pun," ujar Nick.
Nick meminta Laras untuk kembali memasukkan dompetnya ke dalam tas.
"Mhm, ja,--"
"Kamu tidak boleh membantah," ujar Nick memohon pada gadis yang disukainya itu.
Dia membiarkan Nick membayar 4 buku yang dipilihnya tadi.
"Terima kasih," ucap Laras.
Laras merasa tidak enak, akhirnya dia pun mengajak Nick untuk keluar dari mall itu.
"Sudah sore kita pulang, yuk," ajak Laras pada Nick.
Laras tidak mau, Nick mengeluarkan uang lagi untuk dirinya.
Seorang gadis polos yang baru mengenal sosok pria tidak ingin berhutang Budi karena barang-barang yang dibelikan pria itu, meskipun Nick melakukan hal itu atas dasar menunjukkan rasa sukanya pada Laras.
Nick mengangguk, akhirnya mereka keluar dari mall. Lalu Nick mengantarkan Laras pulang ke rumahnya.
Laras merasa bahagia bisa pergi dengan Nick, dia merasa nyaman saat berada dengan Nick.
Beberapa menit perjalanan mereka sampai di depan rumah Laras.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Laras pada Nick sebelum dia hendak keluar dari mobil.
Nick tersenyum.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kamu sudah memberi waktumu jalan denganku," ujar Nick.
Laras tersenyum dan membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Saat itu Rudi, ayah Laras sudah berada di samping mobil Nick.
Gadis itu kaget saat melihat sang ayah sudah berada di hadapannya, begitu juga dengan Nick, dia ikut kaget saat melihat sosok ayah Laras berdiri di samping mobilnya.
"Mampir dulu, Nak," ajak Rudi pada Nick.
Tiba-tiba Nick merasa gugup saat berhadapan dengan ayah Laras. Profesionalitasnya menghadapi klien-klien besar dalam pekerjaannya tidak menjamin dia dapat menghadapi ayah Laras.
"Ti-tidak usah, Om," lirih Nick bingung.
"Ayolah, kita makan malam dulu. Bunda Laras sudah masak makan malam spesial buat kita," ajak Rudi pada Nick.
Mengingat waktu maghrib baru saja berlalu, sekalian Rudi mengajak Nick untuk shalat terlebih dahulu.
Akhirnya mau tak mau, Nick pun turun dari mobilnya dan ikut melangkah masuk ke dalam rumah sederhana, tempat tinggal wanita yang disukainya.
Rumah yang sederhana tidak menutup kebahagiaan yang terpancar di wajah penghuninya.
Nick melihat dengan jelas kerukunan dan kebahagiaan dalam keluarga Laras.
Di rumah Laras, Nick langsung bersiap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib bersama Rudi.
Sedangkan Laras masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan shalat magrib juga.
"Ayo, kita makan malam dulu," ajak Rudi saat Nick baru saja selesai shalat magrib.
Nick mengangguk setelah itu Rudi langsung menggiring Nick menuju ruang makan.
Di ruang makan terlihat Laras dan beneran di tengah menyiapkan hidangan makan malam di atas meja.
Nick tersenyum melihat Laras yang rajin membantu ibunya.
"Ayo duduk jangan sungkan anggap saja di rumah sendiri," ujar Rudi ramah pada pemuda yang baru saja membawa anak gadisnya.
"I-iya, Om," lirih Nick.
Mereka pun menikmati makan malam bersama.
Awalnya Nick merasa canggung dan gugup, tapi Ranti dan Rudi memperlakukan Nick dengan baik sehingga dia pun merasa nyaman bersama keluarga sederhana yang penuh kasih sayang di antara mereka.
Rudi sebagai seorang ayah sengaja memperlakukan Nick dengan baik, dia juga ingin mengenal Nick lebih jauh dan memastikan Nick bukanlah pria breg*ek yang akan menyakiti putrinya nanti.
Rudi dan Ranti tahu selama ini putrinya tidak pernah dekat dengan pria mana pun, mereka hanya ingin memastikan pria yang mendekati putri mereka merupakan pria yang baik.
Sepanjang perkenalan itu kedua orang tua Laras merasa nyaman dengan Nick mereka berharap Nick tidak akan menyakiti putri mereka.
Setelah makan malam, Rudi mengajak Nick mengobrol sejenak di ruang tamu.
"Nick," lirih ayah Rudi.
Nick menatap ayah dari wanita yang dicintainya.
"Laras merupakan putri kami satu-satunya, jika kamu datang untuk membahagiakannya, ayah tidak akan melarang kamu mendekatinya, tapi jika kamu datang untuk menyakitinya, lebih baik kamu pergi jauh-jauh sebelum semuanya terlambat," ujar Ayah Rudi memberi peringatan pada Nick.
Bersambung...
__ADS_1