
Indonesia
04.50 Pagi
Sebuah mobil hitam terparkir di pekarangan luas kediaman Kai. Rumah itu berpagar tinggi dengan baja tajam berada di puncaknya. Beberapa sudut terpasang CCTV tersembunyi yang terpantau selama 24 jam.
Nay keluar dari dalam mobil. Alan sempat berhenti bernafas setelah melihat sendiri penampakan Nay sekarang.
Rambut yang memang sudah indah dengan wajah sempurna. Baju branded yang di pakai membuatnya semakin terlihat menarik.
Mustahil jika Tuanku tidak jatuh cinta..
Alan bergegas menghampiri Nay untuk menjelaskan soal pernikahan yang di gelar pagi ini.
"Penata rias sudah berada di kamar Nona." Ujar Alan dengan wajah tertunduk.
"Penata rias untuk apa?" Tanya Nay bingung.
"Jam delapan pagi, pernikahan akan di gelar."
Sontak saja wajah Nay berubah kesal. Dia bahkan baru saja datang dan memerlukan istirahat setelah perjalanan selama 10 jam di pesawat.
"Kenapa tidak besok saja?"
"Saya hanya menjalankan perintah."
"Tuan mu bernafsu sekali!!" Umpat Nay berjalan masuk. Alan tersenyum simpul, ini kali pertama ada seseorang yang berani mengumpat pada Tuannya. Di mana letak kamar orang itu?
Nay berhenti seraya mengedarkan pandangannya. Dia tengah mencari kamar milik Kai dan berniat meminta kelonggaran waktu.
"Kamar Nona sebelah sini." Menunjuk ke sebelah kiri.
"Kamar Tuan mu?"
"Namanya Tuan Kai."
"Aku tidak perduli nama. Di mana kamarnya?"
"Untuk apa Nona?"
"Aku hanya meminta kelonggaran waktu. Menurut mu tidak lelah berada di pesawat selama 10 jam?" Alan mengangguk pelan seraya tersenyum simpul.
"Jaga bicara anda Nona. Tuan saya sudah sangat baik dan mau menolong."
"Bukan aku yang meminta. Sejak awal aku tidak butuh kebaikan siapapun dan sampai sekarang."
"Sebaiknya Nona masuk kamar agar para perias bisa melakukan perkerjaannya."
"Kenapa manusia sangat suka menghakimi manusia lainnya hanya karena dia lebih sempurna."
__ADS_1
"Kau lupa soal surat perjanjian itu?" Sahut Kai dari arah belakang. Nay memutar tubuhnya sehingga Kai bisa melihat hasil maksimal dari mahalnya biaya yang di keluarkan.
Nafas Kai berhembus berat sebab kekaguman seketika muncul walaupun dia tahu jika kecantikan Nay di dapatkan dari hasil operasi plastik.
Wanita buruk rupa itu sudah menjadi angsa cantik..
"Aku tidak lupa." Nay melepaskan kopernya lalu berjalan menghampiri Kai. Cintanya pada Hendra yang masih terjaga membuat dirinya tidak tertarik dengan sosok tampan di hadapannya.
"Jika tidak lupa, lakukan tugas mu." Kai tersenyum simpul. Memperhatikan setiap inci paras cantik Nay.
"Berikan aku waktu untuk beristirahat."
"Bukan begitu aturannya. Kau harus menuruti semua kemauanku."
"Hanya sampai besok."
"Persiapan sudah di lakukan. Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku. Wajah buruk mu berubah menjadi seperti sekarang."
"Kamu tidak membaca surat perjanjian Tuan." Tanya Nay balik." Semua sudah mendapatkan timbal balik, untuk apa ucapan terimakasih?" Imbuhnya seraya tersenyum.
"Menurutmu begitu?"
"Yah."
"Itu karena kau tidak mengenal ku. Kebaikan ini baru pertama ku lakukan."
"Aku melakukan ini hanya untuk Suami ku, bukan untuk menyenangkan hati mu." Jawab Nay tegas.
"Ya mantan. Berikan waktu sampai besok."
"Pahami peraturannya, aku tidak pernah main-main." Entah kenapa Kai menanggapi pembicaraan yang terdengar berputar-putar. Padahal sebelumnya dia tidak suka bertele-tele.
"Jika kematian saja yang harus ku bayar, mungkin aku akan memilih mati."
"Och benarkah?" Kai tersenyum simpul seraya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah senjata api di todongkan ke arah Nay sehingga membuat Alan ikut merasa panik. Dia memahami jika Tuannya tidak suka di lawan sementara Nay terus saja mengoyak kesabarannya.
"Tuan tolong jangan." Ujar Alan sedikit berteriak.
"Nyawanya milikku!!" Jawab Kai seakan berniat membunuh Nay saat itu juga.
"Ya lakukan." Sahut Nay menantang. Dia berjalan lebih dekat lalu memegang pergelangan tangan Kai dan menempelkan ujung senjata api tepat di dahinya.
"Kau bilang lakukan tapi aku bisa mencium ketakutan dari mimik wajah mu." Ujar Kai tersenyum simpul.
"Aku memang takut Tuan. Tapi aku menginginkan kematian sejak awal. Lakukan dan biarkan semuanya sia-sia. Aku malah merasa terhormat karena aku bisa menjaga kesetiaan sampai titik darah penghabisan. Kau fikir aku bahagia berada di sini." Nay tertawa kecil. Stres berat rupanya masih bertengger di otaknya.
Wanita ini benar-benar sinting!! Tentu saja Kai merasa kesal mendengar jawaban dari Nay.
Terlihat pelatuk senjata tetap di tarik, hampir saja Alan menjadi penengah namun setelah mendengar bunyi takkk!! Dirinya sadar jika senjata tidak memiliki peluru.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak waras!" Umpat Kai menurunkan senjatanya sehingga tangan Nay terlepas dengan sendirinya.
"Kenapa tidak jadi?"
"Aku akan sama gilanya dengan mu kalau aku membunuh mu saat ini juga." Ucapnya seraya mengisi senjata dengan peluru. Nay memperhatikan dan mulai menebak siapa sosok yang berdiri di hadapannya itu.
Apa dia gembong ******* atau penjahat kelas kakap?
"Biaya yang ku habiskan milyaran rupiah lalu kau berusaha lari dari perjanjian tanpa memberiku keturunan."
"Aku hanya butuh..."
"Cepat lakukan tugasmu atau aku akan membunuh mantan Suami mu dan membawa kepalanya untuk mu." Ancam Kai seraya berjalan pergi meninggalkan Nay yang tengah menelan salivanya kasar.
"Dia tidak mungkin melakukan itu." Gumam Nay menatap kepergian Kai.
"Mungkin saja Nona." Sahut Alan cepat. Nay membalikkan tubuhnya menghadap Alan.
"Sebenarnya dia siapa? Kenapa dia punya senjata?" Tanyanya ingin tahu.
"Menurut Nona?"
"Penjahat, gembong narkoba atau *******." Alan tersenyum simpul.
"Mafia.." Jawab Alan cepat.
"Mafia?"
"Nona tidak akan tahu tapi percayalah jika Tuanku tidak pernah main-main. Ratusan nyawa sudah berhasil di hilangkan dan mungkin saja mantan Suami Nona menjadi salah satunya jika Nona tidak menuruti kemauannya."
"Apa semacam penjahat." Jawab Nay memang tidak tahu menahu.
"Lebih terhormat lagi Nona. Penjahat hanya melakukan kejahatan tanpa adanya sebab. Sementara Tuanku menyingkirkan seseorang yang di anggap mengganggu kehidupannya atau menghalangi keinginannya. Dia tidak pernah membunuh tanpa adanya sebab." Saliva Nay kembali tertelan kasar setelah mengetahui fakta jika Kai sudah sering menghilangkan nyawa seseorang.
"Apa bedanya."
"Sebaiknya Nona cepat masuk kamar dan tidak membuat masalah semakin runyam."
"Hm. Ini demi mantan Suami ku."
Walaupun lelah, Nay memilih menuruti keinginan Kai daripada nyawa Hendra terancam akibat kebodohannya.
Bagaimana kabar Mas Hendra sekarang? Apa dia sudah mendapatkan pengganti atau masih sendiri?
Tanpa Nay sadari, seseorang yang di inginkan kini sudah benar-benar melupakannya dan tenggelam dalam kehidupan barunya. Sama sekali dia tidak pernah memikirkan bagaimana nasibnya walaupun Caca seringkali meminta bantuan.
Nay di nyatakan menghilang tanpa jejak. Hanya ada bukti CCTV jalan ketika dirinya di masukkan paksa ke dalam mobil. Polisi sempat menyelidiki kasus tersebut namun karena Caca tidak punya banyak uang, sehingga membuat kasus perlahan di lupakan.
Kini sosok itu sudah memiliki wajah baru serta indentitas baru. Kai sudah menyiapkan semuanya dengan perhitungan matang. Semua itu sesuai dengan permintaan Nay yang tidak ingin Hendra tahu soal pernikahan kontraknya bersama Kai.
__ADS_1
🌹🌹🌹