
Sedangkan tim basket yang menang juga akan ikut bersaing dengan tim basket hebat dari negara lain.
Mereka akan bertanding membawa nama dan mengharumkan negara sambil berlibur menikmati keindahan negara Korea Selatan dan menikmati ketampanan dan kecantikan penduduk Korea Selatan.
Arumi dan Laras bersyukur dengan hasil yang mereka dapat, mereka pun membayangkan perjalanan liburan yang akan mereka jalani meskipun Arumi dan Laras harus tetap belajar dalam perjalanan liburan tersebut.
Setelah itu, Arumi , Laras dan Pak Ridho melangkah menuju gedung olahraga SMA Nusantara.
Saat sampai di sana terlihat tim basket SMA Cendekia tengah beristirahat mempersiapkan pertandingan final.
Kompetisi akan dilanjutkan beberapa menit lagi, mereka tengah mengumpulkan tenaga untuk pertandingan selanjutnya.
"Bagaimana?" tanya Ridho pada Tian yang berdiri di antara mereka.
"Ini lagi nunggu Final," jawab Tian.
"Gimana, Rum, hasilnya?" tanya Aldo tak sabar ingin mengetahui hasil kompetisi Sains yang diikuti oleh Arumi dan Laras.
Laras dan Arumi saling melempar pandangan.
"Seperti biasa," jawab Arumi dan Laras serentak.
"Benarkah?" sahut Aldo senang.
"Seperti biasa?" Betrand mengernyitkan dahinya karena dia tidak paham dengan jawaban Arumi dan Laras.
Betrand juga penasaran dengan hasil kompetisi yang diikuti oleh Arumi dan Laras.
"Alhamdulillah, Arumi dan Laras itu juara 1 dan 2," ujar Rendy menjelaskan.
Mereka sudah hapal posisi yang diraih oleh kedua sahabat itu.
"Siapa yang juara 1? Siapa yang juara 2?" tanya Betrand.
"Coba tebak!" seru Arumi dan Laras sambil tersenyum.
Mereka sangat senang melihat ekspresi penasaran dari teman baru mereka.
Ridho ikut tersenyum melihat keisengan Arumi dan Laras.
Tian melihat hal itu, sebenarnya dia juga penasaran dengan hasilnya tapi dia memilih diam karena Betrand sudah mewakili dirinya untuk bertanya hasil kompetisi Sains tersebut.
"Laras juara 1, Arum juara 2," seru Aldo.
"Arumi juara 1, Laras juara 2," seru Rendy tak mau kalah.
"Hahaha," tawa kedua haid itu pecah.
Tian dapat menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari gadis tengil yang kini mulai menarik perhatiannya.
"Yang benar siapa?" tanya Satria ikut penasaran.
__ADS_1
"Menurut kalian?" tanya Arumi lagi.
Dia masih saja enggan memberi jawaban dari pertanyaan teman-temannya.
Laras tersenyum melihat keusilan Arumi.
"Pak Ridho, siapa yang juara 1?" tanya Betrand tak sabar.
Betrand memilih bertanya pada guru pembimbing mereka.
"Hahaha," tawa Laras dan Arumi semakin pecah.
Mereka tidak dapat menahan tawa karena ekspresi Betrand yang benar-benar penasaran dengan hasil kompetisi itu.
"Arumi juara 1," jawab Ridho kasihan pada Betrand.
"Benar, Rum? Selamat, ya." Betrand menjabat tangan Arumi.
"Trus lu enggak kasih selamat buat gue?" tanya Laras kesal.
"Eh, iya. Lu juga selamat, Ras. Kalian berdua memang hebat," puji Betrand.
"Wah, go Korea, nih," ujar Satria.
"Iya, makanya kalian juga harus menang, dong. Biar kita bisa pergi bareng," ujar Laras memberi semangat.
"Siap!" seru Aldo sambil mengacungkan jempolnya.
Priiiit.
Terdengar peluit panjang ditiup oleh wasit.
"Ayo, Anak-anak. Kalian pasti bisa!" seru Tian memberi semangat pada anak didiknya.
Arumi menoleh ke arah Tian yang memberi semangat pada tim basket SMA Cendekia.
"Ras, kita cari tempat duduk, yuk." Arumi sadar dengan keberadaan Tian di dekatnya.
Dia malas melihat wajah pria yang dibencinya itu, dan memilih untuk menjauh darinya.
Mereka memilih duduk di bangku suporter yang berasal dari SMA Cendikia, mereka ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Gimana, Rum? Kalian memang?" tanya Bunga juga penasaran dengan hasil kompetisi yang diikuti oleh Arumi dan Laras.
Bunga adalah suporter setia mendukung tim basket dari sekolahnya, pasalnya pelatih tim adalah guru tampan yang sangat dikaguminya ditambah dengan kehadiran Betrand yang super santai, dan dia juga tidak kalah tampan dari sang guru.
"Alhamdulillah, kita menang," jawab Laras.
"Asyik, berarti kalian go Korea, dong. Titip salam buat kekasih gue yang ada di sana, ya," ujar Bunga ikut senang.
Arumi dan Laras hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Mereka sudah mengenal Bunga, teman mereka yang super heboh saat melihat cowok-cowok tampan di mana pun dia berada.
"Pertandingan antar SMA Cendikia dan SMA Nusantara akan dimulai!" teriak sang pembawa acara.
Semua penonton bersorak riuh memberi semangat pada kedua tim.
Tim SMA Nusantara dan SMA Cendikia merupakan tim yang sama-sama kuat, tim basket dari SMA Cendikia harus bekerja keras untuk memenangkan pertandingan itu.
Pertandingan di mulai, wasit melambungkan bola ke atas, Aldo sebagai kapten basket bersiap untuk merebut bola.
Namun, kapten tim SMA Nusantara dapat mengambil bola itu lebih awal karena lompatannya lebih tinggi dari Aldo.
Aldo berusaha mengejar sang kapten, dia tengah berjuang memperebutkan bola dari tangan sang kapten.
Meresa dipepet terus oleh Aldo, sang kapten mengoper bola pada temannya dan di saat itu, Betrand dapat meraih bola, dia menggiring bola itu menuju ring lawan, dengan gesitnya hingga dia dapat memasukkan bola ke keranjang basket.
1-0 untuk skor awal buat SMA Cendikia. Semua penonton bersorak riuh, tepuk tangan penonton membuat semangat pemain semakin menggebu.
"Go Cendikia go!" teriak bunga mengomando suporter dari sekolahnya.
Sorak Sorai bergemuruh di gedung olah raga SMA Nusantara.
Tak berapa lama, tim SMA Nusantara pun mencetak skor. Persaingan di antara mereka terjadi sangat sengit.
Persaingan tidak hanya terjadi di tengah lapangan. Persaingan sengit pun terjadi antara suporter sehingga gedung olahraga terdengar sangat ricuh.
Pemain basket tetap fokus dengan permainan, Tian menyaksikan pertandingan yang ada di hadapannya. Dia merasa khawatir dengan hasilnya nanti.
Tim basket SMA Nusantara bermain sangat bagus, kekompakan mereka dan teknik yang mereka gunakan membuat tim basket SMA Cendekia kewalahan.
Hal itu membuat Betrand bermain individual, setiap kali Betrand berbagi bola pada temannya bola selalu bisa direbut oleh lawan.
Peluit panjang pun ditiup oleh wasit pertanda babak terakhir selesai.
Semua pemain bubar dan berkumpul di pinggir lapangan.
Tian mulai memaki-maki anak didiknya, dia terlihat tidak sabar. Permainan mereka yang selama ini terkenal bagus berantakan di saat bertanding dengan tim SMA Nusantara.
Arumi melihat Tian yang tengah memaki-maki teman-temannya. Dia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Tian.
Arumi berdiri lalu melangkah menghampiri tim basket SMA Cendekia yang kini tengah menunduk merenungi kata-kata sang pelatih.
"Rum, Lu mau ke mana?" tanya Laras heran.
Arumi tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, dia terus melangkah mendekati teman-temannya.
"Guys," ujar Arumi.
Semua teman-temannya mengangkat kepala dan menatap gadis cantik yang sangat mereka segani di sekolah itu.
Bersambung...
__ADS_1