Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 77


__ADS_3

"Lepaskan gue!" bentak Arumi saat salah seorang dari empat preman itu memegangi tangannya.


"Wow, mangsa kita kali ini cantik banget," ujar salah satu pemuda.


Pemuda yang lainnya pun mencoba mengelus pipi mulus Arumi, tapi sebelum dia sempat melakukan itu, tangannya sudah dipatahkan oleh Tian.


"Siapa lagi yang berani nyentuh gadis ini, gue patahin semua tulang kalian!" ancam Tian dengan suara yang tinggi.


Keempat preman itu langsung kabur, mereka takut dengan ancaman dari Tian.


Tian pun langsung mendekati Arumi lalu memeluk wanita yang dicintainya itu dengan sangat erat.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Tian mengkhawatirkan Arumi.


Arumi terdiam sejenak saat merasakan kehangatan pelukan Tian masih sama dengan pelukan yang pernah dilakukan Tian 4 tahun yang lalu.


"Arumi," pekik Laras saat dia melihat Arumi sudah bersama Tian.


Arumi tersentak, lalu dia mulai memberontak.


"Lepasin gue!" bentak Arum.


Betrand yang baru saja datang melihat Arumi yang memberontak, dia ingin melepaskan pelukan Tian.


Betrand langsung marah dan emosi, dia langsung mendekati Tian, lalu dia pun langsung mendaratkan sebuah bogem mentah di pipi Tian.


Tian tersungkur saat mendapat pukulan dari Betrand. Dia memegangi sudut bibirnya yang kini mengalirkan darah karena pukulan yang dilayangkan oleh Betrand membuat bibir Tian robek.


"Saya tidak menyangka, anda berani melakukan hal yang tidak pantas dilakukan pada murid anda!" bentak Betrand karena dia mengira Tian sudah melakukan hal yang tidak senonoh pada Arumi.


Tinggalkan tempat ini sekarang juga atau saya akan menghabisimu!" bentak Betrand.


Arumi terlihat mulai menangis, dia perlahan melangkah tertatih hendak meninggalkan tempat itu, karena kasihan akhirnya Betrand pun menggendong Arumi.


Tian dapat menyaksikan Betrand memberikan perhatian lebih pada wanita yang dicintainya.


Di saat itu dia merasakan sakit dan terluka, hatinya mulai terbakar api cemburu.


'"Gue enggak nyangka, Pak Tian akan berbuat jahat sama, lu," ujar Betrand.


"Dia tidak ingin menyakiti Arumi, dia baru saja menolong Arumi," ujar Laras membela Tian.

__ADS_1


Laras tahu apa yang saat ini terjadi, tapi dia belum bisa memberitahukan Arumi yang sebenarnya karena sesuai permintaan dari Nick.


"Lu ngapain sampai ke belakang Fakultas segala?" tanya Laras panik setelah mereka berada di gedung Fakultas.


Betrand mendudukkan Arumi di sebuah bangku panjang yang terdapat di luar ruang dosen, tempat yang biasa digunakan oleh mahasiswa Ulfi saat menunggu dosen yang mereka cari.


"Gue mau foto copy buku ini, tadinya di suruh Bu Rahma," jawab Arumi sambil menunjukkan buku yang masih ada di tangannya.


"Lu kan bisa tunggu sampai gue datang, jangan biasakan pergi sendiri," ujar Laras kesal.


Dia memarahi Arumi yang selalu berusaha untuk mandiri.


"Tapi, Bu Rahma nyuruh cepat, Ras." Arumi memberi alasan.


"Tadinya aku mau foto copy di depan gedung fakultas, eh taunya tutup, jadi gue ingat kita pernah foto copy di belakang gedung fakultas, makanya gue coba ke sana," ujar Arumi lagi memperkuat alasannya.


"Huhhft." Laras menghela napas panjang.


"Rum, kalau lu sendiri, jangan biasakan berada di tempat sepi, tidak selamanya gue ada, atau Betrand ada membantu lu," ujar Laras.


"Sejak kapan Pak Tian jadi jahat seperti itu, ya?" tanya Betrand penasaran dengan perubahan yang terjadi pada gurunya itu.


Betrand tidak tahu kalau Tian yang datang untuk menyelamatkan Arumi dari preman tadi.


Dia sempat kehilangan Arumi, karena seseorang mengajaknya mengobrol, untung saja tak berapa lama dia mendapatkan informasi bahwa Arumi sedang berada di gang sempit di belakang fakultas.


"Maksud lu?" tanya Laras mengernyitkan dahinya.


"Tadi pagi, pak Tian juga memeluk Arumi, padahal Arum sudah menolaknya, kayaknya dia suka deh sama lu, Rum," ujar Betrand kesal.


Selama ini Betrand selalu ingin mengungkapkan perasaannya pada Arumi, tapi Arumi selalu mencari cara agar Betrand tidak jadi menyampaikan apa yang tengah dirasakannya.


"Gue capek. Ras, ayo kita pulang," ajak Arumi mengalihkan pembicaraan.


Arumi tidak suka membahas Tian saat ini, membicarakan Tian itu artinya membuka luka lama yang sudah dilupakannya.


Arumi berdiri lalu melangkah dengan susah payah menuju parkiran. Laras pun mengikuti langkah sahabatnya.


Mereka meninggalkan Betrand begitu saja.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sih. Kenapa Arumi sama Laras jadi cuekin gue?" lirih Betrand bingung melihat Laras dan Arumi pergi begitu saja.

__ADS_1


Akhirnya Betrand pun memilih untuk pulang.


****


"Ras, gue mau nanya," ujar Arumi saat mereka sudah sampai di sebuah kafe untuk menikmati makan siang.


"Mhm," gumam Laras menanggapi ucapan sahabatnya.


"Kenapa lu biasa saja saat bertemu dengan Nick? Padahal dia sudah meninggalkan lu beberapa tahun terakhir," tanya Arumi penasaran dengan sikap Laras yang seolah menerima tindakan Nick yang selama ini pergi tanpa kabar sama sekali.


"Mhm," gumam Laras.


Dia bingung harus menjawab apa.


"Kenapa, Ras? Lu enggak marah sama apa yang sudah dilakukan Nick?" Arumi terus mendesak sahabatnya menjawab pertanyaan darinya.


Laras menghela napas panjang. Setelah itu dia memegang tangan sahabatnya.


"Gue akan jawab pertanyaan dari lu, tapi lu janji untuk tidak marah sama gue," pinta Laras pada sahabatnya.


"Iya, gue enggak marah kok," jawab Arumi langsung.


Dia menyanggupi untuk tidak marah karena sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari sang sahabat.


Arumi yakin sahabatnya itu tengah menyimpan sesuatu yang tidak diketahuinya.


"Empat tahun yang lalu, Nick pergi dengan Tian meninggalkan kita,--" Laras menghela napasnya sejenak.


"Sebelum Nick pergi, dia menemui gue, di saat itu dia mendadak bilang akan pergi jauh, dia meminta gue untuk tetap setia padanya, dia berharap gue menjaga cinta gue untuknya meskipun gue sendiri tidak tahu dia pergi ke mana," ujar Laras.


Arumi masih diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.


"Sore hari, saat kita bertemu dengan Tian di mall, Nick menemui gue. Dia meminta maaf, dan kami pun kembali menjalin hubungan," ujar Laras.


Laras tidak bisa mengungkapkan semuanya karena saat ini dia sudah berjanji pada Nick untuk tidak memberitahukan apa yang sudah terjadi.


Nick meminta Laras untuk menyembunyikan semuanya karena Tian ingin mengungkapkan semuanya pada Arumi setelah dia dapat merebut kembali perusahaan keluarga Atmaja.


"Dengan mudah lu menerima Nick kembali bersama lu,?" tanya Arumi tidak percaya pada sahabatnya.


Dia kecewa dengan sikap Laras, tapi dia sudah berjanji untuk tidak marah.

__ADS_1


"Rum, ini semua tergantung pada hati kita masing-masing, jika hati masih menginginkannya, apa salahnya kita membuka pintu maaf,?" ujar Laras.


Bersambung...


__ADS_2