Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 35


__ADS_3

Betrand melangkah menuju bangku yang kosong di samping Arumi.


"Maaf, gue boleh duduk di sini?" tanya Betrand ramah pada Arumi.


Arumi yang tadinya enggan Dudu sebangku dengan Betrand berubah pikiran karena sikap ramahnya.


"Boleh, duduk saja," ujar Arumi.


Betrand duduk di samping Arumi.


"Kenalkan, aku Betrand," ujar Betrand sambil mengulurkan tangannya.


Arumi melirik tangan Betrand yang menggantung di udara.


"Arumi," ujar Arumi menjabat tangan Betrand.


Seterusnya itu Ridho mulai menjelaskan pelajaran di depan kelas mereka pun mendengarkan penjelasan pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka.


Saat waktu istirahat, Arumi berdiri dan hendak melangkah menuju kantin karena mereka merasa lapar.


"Rum, kamu mau ke mana?" tanya Betrand menghentikan langkah Arumi.


"Gue mau ke kantin, Lu mau ikut?" tanya Arumi menawarkan.


"Boleh," sahut Betrand senang.


Mereka bertiga melangkah menuju kantin, di kantin mereka memesan makanan lalu mereka bertiga pun saling mengenal satu sama lain sambil menikmati makanan yang mereka pesan tadi.


"Aku senang bisa kenal kalian," tutur Betrand.


"Kami juga senang kenal denganmu," ujar Arumi.


****


Pukul 13.00, Tian terburu-buru melangkah keluar dari ruangannya.


Dia melangkah menuju ruangan asisten pribadinya.


"Nick, aku harus berangkat ke sekolah sekarang juga," ujar Tian pada Nick saat dia sudah berada di ruangan Nick.


Nick melirik jam di tanganya, dia mengernyitkan dahinya.


"Lu udah makan siang?" tanya Nick pada Tian.


"Hah? Makan siang?" Tian baru menyadari bahwa dia belum sempat mengisi perutnya.


"Iya," lirih Nick.


Dia semakin heran dengan tugas Tian di sekolah. Nick juga heran pada Tian, sepertinya dia lebih menikmati menjadi guru daripada menjadi seorang CEO di Perusahaan Piramids Groups.

__ADS_1


"Ya ampun, gue sampai lupa, nanti gue makan di sekolah saja," ujar Tian.


"Oh," lirih Nick.


Nick terlihat pasrah.


"Semoga situasi seperti ini tidak berlangsung lama," gumam Nick di dalam hati.


Tian keluar dari ruangan asisten pribadinya, lalu melangkah keluar gedung perusahaan, dia memilih untuk menaiki taxi online menuju sekolah.


Dia harus sampai sekolah secepatnya karena Ridho baru saja menghubunginya dan meminta Tian untuk datang ke Sekolah atas perintah kepala sekolah ada hal yang akan dibicarakan sang kepala sekolah.


20 menit perjalanan, Tian sampai di sekolah, dia disambut langsung oleh sahabatnya.


"Syukurlah, lu sudah datang. Kepsek nungguin," ujar Ridho pada Tian.


"Ya udah, yuk ke sana. Lu ikut temani gue, ya," pinta Tian pada Ridho.


"Siip," sahut Ridho.


Mereka melangkah menuju ruang Kepala sekolah. Saat mereka masuk ruangan Kepala sekolah, Mereka melihat Betrand sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu bersama sang kepala sekolah.


"Pak Tian, Pak Ridho, silakan duduk," ujar Pak Kepala Sekolah.


"Baik, Pak" sahut Ridho dan Tian.


Ridho dan Tian duduk di sofa tepat di hadapan sang Kepala sekolah.


"Tidak, apa-apa, Pak," ujar Tian.


"Begini, Pak Tian. Di sekolah kita kedatangan seorang siswa baru yaitu Betrand," ujar si kepala sekolah sambil melirik ke arah siswa yang duduk di sofa samping mereka.


Betrand melemparkan senyuman pada kedua guru tampan di SMA Cendikia itu.


Dua guru tampan itu pun membalas senyuman sang siswa baru. Mereka ingin mengetahui kelanjutan ucapan dari sang Kepala Sekolah.


"Mhm, Betrand ini merupakan atlet basket di daerah asalnya, dia juga pernah mengikuti kompetisi basket tingkat nasional. Jadi, saya berharap pada Pak Tian untuk menerima Betrand dalam tim yang akan mengikuti kompetisi." Pak Kepala sekolah mulai menyampaikan inti pembicaraannya.


"Oh, bisa, Pak. Kalau begitu dia bisa ikut latihan nanti jam 2, saya akan perkenalkan dengan tim nantinya," ujar Tian menerima Betrand dengan senang hati.


"Bagus, kalau begitu Betrand sudah bisa bergabung dengan anggota tim yang lainnya hari ini," ujar Pak Kepala Sekolah.


Tian mengangguk.


"Kita mulai latihan nanti pukul 14.00," ujar Tian.


"Baik, Pak." Betrand mengangguk.


"Bro, gue ke kantin dulu, ya, gue belum makan siang, nih," ujar Tian pada Ridho setelah mereka berada di luar ruangan Kepala sekolah.

__ADS_1


"Kebetulan gue juga belum makan, yuk bareng," ajak Ridho.


Mereka pun melangkah menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang saat ini terasa sangat lapar.


Tian melihat Arumi dan Laras tengah duduk di kursi pojok kantin, mereka terlihat baru saja selesai makan.


Pandangan Tian terus tertuju pada gadis yang membuat dirinya mulai galau, hati Tian mulai merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Arumi.


"Bro, lu mau makan apa?" tanya Ridho pada sahabatnya.


"Bro," panggil Ridho lagi karena Tian hanya diam mematung.


Akhirnya Ridho pun mengikuti arah pandangan sang sahabat yang kini tertuju pada 2 orang siswi yang sedang asyik mengobrol setelah menghabiskan makanannya.


"Bro, kayaknya lu benaran naksir sama Laras?" tanya Ridho mastikan pada sang sahabat.


Menurut Ridho, Tian memang miliki suatu hubungan khusus dengan Laras.


"Hei, Bro," sentak Ridho pada sahabatnya sambil menyenggol lengan kekar sang sahabat.


"Eh," lirih Tian tersadar dari lamunannya.


Pikirannya yang terus menyesali semua yang sudah dilakukannya terhadap gadis tengil yang sempat mengambil bola basket miliknya.


"Lu benaran naksir sama Laras?" tanya Ridho mengulang pertanyaannya.


Dia semakin yakin sang sahabat sudah menaruh hati pada siswa mereka.


"Apaan, sih? Jangan mengada-ada," bantah Tian.


"Kalau pun benar, gue bakal jaga rahasia, kok," ujar Ridho sambil menarik turunkan alisnya menggoda sang sahabat.


"Hush, ayo pesan makanan," ajak Tian mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya mereka memesan makanan, lalu menyantap makan siang dengan lahapnya.


****


Pukul 14.00 semua tim basket sudah berada di lapangan dan siap untuk menerima arahan dari Sang Guru olahraga atau pelatih basket mereka yaitu Tian.


"Selamat siang, Anak-anak, hari ini kita kedatangan anggota baru di tim kita, kalian semua sudah mengenali siapa Betrand, dia murid baru di sekolah ini. saya berharap kalian bisa menerima beteran dalam tim ini dan bekerja sama untuk membawa nama baik sekolah kita dalam kompetisi nantinya," ujar Tian memulai latihan pada siang hari itu.


Setelah itu mereka melakukan pemanasan, mereka lari keliling lapangan. Beberapa orang menerima dengan senang hati kehadiran Betrand tapi ada beberapa orang anggota tim yang tidak senang melihat kehadiran Betrand dalam tim tersebut.


"Kalian setuju nggak sih ada murid baru langsung masuk tim basket kita?" ujar Satria terlihat tidak suka terhadap sang murid baru.


"Iya, nih. kita aja untuk dapat bergabung dalam tim basket ini harus berjuang susah payah," ujar Rendy yang juga tidak suka.


"Hei, tenanglah, kita coba dulu bagaimana cara mainnya. Mana tahu dia lebih baik dari kita," ujar Aldo menasehati teman-temannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2