Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 47


__ADS_3

Semua peserta kompetisi yang akan berangkat sudah berada di dalam bus sekolah yang akan mengantarkan mereka menuju bandara.


Ridho dan Tian duduk di bagian depan, begitu juga Laras dan Arumi mereka duduk di sisi lain bagian depan.


"Rum, gue pusing. Lu bawa minyak angin?" tanya Laras pada sahabatnya.


"Hah? Lu kenapa, Ras?" tanya Arumi sambil membuka tasnya dan mengeluarkan fresh care dari dalam tasnya.


Dia memberikan freshcare itu pada sahabatnya.


"Lu udah sarapan belum?" tanya Arumi pada sahabatnya.


"Belum, gue buru-buru tadi," jawab Laras.


"Ya ampun, Ras. Kita itu mau perjalanan jauh, lu gimana, sih," gerutu Arumi.


Arumi pun mengambil beberapa roti yang sengaja dibawanya.


"Lu makan dulu, ya. Ini gue bawa roti," ujar Arumi pada Laras.


"Makasih ya, Rum." Laras mengambil roti yang diberikan oleh Arumi padanya.


"Sama-sama, tumben lu enggak sarapan. Bunda enggak ingetin lu?" tanya Arumi.


"Diingetin bunda, tapi Ayah buru-buru ke kantor makanya aku enggak sempat lagi sarapan" ujar Laras.


"Ya udah, habis makan roti lu pejamkan mata aja. Mana tau bisa tertidur." Arumi memberikan bantal kepala miliknya pada Laras agar laras bisa tidur dengan nyaman.


Tian melihat apa yang dilakukan oleh Arumi terhadap sahabatnya, dia semakin mengagumi sikap Arumi.


Selama ini dia sudah salah membenci gadis baik hati seperti Arumi.


"Sejak tadi, Tian selalu memperhatikan Laras? Apakah dia benar-benar mencintai Laras? Apa yang haru aku lakukan supaya Nick dan Tian tidak bermusuhan karena perempuan?" gumam Ridho di dalam hati.


Dia melihat Tian sejak tadi menoleh ke arah tempat duduk Arumi dan Laras. Dia mengira saat ini Tian tengah memberi perhatian pada Laras.


30 menit perjalanan mereka sampai di depan bandara. Bus berhenti lalu semua penumpang turun dari bus, Ridho dan Tian membiarkan para siswa turun terlebih dahulu.


Arumi dan Laras juga harus menunggu para pria turun duluan karena Laras baru saja terbangun.


"Laras kenapa, Rum?" tanya Aldo pada Arumi saat melihat wajah Laras yang terlihat pucat.


"Katanya pusing, bantuin Laras ya, Al," pinta Arumi pada Aldo.

__ADS_1


Aldo mengangguk lalu dia pun membantu Laras melangkah turun dari bus.


Setelah itu, Arumi juga hendak turun dari bus, tapi sebelum itu dia mengambil tasnya di bagasi kabin bus.


Arumi mengalami kesulitan saat mengeluarkan tasnya dari bagasi.


Tian berdiri, dia hendak turun dari bus lalu dia melihat Arumi yang sedang kesulitan, akhirnya dia pun membantu Arumi mengeluarkan tasnya dari bagasi itu.


Di saat itu mereka beradu pandang. Tian menatap dalam pada wanita yang kini sudah menyelinap mengisi rongga hatinya.


Saat ini hanya mereka yang berada di dalam bus itu, tatapan Tian membuat Arumi terpaku, dia membalas tatapan penuh makna itu. Dia berusaha mencerna arti dari tatapan yang dilayangkan Tian padanya, hingga akhirnya Arumi terbuai dalam aroma maskulin yang berasa dari tubuh kekar Tian, aroma mint dari setiap hembusan napasnya.


Pandangan Tian kini tertuju pada bibir mungil milik gadis yang berdiri di hadapannya.


Tian mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti lagi.


Tian semakin tertarik pada sosok Arumi, dia tak dapat menguasai dirinya, lalu dia pun mengecup lembut bibir mungil Arumi.


Tian menyentuh bibir gadis itu dengan lembut, Arumi sadar dengan apa yang dilakukan oleh Tian, akhirnya dia mendorong tubuh Tian


"Pria breng*ek," umpat Arumi menghapus bibirnya yang basah.


Dia bergegas turun dari bus.


"Lu kenapa, Rum?" tanya Betrand melihat wajah Arumi yang merah padam menahan emosi.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu menggandeng Laras yang kini melangkah bersama Aldo masuk ke dalam bandara.


Di benaknya kini terlintas ci*man lembut yang diberikan oleh Tian padanya.


"Akh, ada apa dengan dia?" pekik Arumi di dalam hati.


Betrand melihat Tian turun dari bus, dia melihat gurunya itu seperti orang yang merasa bersalah.


"Apa yang terjadi antara Pak Tian dengan Arumi?" gumam Betrand di dalam hati.


Dia mulai penasaran dengan apa yang terjadi di antara gurunya dan wanita yang disukainya.


Betrand sudah mulai menyukai Arumi sejak dia pertama kali masuk di kelas 11 IPA 1.


Dia jatuh hati pada Arumi karena Arumi merupakan cewek yang patut dikagumi dan disukai oleh semua orang.


"Tian! Kau memang bodoh! Dia pasti semakin membencimu," umpat Tian merutuki kebodohannya yang sudah melakukan kesalahan.

__ADS_1


Tian pun mengikuti langkah semua rombongan yang sudah mendahului dirinya.


"Lu, dari mana aja, sih?" tanya Ridho pada Tian saat Tian baru saja masuk ke dalam pesawat.


"Ada yang harus gue selesaikan," jawab Tian berbohong.


Tian melirik Arumi yang duduk di dekat jendela, Arumi langsung membuang muka saat melihat pria yang dibencinya itu tengah menatapnya.


****


"Welcome Korea Selatan!" teriak Aldo dan Rendy saat mereka baru saja turun dari pesawat.


Mereka semua senang sudah sampai di negeri ginseng, meskipun tujuan mereka ke Korea Selatan untuk mengikuti kompetisi, mereka tetap menikmati perjalanan mereka.


"Rum, sini gue bantuin," ujar Betrand pada Arumi.


Dia menawarkan bantuan kepada Arumi untuk membawa barang-barang Arumi yang kini ada di tangannya.


"Tidak usah aku bisa sendiri, kok," tolak Arumi.


Arumi tidak mau merepotkan Betrand dalam mengangkat barang-barangnya.


Arumi tetap bersikeras untuk membawa barang-barang miliknya. saat mereka sampai di depan bandara sebuah minibus sudah menunggu kedatangan mereka bersama satu orang pemandu mereka.


meskipun mereka menguasai bahasa Inggris yang baik, duta besar Indonesia yang bekerja di Korea Selatan tidak membiarkan tamu mereka hadir tanpa ada yang menyambut mereka dan memandu mereka dalam setiap kegiatan mereka selama bersama di Korea Selatan.


Rombongan Indonesia pun menaiki mini bus yang telah disediakan oleh pihak duta besar Indonesia yang berada di Kota Selatan.


Mereka pun dibawa ke sebuah hotel yang berada tak jauh dari lokasi kompetisi yang akan diadakan.


Kompetisi Sains dan basket ball itu diadakan di universitas ternama di Korea Selatan.


Hari ini mereka akan beristirahat, agar besok dapat mengikuti kompetisi dengan kondisi tubuh mereka fit dan bugar.


Mereka masuk ke dalam hotel tersebut lalu mereka melangkah menuju kamar masing-masing.


Saat mereka hendak masuk ke dalam lift, ternyata kapasitas lift tidak mencukupi jumlah orang yang berada di lift tersebut.


Akhirnya, Tian menarik tangan Arumi keluar dari lift itu.


"Kalian duluan, saja. Aku akan menyusul," ujar Tian pada Ridho dan yang lainnya.


Arumi hendak menarik Laras tapi pintu lift sudah keburu tertutup.

__ADS_1


Tian mengajak Arumi masuk ke dalam lift khusus untuk pejabat tinggi hotel, Arumi mengernyitkan dahinya heran.


Bersambung...


__ADS_2