Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 60


__ADS_3

"Tidak, ini tidak mungkin," Isak Arumi.


Langkah Tian terhenti di depan pintu masuk ruang rawat Arumi.


Tian shock mendapat kabar yang baru saja dikatakan oleh dokter. Dia tak menyangka gadis yang dicintainya akan mengalami lumpuh.


Nyonya Moura langsung memeluk putrinya. Dia ikut merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan putrinya.


"Mi, Arumi enggak mau lumpuh, Mi. Arum tidak mau, hiks." Arumi menangis dan memberontak.


"Tidak!" teriak Arumi.


Tian masih mematung di tempatnya, tak berapa lama Tian melangkah mundur, dia memilih untuk keluar dari ruang itu. Di saat itu, sekilas Arumi melihat Tian yang keluar dari ruang rawatnya.


Saat ini Tian tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa kekasihnya kini sudah lumpuh.


Di saat Tian sudah yakin akan memberitahu hubungannya dan Arumi pada kedua orang tuanya. Di saat itulah dia mengetahui kondisi Arumi saat ini.


Tian mulai ragu karena dia takut menyampaikan kondisi Arumi saat ini pada keluarganya.


"Arum, apa yang harus aku lakukan saat ini?" lirih Tian.


Dia mulai menitikkan air matanya. Buliran bening itu terus membasahi pipinya.


Entah mengapa, Tian pun melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Niatnya yang ingin menjenguk Arumi diurungkannya begitu saja.


Tian pun pergi ke suatu tempat, dia ingin menenangkan dirinya yang saat ini tengah kacau memikirkan musibah yang menimpa kekasihnya.


Usai meratapi nasibnya yang kini sudah tidak mampu berjalan, Arumi pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya lalu tak berapa lama dia pun tertidur karena lelah dan efek obat yang diberikan dokter tadi.


Nyonya Moura langsung menghubungi nomor ponsel suaminya.


"Halo," ujar Tian Arnoyd saat panggilan sudah tersambung.


Tuan Arnold baru saja selesai meeting dengan kliennya. dia masih berada di ruang meeting di perusahaannya.


"Papi, hiks." Nyonya Moura mulai menangis.


Tuan Arnold bingung saat mendapat telepon dari istrinya yang langsung menangis.


"Ada apa, Sayang?" tanya Tuan Arnold pada istrinya yang kini menangis sesenggukan.


"Pi, Arumi, Pi. Arum, hiks." Nyonya Moura tidak sanggup menyampaikan apa yang kini terjadi pada sang suami.

__ADS_1


Nyonya Moura hanya bisa menangis, saat ini dia benar-benar membutuhkan sosok suaminya untuk menguatkan dirinya dalam musibah yang tengah mereka hadapi.


"Ada apa, Sayang, katakan apa yang terjadi di sana?" Tuan Arnold mulai panik.


Dia mengkhawatirkan keadaan Arumi saat ini.


Dalam rasa khawatirnya sang istri terus menangis tanpa menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Ya sudah kamu tenang dulu, setelah ini aku akan langsung ke sana," ujar Tuan Arnold bingung.


Dalam situasi seperti ini Tuan Arnold menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan pesawat jet pribadi untuk membawanya menuju Singapura.


Tanpa pikir panjang Tuan Arnold langsung berangkat ke Singapura untuk memastikan keadaan putrinya saat ini.


3 jam Setelah nyonya Maura menghubungi suaminya sang suami pun sampai di rumah sakit.


Tuan Arnold langsung menuju ruang rawat Sang Putri, dia melihat istrinya tengah duduk bersedih di atas sofa yang tersedia di ruang rawat putrinya.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Tuan Arnold khawatir.


Nyonya Moura mengangkat kepalanya saat mendengar suara pria yang sangat dicintainya sudah berada di dalam ruangan itu.


Nyonya Moura berdiri dan langsung memeluk tubuh kekar sang suami. Dia mulai mencurahkan semua keluh kesah yang ada di hatinya.


"Apa yang terjadi, Mi?" tanya Tuan Arnold yang masih penasaran dengan apa alasan istrinya sejak tadi tidak berhenti menangis.


"Apa?" lirih Tuan Arnold tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


Dia menoleh ke arah putrinya yang kini tengah berbaring, wajah cantiknya kini terlihat sembab.


Nyonya Maura pun menceritakan apa yang baru saja terjadi.


"Arumi sudah sadar dari komanya, tapi dia mengalami lumpuh pada kakinya," jelas Nyonya Moura pada sang suami.


Tian Arnold bersyukur saat mendengar putrinya sudah sadar, tapi dia bersedih karena kabar yang menimpa putrinya.


"Kamu sabar dulu ya sayang, kita akan lakukan apapun untuk mengobati Arumi agar dia bisa kembali berjalan," ujar Tuan Arnold menyemangati istrinya.


"Saat ini kita harus memberi semangat kepada Arumi agar dia tidak terpuruk dengan apa yang kini menimpanya." Tuan anak terus menasehati istrinya agar kuat menerima ujian yang diberikan oleh Tuhan.


Kedatangan Tuan Arnold menjadi obat bagi Nyonya Moura. Dia kini mulai tenang.


Menjelang malam, Arumi kembali terbangun. Tuan Arnold langsung menghampirinya.


"Sayang," lirih Tian Arnold.

__ADS_1


Arumi berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.


Tian Arnold memeluk tubuh sang putri.


"Papi, a-aku lumpuh, Pi." Arumi langsung mengadukan apa yang terjadi pada dirinya pada satu-satunya pria yang menjadi tempat dirinya berkeluh kesah.


"Kamu harus sabar ya, Nak. Ini ujian dari Tuhan, kamu harus yakinkan dirimu bahwa kamu akan bisa kembali berjalan seperti semula. tapi akan melakukan apapun untuk kebaikanmu," ujar Arnold menghibur putrinya.


"Iya, Pi. Aku akan berusaha kuat menerima ujian ini," lirih Arumi.


Tuan Arnold dan Nyonya Moura tersenyum melihat Arumi sudah bisa menerima takdir yang harus dijalaninya.


****


Dua Minggu berlalu. Arumi sudah diperbolehkan dokter pulang ke rumah.


Untuk saat ini Arumi masih menggunakan kursi roda sebagai alat bantu baginya beraktifitas.


Tuan Arnold menyediakan kursi roda terbaik untuk putrinya sehingga Arumi tidak kesulitan memutar roda kursi rodanya dengan tangan.


Di sore hari yang cerah, Laras datang ke rumah Arumi. Laras baru saja sempat mengunjungi sahabatnya karena dia mulai sibuk dengan ujian di sekolah.


Hari ini Laras datang dengan membawakan catatan pelajaran Arumi yang tertinggal.


Dia juga menjelaskan pelajaran yang tidak dipahami oleh Arumi.


Kedatangan Laras yang membantunya untuk belajar membuat Arumi tidak patah semangat.


"Ras, lu enggak capek jelasin semua ini ke gue?" tanya Arumi setelah mereka mengakhiri pelajar sore ini.


"Enggak, lagian kan sekaligus gue mengulangi pelajaran yang diberikan guru tadi," jawab Laras.


"Makasih ya, Ras. Lu masih setia menemani gue yang lumpuh ini," lirih Arumi.


Tiba-tiba wajah Arumi berubah sendu. Dia teringat dengan Tian yang tak pernah lagi mengunjungi dirinya sejak dia.sadarkan diri hingga saat ini dia sudah berada di rumah.


"Hush, jangan ngomong gitu. Nanti pas liburan, gue akan datang untuk membantu lu terapi agar lu bisa sehat," ujar Laras memberi semangat pada sahabatnya.


"Mhm," gumam Arumi masih dengan raut wajah sedihnya.


"Lu kenapa?" tanya Laras penasaran melihat wajah sedih sahabatnya.


"Ras, gue enggak nyangka pria breng*ek itu tidak pernah lagi datang menemui gue." Arumi mengingat sosok Tian yang sudah menghilang dari hidupnya.


Laras terdiam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2