
PT JACO
Han mengangguk-angguk saat mendengar penjelasan Hendra. Pagi ini Han hadir sebagai investor yang akan menyokong pembangunan proyek baru PT JACO. Sengaja, Han datang sebab ini perintah dari Kai.
Sebenarnya targetnya bukan Hendra melainkan Jessica. Pengkhianatan mulai terendus namun Kai dan Alan belum mendapatkan cukup bukti.
"Apa penjelasan saya bisa di mengerti?" Tanya Hendra tersenyum ramah. Merasa bangga dengan dirinya yang ternyata cukup mahir dalam presentasi. Rasanya luar biasa. Aku tidak pernah merasa sekeren ini.
Buku panduan yang di dapatkan dari Elang sangat membantu. Terdapat poin-poin penting yang harus Hendra lakukan jika ingin proyeknya berhasil.
Padahal sama sekali Han tidak memperdulikan presentasi sebab sejak awal Kai memerintahkan untuk mengsetujui apapun permintaan Hendra.
"Jika penjelasan tadi belum seberapa jelas. Saya bisa menambah beberapa poin." Sahut Jessica hendak berdiri.
"Tidak Bu Jessica. Saya sudah paham dengan presentasi yang di lakukan Pak Hendra." Jessy tersenyum simpul begitupun Hendra.
"Jadi bagaimana Pak Han? Apa kerja sama ini bisa berlanjut?"
"Hm tentu. Saya sudah menyiapkan surat perjanjian kontrak kerjasama." Han menyodorkan beberapa lembar kertas ke hadapan Hendra juga Jessica.
Keduanya membaca dengan teliti kontrak kerja dengan keuntungan mengiurkan. Hal itu membuat Hendra tergoda namun Jessica mengingatkan nya lewat sentuhan pada paha.
Aku harus membacanya dengan teliti.
Han tersenyum simpul, menatap gelagat keduanya yang sudah terbaca kecurangannya. Itu sebabnya dia sudah menyabotase surat perjanjian dengan sedikit bumbu kecurangan.
"Proyek baru itu bisa di laksanakan besok. Itu berarti anda akan memiliki cabang baru." Jessy tersenyum, dia menganggap jika tidak ada yang salah dari isi perjanjian.
"Saya tidak percaya ini. Padahal saya orang baru dalam dunia bisnis." Jawab Hendra membubuhkan tanda tangan setelah Jessica memberikan isyarat padanya.
"Orang baru atau orang lama, itu tidak masalah. Tuan saya hanya membutuhkan orang yang jujur." Hendra mengangguk seraya tersenyum simpul. Bukan hanya keuntungan dari perusahaan yang di dapatkan, melainkan dari Elang. Tapi syaratnya, Hendra harus berhasil mendapatkan informasi soal berkas penting Xu grup.
Elang pernah menyuruh seseorang berpura-pura menjadi asisten rumah tangga di kediaman Kai. Orang tersebut yang mengatakan jika berkas tidak ada di sana. Padahal laporan itu sengaja di palsukan sebab Kai lebih dulu mengendusnya.
Bukan tanpa alasan orang tersebut menuruti perintah Kai. Dia menjanjikan kehidupan yang layak pada keluarganya setelah Elang mengambil nyawanya.
Kau hanya di bodohi. Percayalah jika setelah ini pengecut itu akan menghabisi nyawamu.
Kai memberikan peringatan tersebut sebab dia sudah tahu bagaimana seluk beluk Elang yang hobi menumbalkan seseorang sebagai tameng.
Awalnya orang suruhan itu tidak menerima. Tapi setelah di fikir matang-matang, dia memutuskan untuk membantu Kai dengan memberi informasi palsu.
"Saya masih perlu banyak belajar. Silahkan." Hendra menggeser kembali berkas. Han memberikan salinan surat perjanjian sementara berkas asli kembali di masukkan.
"Saya tidak punya banyak waktu. Selamat datang di dunia bisnis. Senang bisa berkerja sama." Setelah bersalaman Han berjalan keluar ruangan dengan beberapa pengawal. Dia masuk ke dalam mobil hitam lalu kembali mengeluarkan berkas yang ternyata berjumlah empat lembar." Tidak semudah itu berpura-pura bersikap lugu. Aku sudah mencium gelagat buruknya." Gumamnya lirih. Merogoh ponselnya untuk memberikan laporan pada Alan.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Di salah satu rumah sakit. Dokter tengah melakukan metode inseminasi intrauterin (IUI). Dokter menyuruh Nay berbaring untuk memasukkan cairan milik Kai melalui leher rahim dengan bantuan alat kecil.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit, metode berhasil di lakukan. Dokter menyarankan pada Nay untuk berbaring sejenak sementara dirinya menjelaskan beberapa poin penting agar cara tersebut berhasil.
.
.
.
.
Di dalam mobil, Kai menghembuskan nafas berat sesekali melirik ke arah Nay yang tengah duduk di sampingnya. Penjelasan dari dokter membuatnya merasa di lema sebab Nay di larang stres agar metode tersebut berhasil.
"Aku tidak yakin dengan cara ini." Ujar Nay pelan. Sejak tadi dia menatap keluar kaca jendela.
"Tidak perlu memikirkan berhasil atau tidak. Kau di larang stres."
"Nyatanya kau membuatku stres." Alasan inilah yang membuat Kai merasa khawatir. Sejak awal dia menerapkan sistem pemaksaan pada Nay yang mungkin mempengaruhi otaknya sementara Dokter melarang Nay stres.
"Ini tugasmu. Sudah tertulis di dalam surat perjanjian bermaterai."
"Itu namanya melanggar."
"Hanya melihat saja. Aku hanya ingin tahu dia baik-baik saja." Kai kembali menghela nafas panjang. Dia sangat takut Nay stres dan mengakibatkan metode gagal. Tanpa menjawab ucapan, Kai menghubungi kontak Alan.
📞📞
"Di mana mantan Suami Nay tinggal?
"Komplek mekar jaya nomer 22.
"Pastikan keadaan di sana aman. Lima belas menit lagi aku sampai.
"Baik Tuan.
📞📞
Seperti orang penting saja. Kenapa harus perlu di amankan?
Nay tidak memahami jika Kai memiliki banyak musuh. Bahaya bisa kapan saja mengintai sehingga kemanapun Kai berada, senjata api pasti di bawa meski lokasi sudah di amankan.
"Kamu tahu di mana Suami ku tinggal?" Kai terdiam tidak menjawab. Entah kenapa dia merasa kesal ketika Nay tidak menganggapnya sebagai Suami sementara." Kenapa diam saja Tuan?" Tanya Nay lagi.
__ADS_1
"Aku tidak suka banyak bicara! Lihat dan saksikan sendiri." Jawab Kai ketus.
.
.
Singkat waktu. Lima belas menit kemudian, mobil Kai masuk ke kompleks mekar jaya. Dia lolos dari pos penjagaan sebab para scurity kompleks sudah mengenalnya.
Mobil berhenti di bahu jalan tepat di samping sebuah rumah bercat putih. Rumah tersebut berdiri terpisah dari rumah lainnya seakan tidak ingin di ketahui kegiatannya.
"Apa ini rumahnya?" Tanya Nay tidak sabar.
Kai masih tidak menjawab dengan wajah datar. Tapi ketika sebuah mobil datang, tangan kanannya menepuk lembut pundak si supir. Mobil Kai melaju pelan bersamaan dengan keluarnya Jessy dan Hendra dari dalam mobil.
Manik Nay melebar, saat dengan mesrah nya Jessy melingkarkan tangan ke pinggang Hendra. Pemandangan itu sontak membuat hati Nay berkedut nyeri. Sesuai perkataan Kai, kini Hendra terlihat sudah bahagia atas hidupnya.
"Siapa wanita itu?" Tanya Nay bergumam. Maniknya mulai berkaca-kaca.
"Jalan Pak." Kai masih tidak merespon ucapan Nay.
"Kenapa kamu diam Tuan? Jawab aku?"
"Lihat kenyataan itu. Sudah ku katakan dia baik-baik saja dan sudah melupakan mu." Nay menghela nafas panjang. Dia berusaha menerima kenyataan sebab Hendra memang kehilangan selera padanya.
"Dia hanya khilaf. Setelah melihatku cantik, dia pasti kembali padaku."
"Itu bukan urusan ku!" Jawab Kai kasar." Jangan mengoyak amarah. Aku sudah memperlihatkan kalau dia baik-baik saja. Itu berarti kau harus berhenti memikirkan lelaki itu sampai tugasmu selesai." Kemarahan yang di perlihatkan Kai tidak sepenuhnya karena sikap Nay. Ada rasa lain yang membuatnya begitu kesal ketika mendengar Nay memanggil Hendra dengan sebutan Suami.
Tidak sopan sekali membahas lelaki lain di hadapan ku. Wanita ini benar-benar tidak tahu terimakasih.
"Kalau ini di biarkan, Suami ku bisa menikah dengan wanita itu. Bagaimana ini Tuan."
"Aku tidak tahu?"
"Jangan bilang tidak tahu. Walaupun pernikahan ini hanya sementara tapi membutuhkan waktu cukup lama. Kalau aku tidak berbuat apapun, Suamiku akan melupakan ku!" Jawab Nay panik.
"Suami mu adalah aku bukan dia."
"Suami kontrak. Aku mohon biarkan aku mencegah semua ini terjadi." Kai benar-benar di uji kesabarannya atas sikap Nay sekarang.
"Apa maksudmu?"
"Biarkan aku merebut lagi Suami ku dari wanita itu."
🌹🌹🌹
__ADS_1