
Seketika Arumi tersadar dari lamunannya yang tengah menikmati ketampanan dan keindahannya ciptaan Tuhan yang kini berada di hadapannya.
"Ka-kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arumi berusaha menutupi malunya karena sempat terpukul dengan ketampanan yang terpancar dari sosok guru yang paling menyebalkan baginya.
"Helo, ini tempat umum dan gue tidak harus minta izin sama lu atas keberadaan gue di sini," ujar Tian sinis.
Arumi tak bisa berkutik, dia pun memilih untuk meninggalkan Tian.
guru sombong itu pun tersenyum sinis pada Arumi dan membiarkan gadis itu pergi melangkah menuju tempat duduknya tadi.
Dia meninggalkan kafe dengan senyuman penuh kemenangan. Dia kini tengah membayangkan wajah merah Arumi menahan rasa pedas akibat jebakan yang sudah dilancarkannya.
Arumi duduk di tempatnya tadi yang mana di hadapannya sudah terhidang makanan yang dipesannya.
"Ada tidak, Rum, kunci motor lu?" tanya Laras saat sahabatnya sudah kembali dan duduk tepat di hadapannya.
"Ada, untuk belum ada yang melihatnya," jawab Arumi.
"Oh, syukurlah. Sorry, ya. Gue makan duluan, udah lapar banget, nih," ujar Laras pada sahabatnya tidak enak.
Dia sudah memulai menikmati makanannya sejak tadi hingga makanannya hanya tersisa beberapa sendok lagi.
"Enggak apa-apa," ujar Arumi.
Arumi yang juga sudah lapar sejak tadi dia langsung menyantap makanan yang ada di piringnya.
Dia menyantap hidangan itu dengan lahapnya karena dia sangat lapar, dia tak lagi memperdulikan cita rasa makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
Setelah makanannya habis, Arumi merasakan sesuatu yang panas di dalam mulutnya.
"Huhaah, huhaah." Arumi pun merasakan pedas yang membara di setiap rongga mulutnya setelah makanannya habis tak bersisa.
Laras panik melihat sahabatnya seperti orang kepedasan.
"Ada apa, Rum?" tanya Laras penasaran.
"Pedas, Ras. Mulut gue terbakar, huhaah." Arumi mengambil segelas minumannya.
Dia menghabiskan minuman itu hingga tak bersisa. Arumi juga mengambil minuman Laras berharap rasa panas di mulutnya hilang.
Laras hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa.
Si pelayan yang membawa makanan Arumi melintas di dekat mereka.
"Bang, bantuin Arum," ujar Laras panik.
"Kak Arum kenapa?" tanya si pelayan juga ikut panik.
__ADS_1
"Kayaknya dia kepedasan, Bang," jawab Laras.
"Kepedasan? Saya memasak makanan ini persis seperti biasanya dan tidak mungkin pedas,” ujar si pelayan merasa heran.
Pelayan merasa takut jika Arumi melaporkannya pada manager mereka, Arumi melihat 2 botol bubuk cabe di meja mereka.
Arumi memegang salah satu botol bubuk cabe itu, dia kini mulai mencurigai seseorang sengaja menambahkan bubuk cabe itu di makanannya.
"Gue tahu siapa yang sudah melakukannya," gumam Arumi di dalam hati.
"Oh, tidak apa-apa. Saya sudah tau di mana letak kesalahannya," ujar Arumi pada si pelayan.
"Ya sudah, Kak. Terima kasih, saya lanjut kerja dulu," ujar si pelayan.
"Iya," lirih Arumi sambil mengangguk.
Arumi memberikan senyuman pada si pelayan agar dia tidak khawatir.
Si pelayan pun meninggalkan Arumi dan Laras, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ras, tadi waktu gue ngambil kunci motor di luar apakah lu sempat meninggalkan makanan kita di sini?" tanya Arumi pada Laras.
"Iya, tadi gue kebelet, gue tunggu lu enggak datang-datang, akhirnya gue tinggal sebentar. Emangnya kenapa, Rum?" tanya Laras penasaran.
"Ini semua pasti kerjaan pria sombong dan tidak tahu diri itu," ujar Arumi langsung menuduh Tian yang melakukannya.
"Siapa, Rum?" tanya Laras heran.
Dia mulai memaki-maki Tian yang jelas-jelas pria itu tidak ada di hadapannya.
"Rum, lu jangan marah-marah di sini, lagian orangnya juga enggak ada. Kenapa lu malah nuduh dia?" tanya Laras heran.
Laras tidak mengetahui keberadaan Tian di kafe itu, karena dia sama sekali tidak bertemu dengan pria sombong itu.
"Tadi gue ketemu dia di luar," jawab Arumi.
"Liat aja, ya. Pria brengsek itu bakal gue balas," ujar Arumi menyimpan dendam kepada si guru tampan nan sombong.
Laras hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu entah sampai kapan sahabatnya itu akan membenci sosok guru olah raga mereka.
"Yuk, kita jalan. Nanti terlambat, bentar lagi jam 2 lho," ajak Laras.
"Yuk." Arumi mengangguk.
Arumi dan Laras berdiri dan melangkah menuju kasir untuk membayar tagihan makanan mereka.
Setelah itu mereka pun menaiki sepeda motor lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat les mereka yang lokasinya tidak jauh dari cafe itu.
__ADS_1
****
Setelah maghrib, Arumi sudah duduk di kursi meja belajarnya, dia hendak mengerjakan pekerjaan rumah serta mengulang-ngulang pelajaran.
Tiba-tiba, Arumi merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya.
"Aduh, kenapa ini?" gumam Arumi di dalam hati.
Dia bergegas berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan rasa melilit di perutnya.
Saat dia sudah merasakan perutnya aman, dia pun keluar dari kamar mandi. Baru saja dia berada di ambang pintu kamar mandi, perutnya kembali terasa melilit, dia kembali bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Arumi mengalami diare, sejak malam hingga pagi dia selalu bolak balik kamar mandi. Hingga akhirnya, Arumi tergeletak di depan pintu kamar mandi tak sadarkan diri.
Matahari mulai menunjukkan cahayanya, sinar terang mulai memberi kehangatan pada setiap makhluk di bumi. Kicauan burung di pagi hari tak membuat Arumi terbangun.
"Non, Arumi mana, ya," gumam Bi Nah di dalam hati.
Bi Nah heran karena sejak tadi putri majikannya tak kunjung turun tidak seperti biasanya, pada pukul 06.00 Arumi sudah berada di ruang makan untuk sarapan.
Bi Nah sudah menyiapkan sarapan pagi di atas meja untuk Arumi.
"Ada apa, ya dengan Non Arum?" gumam Bi Nah mulai risau.
"Ya Allah, jangan-jangan Non Arumi sakit." Bi Nah risau.
Wanita yang selalu menemani Arumi hingga dewasa mulai mengkhawatirkan keadaan putri dari majikannya itu.
Bi Nah melangkah cepat keluar dari ruang makan menuju kamar Arumi yang ada di lantai 2.
"Non," panggil Bi Nah sambil mengetuk pintu kamar Arumi.
"Non Arum," panggil Bi Nah lagi.
Dia kali Bi Nah memanggil Arumi tapi gadis belia itu belum juga keluar.
Hati Bi Nah semakin risau. Bi Nah memegang handle pintu lalu dia pun mendorong pintu kamar Arumi.
"Untung tidak di kunci," gumam Bi Nah.
Bi Nah langsung menoleh ke atas tempat tidur, dia tidak mendapati Arumi berbaring di sana.
"Apa jangan-jangan, Non Arum sedang berada di dalam kamar mandi," gumam Bi Nah di dalam hati.
Bi Nah pun melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tepat di samping sisi lain tempat tidur.
Bi Nah kaget saat melihat Arumi tergeletak di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Pak Rahman!" teriak Bi Nah memanggil tukang kebun yang bekerja di mansion keluarga Arnold.
Bersambung...