
Selesai jam pelajaran olahraga semua siswa kembali ke kelas masing-masing.
"Gue bantuin, ya," ujar Betrand.
"Mhm," gumam Arumi.
Arumi tidak menolak bantuan dari temannya itu.
"Gue salut sama lu, Rum. Lu memang gadis yang tegar dan kuat," puji Betrand.
Tidak hanya Betrand yang memuji Laras, banyak teman mereka juga salut dengan Arumi. Mereka yang tidak pernah dijahati oleh Arumi selalu bersikap baik padanya.
Semua temannya sangat menyayangi Arumi, mereka tidak menghina dan mencaci kondisi Arumi saat ini, justru mereka selalu memberikan support kepada Arumi.
Mereka juga berharap, semoga Arumi dapat kembali bisa berjalan.
"Terus, apa lu mau gue meratapi dan menangisi apa yang sudah terjadi?" ujar Arumi menanggapi ucapan Betrand.
"Ya enggaklah, Rum. Gue senang liat lu tetap semangat menjalani hidup," ujar Betrand jujur.
Sesampai di kelas mereka kembali melanjutkan pelajaran. Kali ini Ridho masuk ke dalam kelas.
"Arum, kami sudah masuk kelas?" tanya Ridho pada siswi teladannya.
"Sudah, Pak. Alhamdulillah," lirih Arumi.
Arumi menatap tak pada Ridho karena Arumi tahu betul bahwa Ridho merupakan sahabat dari Tian.
Dia yakin saat ini Ridho tahu di mana Tian berada dan apa yang terjadi padanya.
Ridho menyadari tatapan Arumi terhadapnya, tapi Ridho berusaha mengabaikan hal itu.
Dia pun melanjutkan pelajaran seperti. biasanya. Dua jam mata pelajaran berlalu. Akhirnya mata pelajaran Fisika pun usai.
"Baiklah, Anak-anak. Pelajaran hari ini usai, kita lanjutkan Minggu depan," ujar Ridho menutup pelajaran.
"Arum, bisa kamu iku saya?" tanya Ridho pada Arumi.
"Iya, Pak," sahut Arumi.
Setelah itu Arumi pun keluar dari kelas di bantu oleh Betrand.
Ridho menunggu Arumi di taman depan kelasnya.
"Betrand kamu bisa tinggalkan Bapak dan Arumi," pinta Ridho pada siswanya yang sudah menolong Arumi keluar dari kelas.
Betrand pun melangkah meninggalkan mereka, dia mengajak Laras untuk makan ke kantin.
"Pak Ridho ngapain ya sama Arumi?" tanya Betrand curiga.
__ADS_1
Dia merasa cemburu saat Ridho meminta waktu Arumi sebentar.
"Gue juga enggak tau, nanti kita tanya langsung sama Arumi," ujar Laras cuek.
Di depan taman kelas Arumi dan Ridho duduk sambil memandangi beberapa orang yang sedang bermain basket di lapangan.
"Ada apa, Pak?" tanya Arumi pada Ridho.
"Mhm, saya senang kamu sudah bisa mengikuti pelajaran di sekolah," ujar Ridho berbasa-basi.
Dia bingung memulai pembicaraan yang akan dibahasnya.
"Alhamdulillah, Pak. Saya bisa bangkit dari keterpurukan saya meskipun orang yang sudah berjanji selalu mendampingi saya dalam keadaan apa pun kini tak lagi memperlihatkan wajahnya di hadapan saya," ujar Arumi menyindir Ridho akan sahabatnya yang sudah menghilang.
"Saya sendiri juga tidak tahu di mana dia sekarang? Terakhir dia datang ke sekolah dan meminta saya untuk menyampaikan surat pengunduran dirinya pada pihak sekolah," ujar Ridho.
"Saya minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Tian padamu," lirih Ridho.
Saat ini Ridho juga tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu, yang dia tahu saat ini Tian tidak lagi berada di kota Jakarta.
"Mhm, dia memang pria breng*ek, tak seharusnya aku percaya dia begitu saja," ujar Arumi.
"Entahlah, Rum. Sebagai sahabatnya saya meminta maaf atas semua kesalahan sahabat saya," ujar Ridho lagi.
"Apakah ini alasan bapak memanggil saya?" tanya Arumi.
"Mhm, saya merasa bersalah saat kamu menatap saya saat belajar tadi," tutur Ridho jujur.
"Ini bukan salah bapak, saya tidak akan melibatkan bapak dengan masalah saya dengannya. Sejak saya melihat dia pergi di hari itu, saya sudah menutup hati saya untuknya," tutur Arumi jujur.
Arumi mengusap air matanya. Dia mengira. Tian akan datang dan selalu menemani dirinya di masa-masa sulit yang dihadapinya. Tapi, hal itu hanyalah harapan Arumi semata.
Pulang sekolah, Arumi terlihat tengah duduk di kursi rodanya di temani oleh Laras. Dia menunggu Mang Ujang menjemputnya.
"Belum pulang, Rum?" tanya Betrand pada Arumi.
"Masih nungguin mang Ujang, sejak tadi ditunggu belum datang," jawab Arumi.
"Ya udah, gue saja yang mengantarkan kami pulang," ujar Betrand menawarkan diri.
"Tidak usah, gue tunggu Mang Ujang aja, lagian ada Laras yang menemani gue di sini," ujar Arumi menolak tawaran Betrand.
Tak berapa lama, ponsel Arumi berdering.
Arumi mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Arumi melihat nama kontak Mang Ujang tertera di layar ponselnya.
Dia menekan tombol hijau, panggilan pun tersambung.
__ADS_1
"Halo," ujar Arumi.
"Maaf, Nona. Saya masih di jalan, ban mobil bocor. Saya sekarang masih berada di bengkel," ujar Mang Ujang pada Arumi.
"Oh, gitu. Kira-kira masih lama ya, Mang?" tanya Arumi.
"Mhm, lumayan, Nona. Soalnya harus ngantri juga, nih." Mang Ujang merasa bersalah.
"Oh, ya udah. Aku tungguin mang Ujang aja, deh," ujar Arumi.
Setelah itu Arumi pun memutuskan panggilan dengan Mang Ujang.
"Ada apa, Arum?" tanya Laras.
"Mobilnya bocor ban," jawab Arumi.
"Lu mau buru-buru pulang, ya?" tanya Arumi merasa tidak enak pada sahabatnya itu.
"Enggak, kok. Gue temani lu aja di sini," ujar Laras.
Laras tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena kondisi Arumi saat ini.
"Makasih ya, Ras," ucap Arumi.
"Lu apaan, sih. Jangan sering-sering ngomong terima kasih sama gue. Lu udah gue anggap saudara jadi apapun yang gue lakuin itu semua karena lu adalah saudara gue," ujar Laras kesal.
Sejak kondisi Arumi yang tidak bisa berjalan, dia terlihat lebih sensitif dan selalu merasa merepotkan orang-orang yang berada di sekelilingnya.
"Ya udah kalau begitu, gue aja yang nganterin lu pulang," ujar Betrand mengulangi tawarannya.
"Mhm, gimana, Ras?" tanya Arumi pada sahabatnya.
"Udah, ayo ikut." Betrand pun mendorong kursi roda Arumi menuju parkiran.
Dia membantu alumni untuk naik ke dalam mobil, setelah itu dia menyimpan kursi roda Arumi di dalam bagasi mobilnya.
Mau tidak mau Arumi dan Laras akhirnya menaiki mobil milik Betrand.
Arumi duduk di bangku depan sedangkan Laras duduk di bangku belakang.
Dengan senang hati Betrand mengantarkan Arumi dan Laras pulang.
Betrand melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan Betrand selalu melirik ke arah Arumi, dia benar-benar kagum dengan kecantikan Arumi luar dalam.
Sifat dan perilakunya sama cantik dengan paras yang dimilikinya.
"Mhm, oh iya, Ras. Gimana menurut kalian dengan guru olahraga baru kita?" tanya Betrand sengaja menyinggung permasalahan guru olahraga.
__ADS_1
Laras melirik sahabatnya, wajah Arumi terlihat berubah menjadi sendu.
Bersambung...