Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 10


__ADS_3

Kai menimbang keinginan Nay untuk bisa berada di sekitar Hendra. Dia melakukan hal tersebut hanya karena ingin Nay segera memberikannya keturunan. Saran dari Dokter membuat hatinya berada di lema. Jika dia menolak keinginan, Nay akan stres dan itu berarti sel telur dalam rahimnya tidak bisa terbentuk.


"Hm tapi ada syaratnya."


Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide yang pasti menguntungkan bagi Kai. Dia kembali memanfaatkan keterpurukan Nay agar penyelidikannya pada Jessica bisa maksimal.


"Apa itu?"


"Jadi sekertaris Han." Nay menoleh cepat.


"Han siapa?"


"Orang kepercayaan ku. Dia sedang melakukan kerjasama dengan perusahaan Mantan mu."


"Perusahaan? Mana mungkin begitu?" Nay tidak sekalipun pernah membayangkan Hendra bisa memiliki perusahaan.


"Kamu fikir kenapa dia memilih wanita itu. Karena dia kaya dan bisa memberikan jabatan bagus." Nafas Nay berhembus pelan. Meski mobil sudah tiba di bagasi, namun keduanya memilih untuk tidak turun.


"Mas Hendra tidak pernah melihat seseorang dari segi harta. Aku sangat mengenalnya."


"Fakta membuktikan semuanya. Mana ada manusia tidak tergiur jika di berikan harta dan jabatan."


"Dia meninggalkan ku karena buruk rupa." Ujar Nay berusaha menyangkal.


"Jangan terlalu naif. Kau sudah percaya dengan apa yang ku katakan. Aku melihat itu dari matamu." Tentu saja Nay sedikit percaya sebab dia melihat bagaimana mesranya sikap Jessica meski sekilas.


"Aku mau. Aku yakin setelah Mas Hendra melihatku, dia pasti kembali mencintai ku dan melupakan wanita itu." Kai tersenyum simpul seraya menepuk-nepuk pahanya.


"Tapi kau tetap tidak boleh bebas. Kau hanya berpura-pura di sana. Aku masih akan memantau mu dari jauh karena aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin di perut mu."


"Belum ada janin." Jawab Nay kembali menyangkal. Dia tidak yakin dengan metode yang di berikan Dokter tadi.


"Berharap saja begitu agar kontrak pernikahan kita tidak akan pernah berakhir."


"Aku tidak perduli dengan itu semua. Asalkan aku bisa merebut hati Mas Hendra lagi." Kai mengangguk-angguk sambil terus menepuk-nepuk pahanya.


"Tapi ingatlah. Anak itu kunci kebebasan mu."


"Aku sudah tahu. Rahim ku tidak bermasalah. Jika memang ada janin di dalam sana, aku pastikan dia akan baik-baik saja."


"Oke. Tugasmu hanya perlu berpura-pura menjadi sekertaris Han ketika mereka melakukan pertemuan. Aku berharap Hendra bisa kembali berdekatan dengan mu dan berikan informasi soal orang ini." Kai mengambil sebuah foto Elang dan memberikannya pada Nay.


"Siapa lagi ini?"


"Namanya Elang. Dia musuh bebuyutan ku." Nay menelan salivanya kasar. Terbesit ketakutan saat Kai menyebut Elang sebagai musuhnya." Aku curiga jika Hendra dan pacarnya berkerja sama dengannya." Mereka tidak akan menaruh curiga pada wanita ini..

__ADS_1


"Hm baik." Nay mengiyakan misi itu demi bisa bersama Hendra.


"Satu Minggu lagi lakukan tugasmu."


"Kenapa menunggu satu Minggu?"


"Saran Dokter. Kau juga butuh bekal untuk antisipasi jika terjadi sesuatu."


"Bekal apa?"


"Nanti kau juga akan tahu."


Setelah hari itu, Nay di haruskah beristirahat selama tiga hari agar metode pembuahan berhasil. Dia senantiasa berada di dalam rumah sambil berharap hari cepat berlalu. Nay merasa sangat was-was jika nanti Hendra benar-benar melupakannya padahal itulah yang terjadi sebenarnya. Hendra sudah melupakannya dan menikah dengan Jessica.


Satu hari setelah Dokter mengatakan keberhasilan, Nay di ajak masuk ke markas bawah tanah milik Kai namun melewati pintu utama bukan pintu rahasia. Dia di latih mengunakan senjata api untuk melindungi diri jika terjadi saat genting.


Awalnya Nay menolak sebab dirinya merasa takut. Namun setelah Kai sedikit memaksa dan memberikannya pengertian. Mau tidak mau Nay harus melakukan. Nasi sudah menjadi bubur. Nay terlanjur terlibat dan harus bisa beradaptasi dengan kehidupan keras Kai.


Sepanjang Kai memberikan pelatihan, perasaannya kian aneh. Jantungnya kerapkali berdebar-debar ketika kulitnya bersentuhan dengan Nay. Sikap gugup juga kerapkali terjadi namun Kai tidak juga memahami.


"Semua fungsi organ dalam normal Tuan." Ujar Dokter kepercayaan Kai. Dia mengira jika tengah sakit jantung.


"Mana mungkin begitu. Jantung saya sering berdebar-debar." Alan yang sedang mengawal hanya terdiam dan tertunduk.


"Tapi frekuensi detak jantung masih normal. Tuan bahkan sangat sehat."


"Apa aku harus periksa ke rumah sakit lain?" Tanya Kai pada Alan yang tengah menyetir.


"Bukankah Dokter sudah berkata tidak ada masalah Tuan."


"Tapi aku tidak yakin."


"Mungkin Tuan terlalu lelah." Jawab Alan menebak.


"Apa rasa kesal bisa membuat detak jantung tidak beraturan?" Tanya Kai menebak.


"Maksud Tuan?"


"Kau tahu satu-satunya orang yang membuat ku kesal adalah wanita itu. Setiap kali aku mengajarinya pasti jantung ku berdebar-debar." Alan menghembuskan nafas berat seraya tersenyum.


Apa Tuanku mulai suka dengan Nona Naysila? Hahaha lucu sekali. Seandainya dokter tahu penjelasan ini. Dia pasti akan merasa konyol..


"Kenapa kau malah tertawa!" Teriak Kai geram.


"Maaf Tuan. Emm.. Sepertinya Tuan harus lebih sabar lagi. Nona Nay memang orang awam yang tidak tahu menahu soal hidup keras." Kai mengangguk-angguk dan membenarkan ucapan Alan. Apalagi kini Nay sudah cukup lihai mengunakan senjata api sehingga Kai merasa puas dengan pelatihannya.

__ADS_1


.


.


Singkat waktu. Setibanya di rumah. Kai menatap tajam ke arah Han yang tengah menjelaskan perihal tugas Nay besok. Dirinya seakan tidak rela melihat Nay duduk berdekatan dengan lelaki lain padahal semua terjadi atas perintah darinya.


"Sedikit rumit tapi saya mengerti." Jawab Nay sontak berdiri saat melihat kedatangan Kai." Bagaimana hasil pemeriksaannya Tuan?" Tanya Nay merasa khawatir. Kebersamaan singkat keduanya membuat Nay yakin jika Kai tidak seburuk sikapnya. Itu kenapa dia merubah sikap menjadi lebih baik.


"Tidak ada masalah." Kai menempelkan bokong tepat di hadapan keduanya.


"Syukurlah." Nay kembali duduk dan mendengarkan penjelasan Han sementara Kai semakin merasa muak. Tatapannya lurus ke depan seakan ingin memakan Han hidup-hidup.


"Masih lama?" Tanya Kai tegas.


"Sedikit lagi Tuan." Jawab Han tersenyum.


"Padahal sudah sejak tadi. Apa kau sengaja Han." Sontak Han menghentikan penjelasannya lalu menunduk.


"Maaf Tuan. Nona tidak tahu menahu soal tugas sekertaris, jadi saya harus mengajarkannya secara detail agar nantinya tidak mencurigakan."


"Dia hanya berpura-pura. Tugasnya mengorek info saja. Kau di larang memberikan perkerjaan dan membuatnya stres." Ujar Kai menjelaskan.


"Saya mengerti Tuan."


"Sebaiknya kau pulang. Sisanya biar ku ajarkan." Han tersenyum aneh. Tidak biasanya Kai bersikap seperti sekarang sebab hasil maksimal selalu menjadi tuntutan.


"Baik Tuan. Permisi." Tidak perlu banyak bertanya. Han bergegas pergi daripada harus membuat Kai marah.


"Padahal penjelasan Pak Han sangat mudah di mengerti." Gumam Nay seraya membaca lembaran di tangannya.


"Kau berkerja padaku, bukan pada Han."


"Bukankah kau sendiri yang menyuruh." Masih saja Nay tidak memiliki rasa takut pada Kai sedikitpun.


Kenapa aku ini?


"Ya. Setelah ini kamu harus berkemas menuju apartemen yang sudah ku siapkan. Tenang saja, di sana sangat aman dan beberapa orang akan menjaga keselamatan mu."


"Oke." Nay beranjak dari tempat lalu duduk tepat di samping Kai yang lagi-lagi menggeser tubuhnya menjauh.


"Ingat! Jaga jarak!" Ujar Kai mengingatkan.


"Aku hanya tidak mengerti ini." Menunjuk ke sebuah tulisan.


Kai di liputi perasaan gugup dan jantung berdebar-debar. Dengan bodohnya dia masih berfikir jika jantungnya bermasalah. Padahal yang terjadi, hatinya mulai merespon keberadaan Nay.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Minta dukungannya dengan cara like, vote dan share sebanyak-banyaknya. Terimakasih🌹


__ADS_2