
Di ufuk barat, sang Surya mulai tenggelam. Cahaya langit mulai redup, awan mulai gelap pertanda siang berganti dengan malam.
3 orang pria sedang duduk santai di sebuah kafe yang terletak di pinggir pantai.
Mereka tengah menikmati keindahan pemandangan matahari tenggelam di ufuk barat.
"Bagaimana persiapan lu besok, Bro?" tanya Ridho pada Tian.
Tian melirik ke arah Nick, sebagai asisten pribadinya, Nick tahu betul makna lirikan dari tuannya.
"Beres," jawab Nick.
"Syukurlah kalau begitu," ujar Ridho.
"Eh, Bro. Apakah lu tahu kalau Nick sudah punya gebetan?" tanya Ridho pada Tian.
"Haha, mana ada cewek yang mau sama dia," ledek Tian.
Tian memang tidak tahu hubungan Nick dengan Laras karena mereka berdua sudah lama tidak mengobrol, setiap kali bertemu mereka hanya membahas pekerjaan dan tidak sempat membahas yang lain.
Hari ini Tian dan Ridho bisa bercengkrama dengan Nick karena hari ini mereka tidak latihan karena semua peserta diberi waktu untuk istirahat.
"Lu memang sudah ketinggalan berita," ujar Ridho mengejek Tian yang sudah melewatkan hot news tentang asisten pribadinya.
Nick hanya tersenyum, dia tidak terlalu menghiraukan ucapan Ridho. Nick yakin Tian tidak akan percaya apa yang dikatakan oleh Ridho.
"Berita apa?" tanya Tian mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Ridho.
"Minggu lalu gue ngeliat sahabat kita ini tengah menggandeng seorang gadis di sebuah mall," ujar Ridho membeberkan apa yang sudah dilihatnya waktu itu.
"Lu salah liat kaki," bantah Nick.
Dia masih berusaha untuk menutupi hubungan dirinya dan Laras.
"Enggaklah, dan gue kenal betul sama gadis yang lu kecengin," ujar Ridho lagi.
Nick mengernyitkan dahinya, dia mencoba mengingat asal sekolah gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya itu.
"Ya ampun gue baru ingat Laras siswa SMA Cendikia itu artinya Ridho dan Tian merupakan guru Laras, kenapa gue sampai lupa, ya?" gumam Nick di dalam hati.
Dia kini menyadari bahwa kekasihnya siswa dari dua sahabatnya. Nick juga mengingat bahwa kekasihnya itu akan berangkat ke Korea esok hari itu artinya Laras akan pergi bersama dua sahabatnya itu.
Tian melirik ke arah sahabat sekaligus asisten pribadinya itu, dia mulai mencurigainya. Dia dapat menangkap kegugupan yang terpancar dari wajah sang sahabat.
__ADS_1
"Siapa? Apa gue juga kenal gadis itu?" tanya Tian pada Ridho.
"Hahaha, mending lu tanya langsung sama dia," ujar Ridho membuat Tian penasaran.
"Eh, udah malam. Gue pulang duluan," ujar Nick berusaha kabur dari situasi yang menyudutkan dirinya.
"Iya, nih. Udah malem, yuk bubar," ajak Ridho ikut-ikutan.
Ridho teringat dengan perasaan Tian yang dia kira sahabatnya itu juga mencintai gadis yang bersama Nick waktu itu.
Dia mulai menyesal sudah membeberkan rahasia Nick pada Tian.
Ridho tidak mau Nick dan Tian bertengkar hanya karena seorang gadis.
"Lho? Lu belum ngomong siapa gadis yang di deketin Nick," ujar Tian protes.
"Lain kali gue ceritain," ujar Ridho.
"Yuk kita pulang," ajak Nick pada Tian.
"Ya sudahlah." Akhirnya Tian pun melupakan apa yang sudah dibahas oleh Ridho.
Mereka pun berdiri dan melangkah keluar dari kafe. Tian masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Nick, sementara itu Ridho menaiki sepeda motor miliknya.
****
Keesokan harinya.
Arumi sudah siap untuk berangkat, dia keluar dari kamarnya dengan menarik travel bag miliknya.
Meskipun Bi Nah sudah menawarkan diri untuk membawa barang-barang milik Arumi ke bawah, dia tetap menolak tawaran bi Nah.
Arumi tidak mau merepotkan asisten rumah tangga yang selalu setia menemaninya sejak kecil.
Selama ini Bi Nah merupakan satu-satunya orang yang selalu menemaninya di rumah, Bi Nah selalu ada dalam hari-harinya yang sepi karena kedua orang tuanya yang sibuk.
"Selamat pagi, Mi, Pi," ujar Arumi saat dia masuk ke dalam ruang makan.
Di sana Mami dan papi Arumi sudah duduk di sana.
"Pagi, Sayang." Nyonya Moura memeluk putrinya.
"Rum, kamu sudah siapkan keperluanmu semuanya?" tanya Tian Arnold memastikan tidak ada barang-barang putrinya yang tertinggal.
__ADS_1
"Udah, Pi. Semuanya sudah lengkap, buku catatan dan buku-buku Sains yang Arum punya juga Arum bawa, semoga Arum bisa juara ya, Mi, Pi," ujar Arum penuh harap.
Selama ini setiap kompetisi, Arumi selalu menang, paling tidak dia selalu mendapatkan juara walaupun juara harapan.
Nyonya Moura dan Tuan Arnold tidak meragukan lagi kemampuan putrinya dalam bidang sains.
"Aamiin, semoga kamu bisa juara dalam kompetisi ini," ujar Nyonya Moura memberi semangat pada putrinya.
Arumi duduk di kursi meja makan, lalu dia menikmati nasi goreng buatan Bi Nah.
"Di sana kamu harus hati-hati, jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi Papi dan Mami," ujar Nyonya Moura menasehati putrinya yang asyik menikmati sarapannya.
"Iya, Mi." Arumi mengangguk.
"Apa perlu papi sediakan bodyguard buat kamu?" tanya Tuan Arnold masih mengkhawatirkan keadaan putrinya di luar negeri nanti.
"Tidak perlu, Pi. Aku kan perginya sama rombongan, mereka semua laki-laki. Jadi, mereka akan jaga Arum dan Laras dengan sebaik mungkin." Arumi menolak tawaran papinya.
Arumi meyakinkan papinya bahwa dia bisa menjaga diri, dan berhati-hati selama perjalanannya. Toh selama ini, Arumi tetap seorang diri dalam beraktivitas meskipun Arumi tahu sesekali papinya mengutus seseorang untuk menjaga putrinya.
"Ya udah. Kamu jangan jauh-jauh dari rombongan," nasehat Tian Arnold pada putrinya
"Siap, Pi." Arumi memasang gaya hormat di hadapan papinya.
Arumi sudah siap untuk berangkat. Dia menyalami kedua orang tuanya.
Arumi diantar sopir ke sekolah. Dia harus ke sekolah terlebih dahulu karena mereka akan berangkat bersama dari sekolah menuju Bandara.
Semua peserta kompetisi yang akan berangkat ke Korea Selatan sudah berada di sekolah.
Sebelum mereka berangkat membawa nama Indonesia, kepala sekolah mengadakan acara pelepasan untuk memberi semangat, support serta do'a dalam perjalanan mereka.
Mereka berharap peserta yang akan berangkat dapat membawa kemenangan atas Indonesia.
Semua peserta diberdirikan di hadapan seluruh siswa dan siswa SMA Cendikia dengan guru pendamping juga berdiri di samping mereka.
Kepala sekolah sengaja mengumpulkan semua para siswa agar siswa lainnya dapat termotivasi dengan prestasi yang diraih oleh semua peserta supaya SMA Cendikia memiliki kader dalam prestasi yang sudah mereka raih.
Setelah acara pelepasan, semua peserta pun berangkat menuju bandara. Semua peserta berjumlah 10 orang, yaitu Arumi dan Laras serta 8 orang tim basket.
Sementara itu guru pendamping yang ikut mendampingi mereka adalah Tian dan Ridho.Mereka akan berangkat pada pukul 11.00 menjelang siang.
Bersambung...
__ADS_1