
"****," umpat Tian.
Dia mengepalkan tangannya, dia semakin marah melihat gadis yang tak hanya mengambil bola basket kesayangannya, tapi dia juga sudah berani mengata-ngatai Tian yang merupakan seorang CEO di Piramids Group, perusahaan ternama di Ibu kota.
Tian melangkah menuju sepeda motornya yang terparkir, dia menaiki sepeda motor miliknya, lalu meninggalkan tempat itu
"Apa yang ada di otak gadis itu? Beraninya dia memperlakukanku seperti itu," gumam Tian di dalam hati.
Sepanjang jalan menuju mansion keluarga besar Atmaja, Tian memendam amarah pada gadis tengil itu.
Saat makan malam di mention keluarga atmadja, duduk bersama kedua orang tuanya menyantap menu makan malam yang sudah terhidang. Mereka sangat menikmati hidangan makan malam tersebut, tak ada terdengar suara diantara mereka kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu.
"Tian, bagaimana dengan misimu?" tanya Nyonya Sarah pada putranya semata wayangnya.
"Misi?" tanya Tian heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang mama.
"Iya, misi pencarian jodoh kamu bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan jodoh yang cocok?" tanya Sarah mulai mendesak putranya untuk menikah.
"Ya ampun, Ma. Apa Mama pikir mencari jodoh itu sama seperti mencari baju di toko? ya enggak lama susah cari cewek yang cocok dengan kriteria Tian, Ma," jawab Tian apa adanya.
"Pasang kriteria jangan terlalu tinggi, nanti kamu malah kecewa, loh," nasehat Nyonya Sarah pada putranya.
"Iya, Ma, tapi memang belum ada yang cocok di hati Tian," ujar Tian.
"Oh, mama kira kamu sudah menemukan wanita yang cocok di hati kamu. Jadi Mama dan papa tinggal mengadukan pesta pernikahan untuk putra semata wayang kami," ujar Nyonya Sarah yang tidak sabar untuk memiliki menantu.
Sarah melirik suaminya yang hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan sang istri.
"Ah, Mama. Tian masih sangat muda, Ma. Biarkan Tian memilih wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidup Tian," ujar Tian.
"Iya, Mama sudah tahu itu. Kamu harus cari wanita yang baik untuk menjadi Nyonya Atmaja, jangan wanita yang hanya menginginkan kamu demi harta," nasehat Sarah.
"Iya, Ma. Doa'akan Tian tidak salah pilih," ujar Mam Tian.
"Iya, atau kamu butuh bantuan mama?" tanya Nyonya Sarah menggoda putranya
Tian hanya tersenyum mendengar ucapan sang Mama.
Usai makan malam, Tian pun melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Tuan membuka ponselnya, dia mengotak-atik ponsel tersebut, di saat dia membuka akun bodong miliknya, dia teringat dengan gadis dunia mayanya yang selalu waktunya.
"Sorry, gue enggak bisa melanjutkan hubungan ini," gumam Tian di dalam hati.
Tian baru saja ingin menghapus akun media sosialnya yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sang gadis dunia maya.
Seketika Tian teringat dengan Nick, dia pun memiliki ide untuk meminta Nick melanjutkan komunikasi yang sudah terjalin di antara dirinya dan gadis itu agar dia tidak mengecewakan sang gadis.
"Lebih baik aku menyuruh Nick untuk terus berkomunikasi dengan gadis itu, mana tahu dia wanita baik-baik," gumam Tian di dalam hati.
Tian pun mulai membuka beberapa email yang masuk di dalam laptopnya. Ada beberapa laporan yang harus diperiksanya.
Pria tampan itu pun kini mulai sibuk dengan beberapa laporan yang masuk, dia pun beranjak tidur setelah semua laporan diperiksanya satu persatu.
****
Pagi yang cerah mengawali hari gadis tomboy yang selalu ceria, dia melajukan sepeda motornya melintasi jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan.
Semua orang ingin bergegas sampai di tempat tujuan mereka, baik itu yang hendak berangkat ke kantor, maupun para pelajar yang ingin menuntut ilmu di sekolah dan universitas.
Di luar dugaan Arumi jalan yang dilewatinya sangat padat dipenuhi oleh kendaraan roda empat sehingga dia terjebak dalam macet, Arumi berusaha menyelip satu persatu kendaraan yang ada di depannya agar dia bisa lolos dari macet panjang itu.
Gadis itu melirik pergelangan tangannya untuk mengetahui jam berapa saat ini, Arumi mendadak panik saat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 06.45 itu artinya dia hanya memiliki waktu seperempat jam agar tidak terlambat.
Arumi jadi panik, dia menghentikan sepeda motornya. Dia mendekati jendela sopir pemilik mobil tersebut.
"Kau?" bentak Tian saat mengetahui Gadis tengil yang dibencinya telah merusak mobilnya.
"Maaf, aku terburu-buru. Aku akan bertanggung jawab," ujar Arumi.
Arumi mengambil ponselnya.
"Berapa uang yang kau butuhkan untuk memperbaiki mobilmu, biar aku transfer," ujar Arumi tidak ingin terlibat perdebatan dengan pria yang telah dibencinya.
Tian merasa terhina dengan ucapan Arumi, dia merasa direndahkan oleh gadis tengil itu.
Dia turun dari mobilnya, dia ingin mempermasalahkan hal yang telah dilakukan oleh Arumi, tapi baru saja dia keluar dari mobilnya, banyak mobil yang menyalakan klakson kendaraan mereka sebagai aksi protes atas tindakan Tian.
Mereka mengingatkan bahwa saat ini bukanlah waktunya mencari masalah dengan gadis itu, Tian meraih ponsel Arumi.
__ADS_1
"Gue akan menyita ponsel lu sebagai jaminan," bentak Tian.
Tian kembali masuk ke dalam mobil, Arumi terdiam sejenak.
"****," lirih Arumi.
Dia teringat bahwa dia hampir saja terlambat, akhirnya Arumi memilih meninggalkan ponselnya yang diambil oleh Tian.
Arumi melajukan sepeda motornya, kembali menyalib beberapa mobil yang ada di depannya.
Arumi sampai di sekolah pada pukul 06.59.
"Syukurlah, aku tidak terlambat," lirih Arumi.
Baru saja dia memarkirkan sepeda motornya, bel sekolah berbunyi.
Arumi bergegas melangkah menuju kelasnya, dan duduk dengan manis untuk mengikuti mata pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai.
Saat pelajaran sedang berlangsung, Buk Melly masuk ke dalam kelas Arumi.
"Permisi, Pak," ujar Buk Melly pada Pak Budi yang tengah mengajar.
"Eh, iya, Buk," sahut Pak Budi.
"Saya minta izin untuk membawa Arumi dan Laras ke kantor," ujar Buk Melly pada Pak Budi.
Laras dan Arumi saling berpandangan.
"Ada apa ya, Rum?" tanya Laras.
"Gue juga enggak tahu," jawab Arumi sambil mengangkat bahunya.
"Yang penting kita tidak melakukan kesalahan, jadi santai aja," ujar Arumi.
Arumi dan Laras pamit pada pak Budi untuk tidak mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung, mereka melangkah menuju kantor kepala sekolah mengikuti langkah buk Melly.
"Ada apa ya, Bu," bisik Arumi pada Buk Melly memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu tunggu sebentar, ya. Ibu akan memanggil pak kepala sekolah yang masih berada di ruangannya." Buk Melly melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di kantor itu.
__ADS_1
Tak berapa lama, Pak Kepala sekolah keluar dan duduk di sofa berhadapan dengan Arumi dan Laras.
Bersambung...