Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 67


__ADS_3

Arumi membungkuk membantu sang pria merapikan paper bag yang tadi sempat terlepas dari tangannya.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Arumi pada pria yang masih menunduk merapikan barang-barang miliknya.


Setelah merapikan barang-barang miliknya, sang pria berdiri tegak. Dia melihat Arumi yang juga berdiri menggunakan tongkatnya di tangannya.


Pria itu kaget saat melihat gadis yang selam ini dicintainya kini berdiri tepat dihadapannya.


Arumi tak percaya saat melihat pria yang sudah beberapa tahun menghilang dari kehidupannya kini sudah berdiri di hadapannya.


"Ka-kau," lirih Arumi.


Tanpa disadarinya buliran bening mulai membasahi pipi Arumi. Luka yang sudah bertahun-tahun kini kembali terasa sakit.


"Sayang, ayo kita pulang." Seorang wanita yang tidak asing di mata Arumi kini menggandeng tangan Tian yang sedang membawakan barang belanjaan.


Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut Tian, dia membalikkan tubuhnya lalu mengikuti langkah wanita yang mengenakan gaun dengan gay glamour yang ditampilkannya.


Laras ikut terpana saat melihat Tian yang kini melangkah menjauhi mereka.


Arumi mengusap pipinya yang sempat basah karena air matanya yang jatuh begitu saja.


Melihat sahabatnya yang sedih, Laras langsung merangkul tubuh sang sahabat.


"Rum, lu sabar, ya," lirih Laras.


Arumi menoleh ke arah sahabatnya.


"Sudahlah, lupakan yang sudah terjadi," lirih Laras menghibur sahabatnya.


"Ras, kita langsung pulang saja, ya," pinta Arumi.


Akhirnya Arumi dan Laras melangkah keluar dari mall, dengan langkah pinc*ng Arumi keluar dari mall bersama sahabatnya.


Dari kejauhan Tian menatap sendu pada Arumi.


Hatinya hancur saat melihat gadis yang sampai saat ini masih ada dalam hatinya tertatih melangkah dengan tongkat di tangannya.


Tanpa disadarinya, pria tampan yang kini penampilannya tak terurus itu mulai meneteskan air matanya.


Dia tak sanggup melihat gadis yang dicintainya dalam kondisi yang menyedihkan.


"Maafkan aku, Rum. Aku adalah pria pengecut yang sama sekali tidak pantas untukmu," gumam Tian di dalam hati.


Arumi dan Laras langsung masuk ke dalam saat mereka sudah sampai di parkiran.


Laras melajukan mobil dengan kecepatan sedang, dia memilih untuk menyalakan MP3 yang tersedia di mobilnya agar suasana tak menjadi hening.


Laras fokus mengendarai mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Arumi, dia memperhatikan sahabatnya yang kini terlihat sedih.


Laras membiarkan Arumi meluapkan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh sang sahabat

__ADS_1


****


Sesampai di depan mansion, Arumi masih bersedih.


"Rum, kita sudah sampai," ujar Laras sambil mengguncang tubuh Arumi.


Arumi tertegun dengan ucapan Laras.


"Mhm, udah sampai, ya?" tanya Arumi.


Laras mengangguk, dia pun turun dari mobil lalu menantu Arumi keluar dari mobil.


Laras dapat merasakan sakit yang dirasakan sahabatnya saat ini karena saat ini Laras juga merasakan hal yang sama, saat melihat Tian di mall tadi dia kembali teringat pada Nick.


Menurut Laras, jika Tian tengah berada di kota ini maka Nick juga sudah bisa dipastikan berada di ibu kota.


Laras mengantar Arumi masuk ke dalam kamarnya.


"Rum, habis ini gue langsung pulang, ya,'' ujar Laras langsung pamit pada sahabatnya.


"Hah," lirih Arumi.


Terlihat sejak tadi Arumi tidak fokus pikirannya entah ke mana-mana.


"Rum, lu jangan seperti ini, dong," ujar Laras mengingatkan Arumi saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Arumi menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Gue yakin lu kuat, lupakan Tian." Laras memegangi pundak Arumi memberi semangat.


Arumi pun mengangguk. setelah itu Laras pun keluar dari kamar Arumi, dia melangkah menuju mobilnya. Setelah itu dia langsung melajukan, mobil dengan kecepatan sedang.


Sesampai Laras di rumah, dia memarkirkan mobil di pekarangan rumahnya. Dia heran melihat sebuah mobil yang asing baginya telah parkir di depan rumahnya.


"Siapa yang datang?" Laras bertanya pada dirinya sendiri.


Laras turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Laras sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Langkah Laras terhenti saat melihat seseorang duduk di ruang tamu.


Laras tak percaya, dia menggelengkan kepalanya. Laras juga ikut terluka saat melihat pria yang dicintainya kini sudah berada di dalam rumahnya.


"Wa'alaikummussalam," jawab Bunda Ranti melangkah menghampiri putrinya.


"Itu, ada Nick, dia mau bertemu denganmu," ujar bunda Ranti.


Laras melangkah mendekati Nick, dia duduk di sofa ruang tamu tepat di hadapan Nick.


Nick tersenyum melihat Laras tak banyak berubah, hatinya kini mulai berdebar. Hanya penampilan Laras yang kini terlihat lebih dewasa.

__ADS_1


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Laras dingin.


"Aku ke sini ingin bertemu denganmu," jawab Nick.


"Katakan," ujar Laras tegas.


Laras tidak ingin ikut rapuh seperti Arumi tadi, dia harus kuat menghadapi pria tersebut.


"Ayo, ikut aku!" ajak Nick.


Dia menarik tangan Laras, dia menggenggam erat tangan gadis yang selama ini selalu dirindukannya.


Nick berdiri dan mengajak Laras keluar dari rumahnya. Dia membukakan pintu mobil untuk Laras, setelah itu dia pun ikut masuk ke dalam mobil.


Nick melajukan mobilnya dari rumah Laras menuju sebuah taman.


Sesampai di taman, Nick langsung memeluk erat tubuh gadis yang selama ini sangat dirindukannya.


"Maafkan, aku," bisik Nick di telinga Laras.


Laras yang juga merindukan sosok Nick, mulai membalas pelukan yang diberikan oleh Nick.


Mereka pun meluapkan rasa rindu yang selama ini tersimpan di hati mereka masing-masing.


Jarak dan waktu yang telah mereka lewati tidak merubah rasa cinta yang ada di dalam hati mereka.


Cinta itu masih tetap utuh tanpa adanya amarah atau kebencian yang terpendam di hati Laras meskipun Nick pergi entah ke mana.


Mereka tenggelam dalam rasa yang telah lama tidak mereka luapkan.


"Maafkan aku yang sudah meninggalkanmu," lirih Nick setelah mereka duduk di sebuah bangku taman yang panjang.


Laras masih diam dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi apa yang dikatakan oleh Nick.


Nick meraih tangan Arumi.


"Apakah kamu masih menungguku?" tanya Nick pada Laras.


Nick menatap dalam bola mata Laras, dia menyelami tatapan gadis yang sudah ditinggalkannya itu.


Nick dapat melihat dengan jelas pancaran cinta di mata Laras masih sama seperti beberapa tahun yang lalu tidak ada perubahan sama sekali


"Terima kasih, Ras. Kamu masih menungguku," ucap Nick bahagia dengan apa yang dilakukan oleh Laras untuknya.


Cintanya di zaman putih abu-abu ternyata masih tersimpan untuk Nick.


"Setelah beberapa tahun kamu meninggalkanku, dan sekarang kamu sudah kembali, apakah kamu akan menjelaskan padaku apa yang terjadi selama ini? Apakah kamu akan memberitahuku alasan kepergianmu?" tanya Laras mulai membuka suara.


Dia mulai penasaran dengan apa yang selama ini terjadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2