Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 42


__ADS_3

Laras melangkah mendekati sang Bunda dia duduk di atas tempat tidur tepat di samping bundanya.


"Bun, aku mau pergi sama teman baru. Aku baru mengenalnya beberapa minggu terakhir. Dia orangnya baik, Bun," tutur Laras jujur pada sang bunda.


Meskipun Laras ragu untuk menceritakan kedekatannya dengan Nick, dia tidak ingin sang bunda mencurigai dirinya sehingga Laras memilih untuk jujur.


"Siapa? Dia sekolah di mana?" tanya Bunda Ranti semakin penasaran.


"Mhm, dia mahasiswa, Bun. Katanya dia kuliah di Universitas Putra Indonesia," jawab Laras.


Laras masih ingat Arumi sempat menceritakan bahwa teman dunia mayanya itu kuliah di Universitas Putra Indonesia.


"Oh, mahasiswa. Ya udah, bunda izinkan kamu pergi tapi kamu harus bisa jaga diri ya, Nak. Ingat masa depanmu masih panjang," ujar Bunda Ranti menasehati putrinya.


Sebenarnya bunda Ranti tidak suka melihat putrinya dekat dengan pria di usianya yang masih dini. Bunda Ranti khawatir prestasi putrinya merosot karena hubungan dekat dengan seorang pria.


"Iya, Bun. Lagian aku sama dia cuma temanan kok, tidak lebih dari itu," kelas Laras.


Laras tidak ingin bundanya berpikir bahwa dia memiliki hubungan yang serius dengan pria itu.


"Ya udah, pakai pakaian yang sopan, jangan terbuka," nasehat bunda Ranti.


Bunda Ranti pun keluar dari kamar sang putri dia melangkah menuju ruang keluarga, dia ikut menonton berita bersama sang suami.


Laras mencari pakaian yang akan dikenakannya, dia tampak bingung mau memakai pakaian yang mana, akhirnya dia mengambil sebuah t-shirt putih dan celana jeans lalu dia tidak lua mengenakan outfit selutut agar terlihat lebih sopan.


Laras mengenakan bando, agar terlihat lebih rapi.


"Bun, aku berangkat, ya," ujar Laras menghampiri bunda dan ayahnya yang sedang asyik menonton.


"Kamu mau ke mana, Ras? Hari ini kan libur," tanya Ayah Laras heran.


"Bunda enggak kasih tahu ayah?" tanya Laras pada sang bunda.


"Belum, nanti bunda yang kasih tahu ayah," ujar Bunda Ranti.


Ya udah kalau gitu Laras berangkat dulu ya, Bun, Yah," ujar Laras lalu dia menyalami kedua orang tua yang disayanginya.


"Tapi, Bun. Arumi belum datang jemput dia," ujar Ayah Laras.


Dia mengira putrinya akan pergi bersama Arumi, sahabat putrinya.


"Ayah, nanti bunda ceritakan sama ayah," ujar Bunda Ranti meminta ayah mengizinkan putrinya pergi.


"Ya udah kalau gitu," lirih Ayah terpaksa.


"Laras pergi, Bun, Ayah. Assalamu'alaikum," seru Laras.


Laras melangkah keluar lalu dia menunggu ojek online yang baru saja dipesannya.

__ADS_1


Tak berapa lama ojek online pun datang menghampiri Laras, gadis itu langsung menaiki ojek tersebut, dia meminta sang pengemudi ojek online mengantarkannya ke sebuah kafe yang tidak jauh dari taman kota, tempat mereka janjian.


Di dalam kafe, Nick sudah menunggu Laras. Dia melihat dengan jelas gadis itu baru turun dari sebuah ojek online.


"Kasihan gadis itu," gumam Nick di dalam hati.


Dia merasa tidak tega melihat gadis yang disukainya harus kepanasan di atas ojek online tadi.


Laras melangkah masuk ke dalam kafe, dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe untuk mencari sosok Nick.


Nick tersenyum sambil melambaikan tangannya saat Laras melihat dirinya.


Laras melangkah menghampiri Nick.


"Maaf, kamu pasti sudah lama menunggu," ujar Laras merasa tidak enak hati pada Nick.


"Tidak, aku baru saja menghabiskan secangkir kopi," ujar Nick sambil tersenyum.


"Belum cangkir yang kedua, kan?" ujar Laras mencairkan suasana.


Nick langsung tersenyum mendengar guyonan Laras.


"Rencananya mau minta secangkir lagi kalau kamu masih belum datang," ujar Nick membalas candaan Laras.


"Hahaha." Mereka pun tertawa.


"Mau pesan apa?" tanya Nick pada Laras.


Nick pun memberikan list menu pada Laras.


Setelah itu Nick melambaikan tangannya pada seorang pelayan, tak berapa lama pelayan itu pun menghampiri mereka.


"Iya, Tuan. Mau pesan apa?" tanya si pelayan pada Nick.


Nick menoleh pada Laras menunggu jawaban


"Aku mau spaghetti dan lemon tea," ujar Laras.


"Ya udah kalau gitu, aku ikut apa yang dia pesan," ujar Nick.


"Baiklah, Tuan," ujar si pelayan.


Pelayan pun menulis makanan yang dipesan oleh Nick dan Laras.


Setelah itu mereka pun asyik mengobrol, Nick semakin tertarik dengan Laras karena gadis itu berbeda dengan gadis yang lain.


Menurut Nick, Laras merupakan gadis yang apa adanya. Tingkah lakunya tidak dibuat-buat.


Hal itu membuat Nick semakin tertarik, gadis itu selalu nyambung diajak berbicara apa pun topiknya.

__ADS_1


Mulai dari masalah di sekolah hingga masalah politik yang ada di negara Indonesia.


Laras memiliki wawasan yang luas, hal itu disebabkan karena Laras memang sering menonton berita dengan ayahnya serta dia juga suka membaca berita terkini yang terjadi di negara Indonesia.


"Laras, lu di sini?" Tiba-tiba Bunga datang menghampiri mereka.


Bunga yang sedang hangout bersama teman-temannya tak sengaja melihat Laras duduk bersama pria tampan yang menarik perhatiannya.


Laras kaget saat mendapati teman sekolahnya juga berada di kafe yang sama dengannya.


Laras merasa malu pada temannya itu karena kedapatan tengah berdua dengan seorang pria di kafe itu.


"Laras?" lirih Nick mengernyitkan dahinya heran.


Nick merasa aneh saat mendengar Bunga memanggil Laras dengan nama aslinya.


"Hah?" Laras panik saat ketauan bahwa dirinya bukan Wilona.


Wajahnya berubah pucat, Laras tak tahu harus berkata apa.


"Ras, diam-diam lu menghanyutkan juga, ya. Enggak nyangka lu bisa ngedate sama cowok tampan," ujar Bunga blak-blakan.


Bunga yang bicara ceplas-ceplos tidak sadar bahwa saat ini dia tengah mempermalukan dirinya sendiri.


"Bunga, lu ngomong apa, sih? Kalau ngomong tolong dikontrol dikit," bisik Laras malu.


"Ya elah, Ras. Biasa aja kali, mentang-mentang nih bisa jalan sama cowok cakep, kenalin, dong," rengek Bunga semakin tidak bisa mengontrol dirinya.


Laras panik dia menoleh pada Nick, Laras melihat kebingungan yang terpancar di wajah tampan pria itu.


Laras yakin saat ini Nick pasti mempertanyakan identitas dirinya yang sesungguhnya.


"Maaf, aku beresin dia dulu," ujar Laras pada Nick.


Laras pun menarik lengan Bunga, dia membawa teman sekelasnya itu menjauh dari posisinya tadi.


"Hei, Bunga. Lu apa-apaan, sih. Gangguin orang aja," bentak Laras kesal.


"Lho, gue cuma mau kenalan aja sama cowok yang bareng lu," jawab Bunga santai.


"Tapi lu sudah merusak suasana tau!" bentak Laras lagi semakin kesal.


"Biasa aja kali, Ras. Kalau punya teman cowok itu bagi-bagi, dong, apalagi bening seperti itu," ujar Bunga tidak peduli dengan amarah Laras.


"Bunga! Cukup, dia itu gebetan gue!" bentak Laras.


Entah mengapa Laras mengakui bahwa Nick merupakan gebetannya. Laras hanya tidak suka Bunga tertarik dengan sosok Nick.


"Apa? Cowok itu gebetan, Lu?" Bunga tak percaya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2