
Kai membelokkan mobilnya ke sebuah tempat berpagar biru. Di dalamnya terdapat bangunan besar berjumlah tiga. Terdengar suara bunyi mesin dari tempat Nay berdiri sebab di dalam tengah mengerjakan uji coba mesin.
Tidak lama kemudian, mobil Hendra baru saja menyusul. Kai sempat melirik dan memperhatikan mimik wajah Nay yang terlihat biasa saja seakan dulu dia tidak memiliki kenangan bersama Hendra. Padahal Nay sedang mempertontonkan sikap jika dirinya tidak lemah dan sudah melupakan masa lalu.
"Maaf Pak Kai tadi ada halangan." Ujar Hendra menjelaskan.
"Hm."
Kai berjalan lebih dulu begitupun Nay yang otomatis mengekor. Sesekali Jessy melirik dan memperhatikan detail paras Nay. Dessahan lembut terdengar berhembus sebab kecantikan Nay terlihat alami.
Apa bagusnya wanita ini? Ku fikir Kai lelaki yang tidak normal. Dia bahkan tidak pernah tersenyum padahal aku berusaha baik padanya..
Jessica tidak mengerti tentang alasan Kai lebih memilih sendiri dan enggan membuka hati. Dia sempat beranggapan jika Kai lelaki tidak normal atau penyuka sesama jenis.
Rumor itu muncul karena Kai tidak sekalipun terlihat dekat dengan wanita manapun walaupun hanya sekedar gosip.
"Saya tidak menyangka bisa memiliki perusahaan cabang baru." Ujar Hendra tersenyum simpul. Dia yang hanya mantan satpam, tidak pernah membayangkan menjadi seorang pengusaha.
"Hm sesuai perjanjian. Jika terjadi kendala di pertengahan atau kalian berkhianat, bukan hanya perusahaan ini yang jatuh ke tangan ku tapi perusahaan kalian. PT JACO dan PT Sejahtera abadi."
Ucapan Kai sontak membuat Hendra dan Jessica melebarkan matanya. Mereka tidak pernah melihat peraturan itu tertulis di surat perjanjian.
"Pak Kai bercanda." Ujar Jessica memasang wajah pucat. Dirinya tahu jika Kai tidak asal bicara. Padahal sudah ku teliti!!
"Iya Pak. Kami tidak pernah membaca perjanjian tersebut." Sahut Hendra menimpali.
Kai memberikan isyarat pada Nay untuk memberikan berkas yang di butuhkan.
"Ada. Tertulis di sini sejak awal." Menyerahkan cetakan surat.
Jessica melihatnya dengan wajah cemas. Perusahaan miliknya sudah memiliki 2 cabang dan terancam hilang. Begitupun Hendra yang tentu takut kehilangan kekayaannya.
"Surat perjanjian ini sudah di rubah?" Tentu saja Jessy menuntut penjelasan.
"Di situ sudah tertera tanda tangan kalian. Bagaimana mungkin kalian berkata demikian." Perusahaan yang ku berikan sudah kau salah gunakan. Aku bisa saja langsung menyingkirkan kalian tapi aku butuh jalan menuju pengecut itu..
"Jangan curang seperti ini Pak Kai. Perjanjian ini tidak sesuai."
"Untuk apa takut kalau kalian tidak punya niat berkhianat padaku." Jessica tersenyum aneh begitupun Hendra yang mimik wajahnya berubah gugup." Aku maklum dengan Pak Hendra yang mungkin belum mengenal ku dengan baik. Tapi Bu jessy." Kai tersenyum simpul." Kau tahu aku selalu menghargai kesetiaan dengan penghargaan yang setimpal. Bukan perusahaan yang jadi masalah besar. Aku hanya membenci penghianatan." Nay menghela nafas panjang. Dia membaca kebohongan melekat pada wajah Hendra.
__ADS_1
Kamu sudah menjadi orang lain Mas. Dulu kamu orang yang jujur dan tidak pernah berbuat macam-macam..
"Mana berani kami melakukan itu." Jessy terkekeh kecil untuk menutupi kebohongannya.
"Kalau memang seperti itu, untuk apa takut." Kai menepuk pundak Hendra lembut lalu melanjutkan langkahnya sambil melihat-lihat mesin yang sedang beroperasi. Hendra dan Jessica hanya mempu saling melihat dan mengikuti kemana Kai pergi." Setelah berkeliling kita pulang." Ujar Kai setelah membaca pesan dari Alan yang menjelaskan jika Erik sudah tertangkap.
"Hanya sebentar Tuan." Nay cukup kesulitan mengsejajarkan langkahnya apalagi dirinya sudah lama tidak memakai sepatu hak tinggi.
"Hm. Aku ada urusan setelah ini." Kai melirik ke cara berjalan Nay yang terlihat aneh.
Awalnya Kai berniat acuh, tapi dia mengingat ingin memperbaiki sikap agar Nay bisa menerima kehadirannya.
"Kenapa?" Tanyanya tiba-tiba berhenti dan menghadap ke arah Nay.
"Kenapa? Maksud Tuan." Tentu saja Nay bingung dengan pertanyaan singkat tersebut.
"Sepatu!" Menunjuk ke arah bawah. Helaan nafas panjang berhembus sebab sangat sulit merubah nada bicara kasarnya.
"Apa tidak sopan dan mempermalukan mu?" Kai melirik malas lalu melambaikan tangan ke salah satu pekerjaan yang ada di sana.
Hendra dan Jessica hanya mampu menonton sambil memperlihatkan senyum palsu.
"Kau punya sandal jepit?" Jawab Kai kasar.
"Saya tadi memakai sepatu."
"Apa ada toko di sekitar sini?" Masih saja nada kasar yang terdengar sehingga Nay menghela nafas panjang.
"Ada Pak. Biar saya belikan." Kai menyodorkan satu lembar uang seratus." Untuk siapa sandalnya." Menunjuk ke arah Nay tanpa menjawab.
"Tidak perlu Tuan. Bukankah setelah ini pulang." Tatapan Kai beralih pada Jessica dan Hendra seakan tidak memperdulikan penolakan Nay.
"Cukup di sini pertemuannya. Jika mesin sudah bisa beroperasi normal, segera datangkan bahan agar produksi bisa langsung berjalan." Hendra mengangguk patuh." Untuk sementara kau urus semuanya sebab aku belum mendapatkan pengganti Han. Kalian boleh pergi." Imbuhnya dengan wajah datar.
"Baik Pak kami permisi. Terimakasih untuk waktunya." Hendra mengulurkan tangannya namun Kai malah menghindar lalu mengiring Nay duduk di salah satu kursi kayu. Sialan!!
Setelah mengumpat di dalam hati, Hendra pergi di ikuti oleh Jessica sementara Nay memperhatikan dari tempatnya duduk.
"Apa mereka sudah menikah?" Tanya Nay lirih seakan berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lepas sepatu mu daripada kau mengurusi orang lain."
"Aku tidak bertanya padamu." Jawab Nay ketus.
"Lantas kau bertanya pada hantu, atau para pekerja itu." Menunjuk ke para pekerja yang fokus pada pengoperasian mesin.
"Katanya mau berubah? Kenapa kasar sekali." Kai kembali menghela nafas panjang setelah menyadari hal itu.
"Sudah kebiasaan."
"Itu tandanya kau tidak berniat berubah."
"Apa salahnya? Itu hanya ucapan saja."
"Terus saja egois jika ingin jadi perjaka tua!" Umpat Nay berusaha meledek.
"Aku tidak pernah peduli dengan itu." Nay melirik ke seorang pekerja yang berjalan ke arahnya.
"Ini Pak sandalnya. Ukurannya tidak ada yang kecil." Ujarnya menjelaskan.
"Terimakasih ya Pak." Nay mengambil kantung kresek dan mengeluarkan sandal jepit dari sana.
"Sama-sama Non. Ini kembaliannya."
"Ambil saja." Sahut Kai cepat.
"Terimakasih Pak."
"Hm." Sambil memperhatikan Nay yang sedang mencoba sandal jepit dengan ukuran besar. Tanpa sadar Kai tersenyum melihat ukuran sandal yang tidak sesuai.
"Menurut mu ini konyol. Aku baru tahu saat kau tersenyum." Cepat-cepat Kai memasang wajah datar saat sadar Nay memperhatikannya.
"Sudahlah ayo pulang. Tidak penting membahas itu!!" Umpatnya berjalan mendahului untuk menutupi sikap konyol yang tidak sengaja di perlihatkan.
"Ish! Lelaki itu benar-benar..."
"Tampan." Sahut Kai cepat." Jika kau tidak cepat, jangan harap aku mau menunggu." Imbuhnya terus berjalan sambil tersenyum tanpa sepengetahuan Nay yang masih beranjak dari tempat duduknya.
🌹🌹🌹
__ADS_1