Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 79


__ADS_3

"Maafkan saya, Tuan. Saya belum bisa menceritakan apa yang terjadi pada saya, untuk saat ini saya belum bisa menjawab pertanyaan Tuan," jawab Tian menolak untuk mencerahkan apa yang sudah dialaminya.


"Baiklah, tapi saya ingin kamu menjelaskan semuanya pada putri saya," ujar Tuan Arnold meminta Tian untuk jujur pada Arumi.


"Maaf, Tuan. Saat ini saya sedang menyelesaikan masalah yang tengah saya hadapi, mungkin saat ini saya belum bisa menyelesaikan masalah saya dengan Arum," ujar Tian tegas.


"Apakah kamu tidak mencintainya lagi?" tanya Tuan Arnold meminta kejujuran Tian.


"Tuan, sejak saya menyatakan perasaan saya pada Arumi, hanya dia satu-satunya gadis yang di hati saya, tapi saya belum bisa memberitahukan alasan semua tindakan saya padanya," ujar Tian pada Tuan Arnold.


"Saya mohon Tuan mengerti dengan posisi saya saat ini," pinta Tian memohon pada Tuan Arnold.


"Huhft." Tuan Arnold pun menghela napas panjang.


Dia mulai putus asa untuk mempersatukan Arumi dan Laras.


"Tapi, Tian. Saya masih berharap kamu bisa menjadi satu-satunya pria yang bisa menjadi tempat Arumi bersandar," ujar Tuan Arnold penuh harap.


"Selagi Arumi belum menemukan cinta yang lain, saya berjanji akan memperjuangkan cinta saya untuknya," ujar Tian dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, Saya pegang janji kamu, Tian," ujar Tuan Arnold penuh harap.


"Iya, Tuan," sahut Tian penuh percaya diri.


"Kalau begitu, kami pamit dulu, Tuan. Masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan." Tian izin pamit pada Tian Arnold.


"Baiklah, terima kasih, Tian," ucap Tuan Arnold.


Pria paruh baya itu hanya percaya pada Tian untuk menjaga putrinya jika dirinya nanti sudah tiada, karena Tuan Arnold melihat cinta yang tulus di mata Tian untuk putrinya.


"Sama-sama." Tian dan Nick pun keluar dari ruangan tuan Arnold.


Mereka langsung kembali ke perusahaan Global group.


Saat Tian hendak masuk lift, dia berpapasan dengan Arumi dan Laras. yang hendak keluar dari lift.


Nick langsung mendorong Tian yang mematung saat bertatapan dengan Arumi, lalu dia menarik tangan Laras.


Dengan sekejap pintu lift pun tertutup, Arumi tak lagi sempat untuk keluar dari lift tersebut.


Seketika Laras dan Nick memiliki ide gila untuk dia sahabat mereka itu.


Laras langsung menghubungi teknisi untuk menonaktifkan sistem lift yang ada di perusahaan itu sehingga Arumi dan Tian terjebak di dalam lift.


Di dalam lift, Arumi menatap tajam ke arah Tian, tatapan mata Arumi menyiratkan kebencian bercampur cinta.

__ADS_1


Saat melihat pria yang dibenci dan dicintai berada di hadapannya, jantungnya berdetak dengan kencang.


"Eh, ada apa ini!" gumam Arumi saat dia tersadar bahwa lift tidak lagi bergerak.


Tian langsung memeluk erat tubuh Arumi.


"Maafkan aku," lirih Tian.


Arumi dapat merasakan kehangatan yang diberikan oleh Tian padanya.


Dia masih bisa merasakan cinta dan kasih sayang yangs Elama ini diberikan Tian padanya.


"Perasaan apa yang saat ini aku rasakan? apakah aku masih mencintainya?" gumam Arumi di dalam hati.


Tian terus memeluk tubuh Arumi dengan erat, dia dapat merasakan wangi tubuh gadis yang selama ini ada di hatinya, aroma tubuh Arumi masih sama dengan aroma tubuhnya di saat dia masih duduk di bangku SMA, Aroma tubuh yang sangat disukai oleh Tian.


Tian mulai menyentuh pipi Arumi lalu, dia mendekatkan bi*irnya ke bi*ir mungil milik Arumi.


Entah mengapa Arumi membiarkan Tian melakukan hal itu, dia juga meresapi apa yang kini dilakukan oleh pria yang dibencinya tapi masih mengisi penuh hatinya.


Arumi merindukan kedekatan yang selama ini terjadi di antara mereka. Dua insan itu kini melepaskan rasa rindu yang terpendam di hatinya.


Beberapa menit mereka menikmati rasa yang tercurah dalam sebuah perbuatan, mereka hanyut dalam menikmati bertukar saliva. Mulut mereka saling bertaut hingga beberapa menit.


"Apa yang kau lakukan padaku?" bentak Arumi pada Tian.


Tian menatap dalam pada gadis yang dicintainya itu.


"Maafkan aku, Rum," ujar Tian.


"Apakah kamu tidak memiliki kata-kata selain kata maaf?" bentak Arumi.


"Selama ini kamu pergi meninggalkanku, kamu mengabaikanku dalam kondisiku yang sangat membutuhkan dukungan darimu. Kamu ke mana?"


"Sekarang kamu datang dengan kata maaf yang bertubi-tubi, aku tidak butuh permintaan maaf darimu. Aku butuh penjelasan darimu," bentak Arumi.


Arumi pun mulai menangis. Dia mengungkapkan semua rasa yang dipendamnya selama ini.


Tian mulai rapuh, dia tidak sanggup melihat gadis yang dicintainya itu menangis di hadapannya.


"Rum, maafkan aku," lirih Tian.


"Cukup!" bentak Arumi.


"Aku tidak mau dengar permintaan maaf lagi dari mulutmu," bentak Arumi lagi.

__ADS_1


Ingin rasanya Tian mengungkapkan semua yang terjadi, tapi Tian teringat misinya tinggal selangkah lagi.


Dia tidak ingin misinya gagal begitu saja, untuk itu Tian memilih untuk Diam.


Tian melangkah menghampiri Arumi, dia memeluk Arumi dengan erat.


"Saat ini aku hanya bisa meminta maaf, suatu hari nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu," bisik Tian di telinga Arumi.


Tak berapa lama pintu lift terbuka, mereka sudah berada di lantai dasar.


Arumi langsung mendorong Tian keluar dari lift lalu dia menekan tombol naik ke lantai 20, yang mana di sana terdapat ruangan petinggi perusahan Rumi's Group.


Tak berapa lama, Arumi sampai di lantai 20, dia keluar dari lift lalu melihat Nick dan Laras duduk di sofa tunggu lantai itu.


Arumi menatap tajam pada Nick lalu berlalu meninggalkan kedua insan yang kini tengah dimabuk asmara.


Arumi terlihat kesal pada sahabatnya dan Nick, dia langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan papinya.


Laras dan Nick terkekeh melihat reaksi Arumi.


"Apakah rencana kita berhasil?" tanya Laras pada kekasihnya.


"Aku juga tidak tahu," jawab Nick sambil mengangkat bahunya.


Setelah itu mereka pun tertawa.


"Ya udah, aku turun dulu, takutnya Tian nungguin di bawah," ujar Nick berpamitan dengan kekasihnya.


"Iya, kamu hati-hati ya, Sayang," ujar Laras sambil tersenyum.


"Ih, gila. Si Laras udah main sayang-sayang aja sama si Nick," gerutu Arumi yang sengaja mengintip kelakuan sahabatnya.


Nick pun mengecup puncak kepala Laras sebagai salam perpisahan mereka.


Setelah itu, Nick pun masuk ke dalam lift, sedangkan Laras melangkah menuju ruang Tuan Arnold.


"Cie yang lagi kasmaran," sindir Arumi saat Laras baru saja masuk ke dalam ruangan tuan Arnold.


Laras menautkan kedua alisnya heran mendengar sindiran dari sahabatnya.


"Kenapa, Rum?" tanya Laras heran.


"Alah, pake nanya segala lagi. Hati-hati ya, Sayang," ledek Arumi menirukan suara Laras yang bermanja-manja dengan Nick tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2