
Tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat dihadapan Laras.
Si pemilik mobil keluar dari mobilnya dan melangkah mendekati Laras.
Laras kaget saat melihat ini sudah berada di hadapannya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Nick.
"Kamu? Mhm, aku di sini lagi nungguin angkot," jawab Laras jujur.
"Mau ke mana?" tanya Nick lagi.
"Ya pulanglah udah jam segini masa mau keluyuran juga," jawab Laras sambil tersenyum.
"Ya udah, ayo ikut aku biar aku anterin pulang," ajak Nick dengan senang hati.
"Eh, eng-enggak usah," tolak Laras malu.
Nick menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apakah kamu masih menganggap aku orang jauh?" tanya Nick tidak suka Laras menolak ajakannya.
"Bukan begitu aku cuman tidak ingin merepotkanmu," ujar Laras.
"Ya sudah, kalau gitu. Ayo ikut aku." Nick menarik tangan Laras dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.
Mau tidak mau Laras pun masuk ke dalam mobil Nick.
Sebenarnya Laras sangat senang bisa kembali bertemu dengan pria yang dikaguminya itu, tapi Laras tidak mau memperlihatkan rasa kagumnya secara langsung terhadap pria tampan yang kini sudah mulai melajukan mobilnya.
"Habis dari mana kenapa nunggu angkotnya di perempatan jalan itu?" tanya Nick membuka suara untuk mencairkan suasana.
"dari sekolah, kebetulan teman aku yang selalu mengantarkan pulang ada keperluan jadi dia hanya bisa mengantarkanku sampai perempatan tadi," jawab Laras jujur.
"Teman?" tanya Nick merasa cemburu karena dia mengira teman Laras merupakan seorang laki-laki.
"Iya teman aku, setiap pergi sekolah aku selalu diantarkan ayah dan setiap pulang sekolah dia selalu mengantarkanku pulang hingga rumah," jelas Laras pada Nick.
"Mhm, siapa namanya?" tanya nih penasaran.
"Arumi," jawab Laras.
"Arumi? Teman kamu itu cewek?" tanya Nick lega saat mengetahui bahwa teman yang selalu mengantar Laras merupakan seorang perempuan.
"Iya, Apakah kamu menyerah temanku itu laki-laki?" tanya Laras.
__ADS_1
" Mhm, ya begitulah," ujar Nick.
"Ya ampun Apakah dia cemburu jika aku pulang dengan teman laki-laki, astagfirullah jangan-jangan ini cuman perasaanku aja, aku tidak boleh GR duluan," gumam Laras di dalam hati.
"Syukurlah teman yang selalu mengantarkannya seorang perempuan, berarti aku masih memiliki kesempatan untuk mendekatinya," gumam Nick di dalam hati.
"Aku harus bertindak lebih cepat agar tidak terjadi penyesalan nantinya," gumam Nick akan berjuang mendapatkan cinta si gadis yang sudah menarik perhatiannya.
"Ras, minggu depan kamu ada acara, enggak?" tanya Nick pada Laras.
Dia berniat ingin membawa Laras jalan-jalan pada hari libur.
"Mhm, tidak ada paling aku cuman belajar untuk persiapan lomba, memangnya ada apa?" jawab Laras.
"Tidak, kalau memang minggu depan kamu tidak ada kegiatan bagaimana kalau aku mengajak kamu pergi jalan?" ujar Nick terus terang.
Laras terdiam mendengar ajakan dari pria yang dikaguminya itu, dia ragu untuk menerima tawaran tersebut atau menolak karena dia belum memberitahukan kedekatannya dengan teman dunia maya sahabatnya pada Arumi.
Laras tidak mau Arumi salah sangka terhadap dirinya.
"bagaimana Apakah kamu mau ikut bersamaku?" tanya Nick lagi menunggu jawaban dari Laras.
"Mhm, aku belum bisa menjawab sekarang nanti akan aku kabari lewat WA," jawab Laras.
Laras tidak bisa menolak begitu saja tawaran dari karena dia sendiri sangat senang mendapat tawaran tersebut.
"Baiklah, aku menunggu kabar darimu," ujar Nick.
Tak terasa waktu terus berlalu dan kini mobil ini sudah berada di depan rumah Laras.
"Sudah sampai yang tidak terasa tahu-tahunya udah sampai aja," ujar Laras merasa sedih karena itu artinya dia akan berpisah dengan pria yang dikaguminya itu.
"Iya, tapi kalau kamu mau kita muter-muter dulu juga boleh biar sampainya lebih lama," ujar Nick menanggapi ucapan Laras.
"Hehehe." Mereka pun terkekeh.
"Kalau gitu aku turun dulu, ya. Terima kasih kamu sudah mau mengantarkanku," ujar Laras bersiap untuk turun dari mobil.
"Ayo mampir dulu," tawar Laras sekadar basa-basi.
"Yakin bolehin aku mampir?" tanya Nick menguji Laras.
"Iya, ayo mampir, sekalian makan malam," ajak Laras serius.
"Hehe, enggak usah. Lain kali aja aku mampir," ujar Nick tersenyum.
__ADS_1
"Haha, kamu aneh," ujar Laras.
Nick tersenyum, dia menatap dalam pada Laras. Tatapan Nick membuat Laras menjadi salah tingkah.
"Ya udah, kalau gitu aku turun, ya," ujar Laras gugup.
Nick mengangguk pelan, dia masih menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan.
Akhirnya Laras pun membuka pintu mobil dan turun dari mobil itu.
"Terima kasih," ucap Laras sebelum dia menutup pintu mobil.
Dengan berat hati Nick mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah wanita yang kini sudah mulai mengisi relung hatinya.
"Gue pikir, Gue akan menyukai wanita yang lebih dewasa. ternyata siswi SMA itu lebih menarik daripada wanita single rekan kerja gue," gumam Nick di dalam hati.
Dia bermonolog seorang diri setelah dia mulai jauh dari rumah Laras.
****
Pukul 19.00.
Arumi dan keluarganya sudah sia untuk berangkat menuju sebuah restoran mewah yang ada di ibukota.
Salah satu rekan bisnis Tuan Arnold mengajak Tuan Arnold dan keluarga untuk makan malam sebagai ucapan terima kasih dari rekan bisnisnya karena proyek yang mereka jalani berjalan dengan sukses.
Yan Arnold berinisiatif untuk mengajak putri kesayangannya karena dia jua sudah rindu pada putrinya, dan berharap Arumi bisa dekat dengan rekan bisnisnya yang masih muda itu agar Arumi bisa belajar ilmu bisnis dari rekan bisnisnya yang tergolong masih sangat muda.
Sebelum pukul 20.00 mereka sudah berada di restoran plataran Dharmawangsa.
Mereka memilih menunggu rekan kerja tuan Arnold di sebuah meja yang terdapat di tengah-tengah restoran tersebut.
"Mi, kenapa pake acara bawa Arum segala, sih?" protes Arumi merasa tidak nyaman ikut makan malam bersama rekan kerja papinya.
"Enggak apa-apa, Sayang. Kita cuma mau makan malam saja," ujar Nyonya Moura pada putrinya yang sejak tadi selalu mengeluh dengan makan malam itu
"Oh iya, Rum. Bagaimana dengan kompetisi hari ini?" tanya Tuan Arnold mengalihkan perhatian Sang Putri agar tidak bosan menunggu rekan kerjanya.
"Mhm, kompetisinya berjalan dengan lancar hanya saja Arumi tidak tahu apakah harum masuk ke tahap berikutnya atau tidak," jawab Arumi.
Arumi pun mulai menceritakan kompetisi yang dijalaninya hari ini serta kompetisi basket yang dimenangkan oleh tim sekolahnya.
"Selamat malam, Tuan Arnold," sapa seorang pemuda tampan yang menghampiri meja yang mereka tempati.
Arumi melihat kagum pada sosok pria yang kini tengah menjabat tangan papinya.
__ADS_1
Penampilannya yang rapi dengan mengenakan kemeja yang dipadupadankan dengan jas senada membuat sang pria terlihat sangat memukau.
Bersambung...