
Pemakaman Tuan Basuki baru saja selesai, para pelayat satu per satu sudah meninggalkan TPU setempat. Kini tinggal Kyomi yang masih terduduk lemas menatapi batu nisan pria yang selama ini menjadi orang yang paling penting dalam hidupnya.
Tian ikut berduka dengan apa yang sudah terjadi pada Kyomi. Sebagai seorang suami, Tian berdiri di belakang Kyomi menemani sang istri yang sedang bersedih.
"Kyo, ayo kita pulang." Tian berusaha mengajak istrinya untuk pulang.
Namun, Kyomi masih bergeming di tempatnya. Saat ini dia merasa dunianya sudah runtuh, tak ada lagi yang bisa menjadi tempat dirinya bergantung dan menopang semua keluh kesahnya.
Kyomi merasa hidup sebatang kara di dunia ini, meskipun dia masih memiliki Tian dan sanak keluarga lainnya.
"Kyo," lirih Tian.
Tian memegangi pundak Kyo dan mengajak istrinya untuk bangkit.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan papa seorang diri di sini," bantah Kyomi.
Dia sangat terpukul dengan musibah yang menimpanya saat ini.
"Kyo, kamu harus ikhlaskan semuanya," ujar Tian berusaha membujuk Kyomi.
"Tidak, aku tidak bisa menerima semua ini. Kemarin papa masih sehat-sehat saja," ujar Kyomi.
"Apa jangan-jangan kamu yang memberi racun pada papa?" Kyomi menuduh suaminya.
"Hei, kenapa kamu tiba-tiba menuduhku?" Tian kaget saat mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh Kyomi.
"Kamu orang yang terakhir bersama papa, karena itu kami patut dicurigai bahwa kamu sudah meracuni papa," ujar Kyomi asal.
"Kyomi sadarlah, kamu jangan ngawur," ujar Tian dengan nada yang mulai tinggi.
Tian tidak mau ada orang yang mendengar apa yang dikatakan oleh Kyomi.
Tian pun menarik tangan Kyomi lalu dia memeluk Kyomi dengan erat. Tian membelai lembut rambut sang istri.
Seketika Kyomi yang tadi histeris tak keruan, kini dia sudah tenang. Amarahnya yang sempat menuduh Tian sebagai pembunuh papanya hilang begitu saja.
Dia merasa nyaman dan hangat berada di dalam pelukan pria yang selama ini selalu dianggapnya remeh.
Dia merasakan kasih sayang dari pria yang selalu dimaki-makinya selama ini.
Tian melakukan hal itu karena dia hanya merasa kasihan dengan apa yang menimpa Kyomi, tidak lebih dari itu.
"Kita pulang, yuk," ajak Tian di saat dia merasa Kyomi sudah mulai tenang.
Tanpa menunggu jawaban dari Kyomi Tian menggiring Kyomi menuju mobil yang terparkir di luar pagar TPU.
__ADS_1
Tian membawa Kyomi masuk ke dalam mobil lalu dia pun melajukan mobil menuju kediaman Basuki.
Di rumah megah milik tuan Basuki masih banyak para pelayat yang datang mengungkapkan rasa suka dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Tuan Basuki, papa dari Kyomi.
Sesampai di rumah, Kyomi hanya bisa duduk bersandar di lantai ruang tamu sambil melayani pelayat yang terus saja datang silih berganti.
Seketika Tian teringat dengan kematian kedua orang tuanya. Di saat itu, tak ada seorang pun pelayat yang datang, karena orang-orang yang membantu mengurusi jenazah kedua orang tuanya merupakan orang yang dibayar.
Di malam hari, Kyomi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Tian masih berada di ruang tamu memastikan tidak ada lagi pelayat yang berkunjung.
Setelah itu, dia pun melangkah menuju kamar Kyomi.
Seperti biasa, Tian pun mengambil bantal dan selimut untuk dibawanya ke sofa.
Dia akan beristirahat di sofa tersebut.
"Tian," panggil Kyomi.
Tian menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan tubuhnya.
"Mhm," gumam Tian.
"Maukah kamu menemaniku tidur malam ini, hatiku saat ini masih bersedih." Kyomi meminta Tian tidur bersamanya.
"Ta-tapi," lirih Tian bingung.
"Apakah kamu tidak mau?" tanya Kyomi kecewa.
"Baiklah," lirih Tian.
Tian pun menuruti keinginan Kyomi. Dia meletakkan bantal dan selimutnya setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sama dengan Kyomi.
Awalnya Tian memberi jarak dengan istrinya, tapi Kyomi bergeser lalu memeluk tubuh Tian.
Dia mulai ketagihan berada di dalam dekapan pria tampan yang selalu dibentak-bentaknya selama ini.
Tian bingung bagaiman menolak perlakuan Kyomi, demi menjaga perasaan Kyomi dia terpaksa membiarkan istrinya memeluk dirinya.
Satu minggu sudah berlalu, Kyomi sudah mulai membaik. Kesedihannya perlahan sirna.
Dia yang biasa menghabiskan waktu bersenang-senang dengan teman-temannya, kini memilih untuk berdiam diri di rumah.
Sementara itu, Tian seperti biasa dia berangkat ke kantor untuk menghandle semua yang berurusan dengan bisnisnya.
"Mas," lirih Kyomi saat Tian hendak masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Tian mengabaikan panggilan dari Kyomi, karena tidak biasanya Kyomi memanggil dirinya dengan sebutan 'mas'.
Tian membuka pintu mobilnya.
"Mas Tian," teriak Kyomi saat Tian hendak masuk ke dalam mobil.
Tian pun mengurungkan diri untuk masuk ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Tian pada Kyomi.
Kyomi melangkah mendekati sang suami.
"Mas, nanti kamu makan siang di rumah, ya," pinta Kyomi.
Kyomi ingin menyiapkan makan siang istimewa di rumah untuk sang suami.
Tian menautkan kedua alisnya, dia heran dengan sikap manis sang istri terhadapnya yang mana selama ini istrinya selalu berbuat kasar terhadap dirinya.
"Maaf hari ini ada meeting di luar kemungkinan besar kami akan makan siang bersama," ujar Tian mencari alasan.
Dia enggan untuk memberi harapan kepada istrinya yang kini mulai bersikap baik padanya.
"Ya udah kalau begitu aku ikut makan siang bersama kamu, ya," rengek Kyomi.
Begitulah sikap Kyomi yang selalu memaksa siapapun untuk mengikuti apa yang dia inginkan.
"Tidak bisa ini urusan pekerjaan bukan urusan keluarga," ujar Tian
"Tapi aku mau makan siang sama kamu, Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus pulang di saat makan siang." Kyomi memaksa Tian untuk setuju dengan permintaannya itu.
"Kyo, kamu tidak boleh seperti ini. Tidak semua apa yang kamu inginkan harus aku lakukan," ujar Tian dengan tegas.
Kali ini Tian sudah bisa menjadi dirinya sendiri karena semua perusahaan sudah menjadi miliknya, dia tidak perlu lagi menuruti apapun yang diinginkan oleh istrinya.
Tian akan bersikap sewajarnya pada sang istri, meskipun saat ini Global group sudah berpindah ke tangannya, Tian tidak bisa berbuat jahat pada istrinya meskipun Kyomi sering memaki dan membentak dirinya.
Misi Tian untuk merebut apa yang menjadi miliknya sudah tercapai, sehingga dia sudah bisa bersikap seperti apa yang diinginkannya.
Tian sudah bisa bersikap sesuai pribadinya sendiri, rasa takutnya selama ini ditunjukkannya pada sang istri kini mulai sirna karena dia sudah meraih apa yang dia inginkan.
"Aku tidak mau tahu, yang aku mau kita makan siang bersama," ujar Kyomi memaksa Tian.
"Tidak bisa, Kyomi," bantah Tian.
Kyomi kaget melihat Tian berani membantah apa yang dikatakan oleh Kyomi.
__ADS_1
Bersambung...