
Dua Minggu kemudian..
Devan terkapar di tengah jalan. Seorang warga berinisiatif membawanya ke rumah sakit terdekat agar Devan mendapatkan perawatan.
Segera saja pihak rumah sakit melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib sebab keadaan Devan begitu memilukan. Sekujur tubuhnya terdapat lebam juga beberapa sayatan.
"Saya di keroyok Pak." Ujar Devan menjelaskan.
"Sudah kamu periksa CCTV?" Tanya salah satu polisi.
"Sudah Pak. Orang-orang itu memakai topeng dan seperti nya orang lama."
"Kenapa mereka selalu membuat onar!" Eluh si polisi yang selalu di buat pusing oleh gangster di bawah pimpinan Alan. Sangat sulit di lacak juga di ketahui lokasi markasnya.
"Apa ada sesuatu yang anda ingat. Seperti wajah atau tanda lain?"
"Tidak ada Pak." Ketika si polisi memiringkan tubuhnya, Devan tersenyum simpul. Keadaannya sekarang sudah di rencanakan untuk menghilangkan kecurigaan Elang.
"Ada anggota keluarga yang bisa di hubungi?"
"Nomer ponsel Kakak saya berganti-ganti. Tapi saya anak dari pemilik JANS grup."
"Baik. Kami akan menghubungi nomer perusahaan."
Salah satu pihak berwajib berjalan keluar untuk mencari informasi soal nomer telepon perusahaan. Setelah berhasil di dapatkan, segera saja dia menghubungi si resepsionis. Elang yang hampir tidak pernah ada di tempat, membuat si resepsionis memberitahu kaki tangan Elang yang bertugas mengelola perusahaan.
"Bagaimana ini?" Eluh si kaki tangan yang di ketahui bernama Nathan.
"Memangnya Bapak tidak tahu nomer ponsel Pak Erlangga?"
"Nomernya ada ratusan. Membingungkan bukan." Si resepsionis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus bagaimana Pak."
"Terpaksa aku harus mendatangi panti jompo untuk memberitahu kedua orang tuanya."
Sudah bisa di pastikan jika Elang sengaja memasukkan kedua orang tuanya ke panti jompo karena tidak memiliki waktu mengurus mereka. Rumah utama di biarkan terbengkalai bahkan tidak terurus. Semenjak Kai memburunya, tempat tinggal Elang selalu berpindah-pindah.
🌹🌹🌹
Kai menutup laptopnya segera ketika melihat Nay keluar dari kamar mandi. Sudah dua Minggu lebih hubungan keduanya kian memburuk sebab Nay tidak lagi berusaha mendekat setelah pertengkaran yang terjadi di dapur.
Sementara Kai sendiri memilih diam dan menerima sambil mempelajari beberapa artikel tentang cara menjadi seorang lelaki sejati.
Tidak ada lagi yang bisa di lakukan kecuali menyiapkan diri dan terus belajar. Memang benar jika sejak lama hatinya terpaut pada sosok Sisil. Namun tetap saja Kai membutuhkan waktu untuk merubah sikap kerasnya sesuai keinginan Nay.
Tidak berguna aku berada di sini. Caraku tidak cukup ampuh untuk mencairkan si gunung es itu.
Eluh Nay menghela nafas panjang nan berat. Dia merasa kesal dan sangat kesal saat menerima kenyataan kalau Kai semakin acuh padanya.
__ADS_1
"Aku menyerah Mas!!" Ujar Nay menunjuk kasar ke arah Kai.
"Menyerah apa?"
"Mari berpisah!"
"Why?"
"Kau masih bertanya kenapa?"
"Kau harus banyak belajar ilmu sabar." Nay beranjak dari tempat duduk. Dia mengikat rambutnya sembarangan lalu menurunkan koper besar dari atas lemari.
Bagaimana dia tidak kesal kalau ucapan yang Kai lontarkan selalu saja sama. Dia di tuntut sabar menghadapi sikap acuh nan kaku yang Kai suguhkan.
"Bukan aku yang harus banyak belajar tapi kau!!" Teriak Nay geram." Wanita mana bisa sabar menghadapi sikap kaku mu itu!" Imbuhnya mengeluarkan isi lemari dan memasukkan ke dalam koper.
"Kamu tidak bisa pergi."
"Terserah. Hidup dengan mu sama halnya dengan mati!!" Kai tersenyum simpul. Selama beberapa hari dia menyaksikan kekesalan yang Nay perlihatkan dalam berbagai situasi. Namun yang membuatnya terkesima. Semarah apapun Nay padanya, sajian sedap tidak pernah telat Nay suguhkan.
Kai beranjak lalu menghampiri Nay. Dia mengembalikan baju Nay pada tempatnya tanpa berkata sepatah katapun.
"Hei apa ini!!!"
"Kamu tidak bisa pergi."
"Kembalikan." Teriaknya merebut tumpukan baju sampai berserakan di lantai.
Kai menggenggam kedua jemari Nay dan mengunci pergerakannya. Tubuh kecil Nay tentu tidak bisa melawan ketika tiba-tiba Kai menyudutkan tubuhnya pada lemari.
Braaaakkkkk!!!
Seketika pintu lemari tertutup. Manik Nay membulat, menatap Kai tidak percaya. Paras di hadapannya tengah tersenyum lalu menunduk dan memulai sebuah lummatan.
Apa ini sudah benar?
Kai bertanya-tanya dalam hati. Dia melakukan semuanya seperti yang tertera di internet. Namun rasanya dia ingin melakukan lebih karena sensasi yang di rasakan sampai membuat nafasnya tersengal.
"Sudah kan. Diamlah." Ujar Kai pelan. Melepaskan himpitan lalu berpaling. Menghela nafas panjang untuk mengendalikan debaran jantung.
Nay masih berdiri mematung. Sedikit tidak percaya dengan apa yang Kai lakukan sebab dua Minggu hubungan keduanya terasa merenggang.
Kenapa dia tiba-tiba begitu?
Nay menatap ke arah Kai yang tengah memungut baju di lantai. Koper besar di kembalikan pada atas lemari lalu berbalik ke arahnya.
"Apa aku salah lagi?" Tatap Kai penuh tanya.
"Kenapa tiba-tiba?"
__ADS_1
"Bersiaplah. Kita akan pergi setelah ini." Intonasi suara Kai terdengar lebih pelan daripada biasanya.
"Ada pertemuan?"
"Tidak. Pergi ke suatu tempat."
"Kemana?" Kai menghela nafas panjang.
"Nanti kamu juga akan tahu. Bersiaplah."
"Hm baik."
"Aku tunggu di bawah."
Setelah mengucapkannya, Kai berjalan keluar kamar. Dadanya terlihat membusung dengan bibir tersinggung. Rasanya bibir Nay masih terpaut sehingga tanpa sengaja dia mengigit bibirnya lembut. Membayangkan lummatan yang terjadi barusan.
"Tempatnya sudah siap Tuan." Segera saja Kai mengubah mimik wajahnya menjadi datar.
"Hm. Terus bagaimana perkembangan soal Devan?" Kai duduk santai di sofa.
"Berjalan sesuai rencana. Setelah ini kita bisa memburu Elang dengan mudah."
"Bagus." Setelah ini kita akan menghabiskan waktu berdua selama dua hari. Sesuai keinginan mu. Aku akan berusaha memberikan honeymoon terindah. "Kalau dia tertangkap. Sekap dan tunggu sampai urusanku selesai." Imbuh Kai mengingatkan. Dia tidak ingin waktu Honeymoon nya terganggu.
"Baik Tuan." Jawab Alan tegas.
Sementara Devan sendiri langsung di jemput orang suruhan Elang ketika pihak panti jompo menghubungi salah satu anak buahnya. Keadaan kedua orang tuanya, membuat pihak panti jompo tidak tega jika harus memberitahu soal keadaan Devan yang memilukan.
Devan di masukkan ke dalam mobil dan di dalamnya sudah ada Elang dengan penampilan berbeda. Dia menghela nafas panjang, memandangi keadaan Adiknya yang babak belur.
"Bagaimana mungkin. Katakan? Ku fikir kau sudah mati!!" Tanya Elang kasar. Video yang sudah tersebar di situs terlarang membuatnya berfikir jika Devan tidak akan selamat.
"Aku kabur Kak."
"Bodoh!!" Plaaaaaakkkkkk!!! Elang menempeleng kepala Devan keras. " Sudah ku katakan untuk menjaga diri! Bersikaplah pintar sedikit dan jangan terlalu dungu!!" Ucapan kasar nan buruk seperti sekarang kerapkali Elang lontarkan. Terkadang Devan juga merasa kesal namun dia sadar jika hidupnya tergantung pada Elang.
"Aku mabuk."
"Bagaimana caramu kabur?"
"Pura-pura mati. Mereka membuang ku di jalanan."
"Beruntung kau tidak di bunuh!"
"Ya Kak maafkan aku." Maaf juga untuk persekutuan ku Kak. Setelah ini kau yang akan di habisi oleh mereka agar kedua orang tua kita membanggakan ku.
"Jangan di ulangi lagi."
"Iya."
__ADS_1
Mobil melaju kencang membelah hiruk pikuk perkotaan, menuju hunian baru milik Elang. Devan mengusap rambut dengan kelima jarinya. Bukan sekedar usapan biasa sebab dia mengaktifkan alat pelacak yang terpasang di sela helaian rambut, agar Alan dapat mengetahui lokasi di mana Elang membawanya.
🌹🌹🌹