Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 86


__ADS_3

Semua mata pengunjung tertuju pada mereka.


Tian yang kini sudah memiliki kekuatan tidak ingin dibentak begitu saja di depan orang banyak.


"Kyomi! Jaga sikapmu!" bentak Tian.


Arumi dan Laras saling berpandangan, saat ini mereka tahu siapa wanita yang selalu membentak Tian di depan umum.


Arumi tidak terima dengan apa yang dilakukan wanita itu. Dia meremas ujung taplak meja geram.


"Kamu membentakku?" Kyomi shock saat sang suami yang selalu menuruti apa yang diinginkan kini tidak mau lagi mengikuti kata-katanya.


"Apakah gara-gara wanita ini kamu berani melawan apa yang aku katakan?" bentak Kyomi tak mau kalah.


Dia menarik tangan Arumi yang membuat gadis itu kaget dan terpaksa berdiri.


Kyomi hendak mencakar wajah Arumi karena dia kesal dan marah pada Arumi. Dia tidak terima suaminya dekat dengan wanita lain selain dirinya.


"Hentikan, Kyo!" bentak Tian memberi peringatan pada istrinya.


Tian tidak mau istrinya itu menyentuh wanita yang dicintainya.


"Pulanglah," ujar Tian melunak.


Kyomi masih bersikeras ingin menghancurkan wajah Arumi. Dia kesal melihat perubahan yang terjadi pada sikap sang suami.


Tak berapa lama seorang pria datang menghampiri mereka yang sedang ribut.


"Ada apa, Sayang?" ujar pria itu pada Kyomi.


Tangan sang pria langsung melingkar di pinggang seksi milik istrinya.


Tian dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Kyomi di belakangnya.


Kyomi menoleh pada kekasihnya, dia berusaha melepaskan tangan sang pria yang sudah anteng melingkar di pinggangnya.


"Mas, tolong bawa kekasih mas ini menjauh dari sini," pinta Tian pada kekasih Kyomi.


"Ayo, Sayang," ujar si pria membawa Kyomi keluar dari resto tersebut.


Semua orang yang ada di sana pun kembali fokus ke makanan yang terhidang di depan mereka masing-masing.


"Kenapa dia bisa sampai sini?" tanya Tian pada Nick.


"Mana gue tau," jawab Nick sambil mengangkat bahu.


Tak berapa lama setelah itu pelayan datang membawa pesanan mereka, si pelayan menghidang makanan tersebut di atas meja.


"Silakan, Tuan, Nona," ujar si pelayan sebelum meninggalkan mereka.

__ADS_1


Mereka mulai menikmati santapan makan siang yang kini sudah terhidang di atas meja di depan mereka.


Mereka menikmati makan siang itu dengan lahap, tak ada seorangpun yang mengeluarkan sepatah kata hingga makanan tersebut habis tak bersisa.


"Ini doyan atau lapar, ya?" ujar Laras melihat piring kosong yang ada di hadapan mereka.


"Hahaha." mereka pun tertawa mendengar pertanyaan dari Laras.


Sementara itu di dalam mobil kekasihnya, Kyomi marah-marah pada pria yang kini berada di dalam mobil bersamanya.


"Kenapa kamu menghalangiku tadi?" bentak Kyomi pada sang kekasih.


"Sayang, apa yang kamu lakukan tadi itu bikin malu," ujar sang kekasih menasehati Kyomi.


"Biarin, dia pantas dipermalukan," ujar Kyomi tanpa pikir panjang.


"Apakah kamu tidak melihat semua orang yang ada di dalam resto itu melihat ke arahmu," ujar sang kekasih kesal.


Kyomi terdiam mendengar ucapan sang kekasih. Dia kini mulai menyadari apa yang sudah dilakukannya terhadap Tien selama ini pasti menjadi sorotan orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"Siapa mereka?" tanya sang kekasih mulai penasaran dengan sosok pria dan wanita yang tadi sempat dibentak oleh Kyomi.


"Pria itu Tian, suamiku, tapi aku tidak tahu, siapa wanita yang berada di sampingnya." Kyomi jujur pada kekasihnya.


" Oh, jadi itu suami kamu," lirih si kekasih.


Sang kekasih melayangkan ciu*man mesra pada Kyomi.


Kyomi membalas ciuman itu dengan penuh naf*u. Tak sengaja waktu yang bersamaan, Nick berada di parkiran resto hendak mengambil sesuatu di mobil.


Nick melihat adegan pan*as yang dilakukan oleh istri sahabatnya dengan sang kekasih.


Nick langsung merekam kejadian itu dengan ponselnya.


"Mana tahu ini bisa menjadi bukti mempermudah perceraian Tian dengan Kyomi," lirih Nick lalu dia pun kembali masuk ke dalam resto.


****


Sesampai Tian di rumah, Tian tidak mendapati sang istri berada di rumah.


Tian langsung masuk kamarnya, dia langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia mengabaikan ketiadaan sang istri, bagi Tian menikah dengan Kyomi sama saja dengan tidak menikah.


Dari awal pernikahan Kyomi tak pernah sedikitpun menganggap Tian sebagai suaminya.


Usai Tian membersihkan diri, Kyomi masih belum juga datang.


Dia mengabaikan hal itu, akhirnya dia pun mengambil bantal dan selimut lalu membawanya menuju sofa, dia sudah bersiap untuk tidur di atas sofa yang ada di dalam kamar itu.

__ADS_1


Meskipun satu minggu ini Kyomi mengizinkan dirinya tidur satu tempat tidur dengannya, tapi dia enggan untuk melakukan hal itu malam ini.


Selama satu minggu ini, dia tidur di samping Kyomi, istrinya itu selalu meminta tidur di dalam pelukan tubuh kekar sang suami.


Kyomi mulai ketagihan dengan hangatnya pelukan dari Tian, dia merasakan suatu kenikmatan yang berbeda dengan pelukan kekasihnya yang ada di luar sana.


Sebagai seorang laki-laki, Tian risih dengan hal itu. Untuk itu, sebelum Kyomi datang dia harus sudah tertidur dengan pulas agar dia bisa terhindar dari permintaan konyol istrinya itu.


Sementara itu di mansion, Arumi tengah duduk di ruang tamu, dia tengah menunggu kedua orang tuanya pulang.


Malam ini, Tuan Arnold dan Nyonya Moura menghadiri sebuah acara resepsi pernikahan putri dari rekan kerjanya.


Sehingga mereka belum bertemu dengan Arumi.


Arumi menunggu kedua orang tuanya sambil mengotak-atik ponselnya.


Dia teringat untuk menghubungi Tian, tapi Arumi tidak mengetahui nomor ponsel Tian yang baru.


Sejak mereka sudah berpisah, baru kali ini mereka kembali berinteraksi. Hari ini, menjadi hari pertama hubungan mereka kembali dimulai.


Arumi bingung harus mencari nomor ponsel Tian di mana, dia malu untuk menanyakan hal itu pada Laras.


Tak berapa lama dia men- scroll media sosial yang dia punya.


Dia melihat berita pernikahan Tian dan Kyomi beberapa bulan yang lalu.


Hati Arumi merasa sakit saat melihat wanita yang tadi membentaknya di resto berdiri menggandeng lengan pria yang dicintainya.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Arumi berdering saat dia masih larut dalam luka yang dirasakannya.


Arumi menautkan kedua alisnya saat melihat nomor tak dikenal menghubunginya.


"Siapa ini? Siapa yang menghubungiku dengan nomor baru?" gumam Arumi di dalam hati.


Awalnya Arumi enggan mengangkat panggilan tersebut, karena dia takut yang menghubungi itu seorang penipu.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Arumi kembali berdering dari nomor yang sama.


"Siapa sih, ini? atau lebih baik aku angkat saja?" gumam Arumi.


Akhirnya Arumi menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Halo," lirih Arumi berhati-hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2