
"Aldo benar, kita coba lihat dulu kemampuan Betrand," ujar Tian menasehati anak didiknya.
Dia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh anggota tim yang diasuhnya.
"Ayo, lanjutkan latihan," ujar Tian lagi memberi semangat pada mereka.
Betrand menampilkan kemampuannya dalam bermain basket, dengan mudah dia dapat mengambil simpati teman-teman di timnya.
Semua anggota tim bertepuk tangan melihat keahlian Betrand dalam bermain bola basket.
Usai latihan basket, Betrand bersiap-siap untuk pulang. di saat itu dia melihat Arumi dan Laras melangkah beriringan menuju parkiran sekolah, mereka juga saudara selesai melaksanakan belajar tambahan bersama Pak Ridho.
"Arumi," panggil Betrand.
Arumi dan Laras menghentikan langkah mereka dan menunggu Betrand yang kini berlari kecil menghampiri mereka.
Tian melihat dengan jelas keakraban yang terjalin di antara Arumi dan murid baru itu.
"Sejak kapan mereka menjadi sedekat itu," gumam Tian tidak suka.
Tian terus memperhatikan interaksi ketiga siswanya itu.
"Kalian pulang pakai apa?" tanya Betrand pada Arumi dan Laras.
"Mhm,--" Arumi dan Laras belum sempat menjawab.
"Bagaimana kalau aku antar, aku ke sekolah bawa mobil," ujar Betrand pada dua siswi teman barunya itu.
"Tidak usah, terima kasih atas tawarannya. kebetulan aku bawa sepeda motor," jawab Arumi.
"Iya biasanya, aku pulang bersama Arumi," ujar Laras menambahkan.
"Oh, ya udah kalau begitu aku duluan," ujar Betrand.
Betrand pun melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sepeda motor milik Arumi.
Arumi melihat Betrand menggunakan mobil sport keluaran terbaru, dari mobil tersebut Arumi dapat mengetahui bahwa Betrand merupakan anak orang kaya dan berkelas.
"Wow, Rum. Sepertinya Betrand itu anak orang kaya, deh," ujar Laras.
"Iya, Ras. Tapi, gue tidak suka dengan gayanya." Arumi jujur pada sahabatnya.
Arumi dan Laras masih berdiri di depan sepeda motor gede milik Arumi. Mereka membiarkan Betrand pergi terlebih dahulu.
"Yuk, kita pulang," ajak Arumi pada sahabatnya setelah memastikan Betrand sudah tak berada di kawasan sekolah.
****
Waktu kompetisi telah tiba. Arumi dan Laras siap bertanding.
__ADS_1
Mereka sudah berada di SMA Nusantara lokasi Olimpiade Sains tingkat nasional.
Arumi dan Laras sudah siap untuk mengikuti olimpiade mulai dari membahas soal serta beberapa praktek kimia dan fisika mereka lakukan.
Rentetan pertanyaan dilewati oleh Arumi dan Laras hingga semuanya berakhir pada pukul 11.45, kali ini semua peserta dikumpulkan menyelesaikan beberapa pertanyaan tertulis. Dalam 50 orang peserta akan diambil 20 orang untuk mengikuti tahap selanjutnya.
"Gimana, Ras?" tanya Arumi setelah mereka keluar dari ruang komputer yang ada di SMA Nusantara.
"Lumayan, kalau lu gimana?" jawab Laras.
"Mhm, lumayan juga sih," jawab Arumi.
"Bagaimana?" tanya Pak Ridho penasaran.
Dia sebagai guru pendamping merasa gugup dengan hasil usaha anak didiknya.
"Lumayan, Pak," sahut Arumi dan Laras serentak.
Dua gadis itu terlihat biasa saja dan santai.
"Alhamdulillah, semoga kita lolos di tahap berikutnya." Ridho mengangguk penuh harap.
"Ya sudah, kita makan siang dulu. Setelah ini kita ikut menyaksikan tim basket sekolah kita akan bertanding," ajak Ridho.
"Baiklah, Pak," sahut Arumi dan Laras.
Mereka enggan untuk pulang terlebih dahulu.
"Gimana, Rum, Ras?" tanya Aldo pada Arumi dan Laras saat melihat mereka bertiga masuk ke dalam kafe tersebut.
Arumi dan Laras saling melempar pandangan.
"Do'akan saja kami lolos babak berikutnya," ujar Arumi dan Laras serentak.
"Sini, Rum," panggil Betrand menarik sebuah kursi yang ada di sampingnya.
Dia berharap Arumi akan duduk di sampingnya.
Arumi melangkah mendekati Betrand. Dia menarik tangan Laras untuk bergabung dengan Aldo dan Betrand.
Sepasang mata melihat pemandangan yang membuat hatinya tiba-tiba memanas.
Dengan jelas dia melihat sosok Arumi yang ramah pada siapa pun, dia bergaul tanpa mengenal bulu. Terlihat dengan jelas teman-temannya senang bergaul dengannya.
"Kalian pesan saja makanan yang kalian mau," perintah Ridho pada semua siswanya yang ada di kafe itu.
"Siap, Pak. Terima kasih," sahut semua siswa senang.
Mereka memilih makanan yang mereka suka lalu memesannya pada pelayan yang bekerja di sana.
__ADS_1
Ridho dan Tian duduk di tempat bagian paling pojok agar mereka dapat mantau semua siswa mereka yang ada di dalam kafe tersebut.
"Bro, masih aja lu perhatiin si Laras," bisik Ridho menuduh sahabatnya itu tengah curi-curi pandang pada siswinya.
"Ish, lu jangan nyebar gosip yang bukan-bukan," ujar Tian dengan nada yang penuh penekanan.
"Lagian dari tadi gue perhatikan sorotan mata lu enggak luput dari dia," ujar Ridho meledek sahabatnya.
"Apaan, sih? Gue mau pesan jus buah naga, dong," ujar Tian mengalihkan pembicaraan.
"Siip," sahut Ridho.
Ridho pun memanggil pelayan lalu meminta apa yang diminta oleh sang sahabat.
Kelihatannya, Tian tidak ingin mengumbar rasa sukanya pada sang siswi.
Tak berapa lama makanan sudah terhidang di atas meja mereka masing-masing begitu juga dengan Tian dan Ridho.
Mereka mulai menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.
Sepanjang mereka menikmati makanan mata Tian tak luput dari sosok Arumi yang terlihat sangat akrab dengan Betrand sang murid baru.
Saat makan veteran melihat bekas saus di bibir Arumi. Lalu dia langsung berinisiatif untuk mengambil tisu.
"Rum, kalau makan jangan belepotan gitu," ujar Betrand pada Arumi.
Seketika Arumi menghentikan kegiatan makannya dia menatap dalam pada bola mata hitam yang terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terima kasih," lirih Arumi sambil menunduk malu.
Betrand terlihat sangat perhatian terhadap Arumi meskipun mereka baru saja saling mengenal antara satu sama lain.
Laras juga melihat perhatian lebih yang diberikan oleh murid baru tersebut terhadap sang sahabat, sehingga Laras dapat menyimpulkan bahwa betrand memiliki rasa suka terhadap sahabatnya itu.
Laras hanya bisa diam melihat apa yang dilakukan oleh betrand terhadap sahabatnya.
Di SMA Cendikia memang banyak siswa cowok yang menyukai Arumi, tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk menyimpan rasa itu dan berteman baik dengan gadis sempurna di mata mereka.
Beberapa orang sudah mencoba untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan dengan hati-hati Arumi menolak pernyataan tersebut.
Arumi menolak cinta mereka, tapi dia berharap para cowok itu tetap menganggap dirinya sebagai seorang teman.
Bagi Arumi lebih baik berteman dari pada dia terikat dengan sebuah ikatan pacaran yang tidak tahu ujungnya akan ke mana.
Setelah mereka selesai makan, Tian mengarahkan semua siswanya untuk masuk ke kawasan SMA Nusantara. Tian meminta mereka berlatih menyesuaikan diri dengan ring yang ada di sana.
Semua anggota tim basket yang dididik oleh Tian berdiri lalu melangkah keluar dari kafe.
Arumi juga ikut berdiri, di saat dia hendak melangkah kaki Arumi tersandung kaki kursi hingga dia terjatuh.
__ADS_1
Bersambung...