Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 61


__ADS_3

Elang yang tengah asyik bergumul bersama seorang pelaccur, terpaksa menghentikan kegiatan ketika ponsel miliknya berdering.


Dengan nafas memburu, dia mengangkat panggilan dari sebuah nomer asing. Elang tentu tidak merasa curiga. Dia berfikir jika panggilan berasal dari anak buahnya sebab kontak miliknya bergonta-ganti setiap hari.


📞📞📞


"Ya halo.


Tidak ada jawaban. Hanya ada suara kendaraan bermotor sehingga keningnya berkerut.


"Hei ini siapa!!!


Tut.. Tut.. Tut..


📞📞📞


Elang membuang nafas kasar. Pelepasannya harus tertunda hanya karena sebuah panggilan tidak jelas.


Sebaiknya aku ke Vila. Ada yang tidak beres.


Segera saja dia mengenakan celana setelah melepas alat kontrasepsi yang menempel. Wanita yang bersamanya langsung berdiri dalam keadaan telanjang bulat.


Tubuhnya merapat pada Elang dan berusaha merajuknya untuk melanjutkan percintaan yang terlanjur memanas.


"Tuan ingin pergi? Ini tinggal sedikit lagi." Ucapnya sambil mengusap lembut dada bidang Elang.


"Aku ada urusan. Ini upahmu dan bawa ponsel ini bersama mu." Jawabnya seraya memberikan satu bendel uang juga ponsel mewah miliknya.


"Ponsel ini?" Tentu saja si wanita setuju. Dia tahu jika ponsel masih seharga berkisar puluhan juta rupiah.


"Ya."


Setelah mengucapkan Jawaban singkat itu, Elang berjalan keluar motel. Dia menatap sekitar, selalu saja waspada karena dia takut jika sewaktu-waktu Kai menemukan nya.


Sedia payung sebelum hujan. Tidak biasanya mereka diam seperti itu.


Elang memukul tengkuk salah satu office boy setelah memastikan tempat sepi. Dia menyeret tubuhnya ke gudang belakang.


Baju miliknya di lepas dan di ganti dengan baju office boy yang sedang tidak sadarkan diri. Setelah itu, Elang berjalan santai melewati lorong pemisah antara kamar para tamu dan resepsionis.


Jantungnya hampir terlepas ketika dirinya melihat Alan juga beberapa anak buah berada di ujung lorong. Dia yang pandai berbohong, memasang wajah biasa saja untuk kembali mengelabuhi.


"Dia masih di tempat." Pinta Alan mempercepat langkahnya.


Hahaha bodoh! Lewat pintu samping lebih aman.


Elang berbelok ke lorong kecil menuju pintu samping. Ketika dia keluar sudah ada dua orang yang di tebak merupakan anak buah Alan.


Anak buah ku berotak tumpul!! Aku bisa tertangkap dan mati konyol, tapi sayangnya aku lebih pintar.


Elang sempat tersenyum ketika melintas. Penyamaran nya tidak terendus sebab sampai sekarang rambut kriting masih di kenakan.


"Agh sial!!!" Umpat Alan berteriak. Si pellacur hanya bisa berdiri mematung dengan raut wajah ketakutan. Bagaimana tidak, dia di kelilingi lelaki berpenampilan sangar saat dirinya belum selesai mandi.

__ADS_1


Alan melaporkan tentang kegagalannya. Tentu saja Kai merasa sangat kecewa mendengar itu. Elang kembali bisa melarikan diri dengan berbagai cara padahal keberhasilan sempat Kai bayangkan.


"Pakailah aku untuk umpan." Pinta Nay pelan. Dia merasa percaya diri bisa melakukannya.


"Apa maksudmu?"


"Pancing dia keluar menggunakan diriku." Nay meletakkan mangkuk berisi sup iga.


"Tidak!" Jawab Kai cepat.


Nay tersenyum lalu mengusap lembut rambut tebal Kai. Dia berusaha mendinginkan otak yang terlanjur mendidih. Cara itu sangat ampuh, setiap kali Nay melakukannya, Kai terlihat menikmati.


"Itu hanya sekedar ide. Jujur saja jika aku ingin dia segera tertangkap." Dengan sedikit rasa canggung, Kai melingkarkan kedua tangannya ke perut ramping Nay lalu menyandarkan kepalanya di sana.


Tidak sia-sia aku menunggunya. Rasanya sangat nyaman seperti usapan Mama.


"Jangan pernah berbicara soal ide gila itu. Mana mungkin aku rela melakukannya. Kita tunggu bagaimana cara kerja Jessy." Nay tersenyum, cukup menggelikan melihat sikap manja Kai sekarang. Tapi sayangnya, dia sudah berjanji untuk tidak meledek.


"Oke sayang. Sekarang kita makan." Nay mencium puncak kepala Kai lalu menyiapkan makanan untuknya.


"Sepertinya enak. Kamu belajar memasak di mana?"


"Mama ku. Sejak jelas 6 SD dia sudah mengajariku." Dia mulai melontarkan pujian-pujian kecil meski masih tertahan. Lambat laun kamu akan benar-benar menikmati hubungan ini.


"Ini lebih enak dari masakan Mama."


"Syukurlah Mas." Kini Nay yang duduk dan menyiapkan makanannya sendiri.


Kai melirik ke arah dahi Nay yang sedikit berkeringat. Ingin menyeka tapi dia terlalu sungkan melakukannya.


"Kamu boleh melepaskan perasaan mu. Apapun yang ingin kamu lakukan, silahkan. Aku akan mencoba memahami keinginan itu." Nay menegakkan pandangannya. Dia tidak mengerti arti pembicaraan Kai.


"Maksud kamu Mas?"


"Kamu bebas melakukan apapun padaku."


"Oh." Nay tertawa kecil." Aku sudah tahu Mas. Tidak ada batasan untuk orang yang sudah menikah." Kai menghela nafas panjang. Jawabnya tidak sesuai keinginan.


"Bukan itu."


"Lalu bagaimana?" Mimik wajah Kai mulai gelisah karena kesulitan mengutarakan maksud ucapannya." Aku berjanji tidak akan tertawa." Imbuh Nay berusaha memahami kekakuan sikap Kai.


"Ini bukan di tujukan untuk ku tapi untukmu."


"Hm terus." Kai mengedarkan pandangannya untuk memastikan keadaan aman. Sangat konyol jika sampai anak buahnya mendengar pembicaraannya.


"Apa kamu tidak ingin ku manja." Tanya Kai cepat namun pelan.


"Kamu ingin melakukannya?"


"Aku bertanya padamu."


"Ya ingin."

__ADS_1


"Tapi kamu makan sendiri. Kenapa tidak meminta bantuan padaku?" Kening Nay berkerut." Pengetahuan itu ku dapatkan dari internet. Seharusnya kamu meminta ku.. Em menyuapi mu." Ingin rasanya Nay terkekeh mendengar pernyataan itu. Tapi dia tidak ingin membuat keadaan berubah tidak baik.


"Hm. Tolong Mas."


Tanpa banyak bicara Nay menggeser piring miliknya. Sejauh menjalani biduk rumah tangga, sekalipun Nay tidak pernah meminta Hendra menyuapinya. Bukan tidak mau, tapi keinginan itu tidak pernah terlintas. Menurutnya, makan berdua saja sudah lebih dari kata romantis.


Perlahan, Kai menyendok makanan lalu menyodorkannya ke mulut Nay. Bersamaan dengan itu Alan muncul tiba-tiba dari balik pintu.


Manik Nay memberi isyarat pada Alan untuk pergi dulu. Namun akibat bahasa isyarat itu membuat Kai mengetahui kedatangan Alan.


Klunting...


Sendok di lepaskan sebelum mencapai mulut. Alan merasa tidak enak karena kembali mengganggu momen berharga yang langka terjadi.


"Maaf. Saya akan keluar."


Nay terkekeh. Tidak mampu menahan tawa akibat kekonyolan di hadapannya. Wajah Kai dan Alan sama-sama menegang untuk arti yang berbeda.


"Ada apa?" Tanya Kai tanpa memutar tubuhnya. Dia melirik malas ke Nay yang mencoba menahan tawa. Memalukan sekali!! Kenapa Alan selalu muncul seperti setan!!!


"Besok pernikahan Erik dan Nona Caca akan di gelar."


"Oh." Itu hal yang sangat tidak penting.


"Sesuai aturan kan Al?"


"Iya Nona. Hanya menghadirkan tamu dari pihak tetangga dan bukan tamu dari luar."


"Syukurlah. Kita akan datang kan Mas?" Tanya Nay tersenyum.


"Tidak. Terlalu mencolok."


"Em ya sudah. Nanti aku akan menghubungi lewat telepon saja.". Nay cukup senang mendengar penyelesaian masalah Caca sehingga dia tidak mempermasalahkan jika tidak bisa hadir di pernikahan tersebut.


"Hm. Ingat untuk memantau Jessy. Jika dia bertingkah laku menyimpang. Tembak di tempat." Pinta Kai tegas.


"Baik Tuan. Permisi."


"Satu lagi!" Alan mengurungkan niat pergi." Lain kali lapor dulu sebelum kau ke sini. Ingat! Sekarang aku memiliki Istri." Alan tersenyum seraya mengangguk.


"Baik Tuan. Maaf atas kelancangan saya."


"Ya pergilah." Alan berjalan keluar sementara Nay memilih menunggu tanpa menyentuh makanannya. Dia ingin membesarkan hati Kai untuk menghempaskan rasa malu juga sungkan.


"Lanjutkan Mas." Ucap Nay setelah beberapa menit.


"Aku kehilangan selera melakukan nya. Sebaiknya kamu makan sendiri."


"Em ya sudah. Aku tidak akan melanjutkan jika kamu tidak menyuapi." Tidak dapat di pungkiri jika Nay merasa aneh mengatakan permintaan tersebut." Ayolah Mas." Pintanya lagi.


Dengan gerakan kaku Kai kembali melanjutkan niatnya yang tertunda. Rasanya sangat canggung namun menyenangkan sehingga perlahan bibirnya tersungging.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2