Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 41


__ADS_3

Cafe Vio


Nay berjalan menuju meja di mana Caca duduk. Sudah sepuluh menit yang lalu Caca menunggu kedatangannya. Dia sempat ragu namun ternyata Nay memenuhi janji.


Keduanya berpelukan sejenak sementara Kai langsung duduk. Perbedaan penampilan malah semakin menyita perhatian begitupun Caca yang ikut terkesima dengan paras tampan di hadapannya.


"Ku fikir tidak datang." Caca memasang wajah canggung.


"Aku sudah berjanji."


"Ya pesanlah makanan dulu."


"Aku minum saja. Kamu Mas." Caca tersenyum ketika mendengar panggilan Nay yang awalnya Tuan sudah berganti menjadi Mas.


Beruntung sekali. Nay mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Hendra. Tapi sepertinya lelaki ini sangat kaku dan mungkin..


Caca mulai membayangkan bagaimana watak keras Kai. Di pertemuan pertama saja sudah mempertontonkan sikap kasar. Sehingga terselip ketakutan kalau suatu hari nanti Nay mengalami kekerasan rumah tangga.


"Kopi latte." Jawab Kai singkat.


Nay memesan minuman lalu memulai obrolan agar mereka bisa cepat pulang. Hati Caca yang cukup tertarik dengan sosok Elang, tentu saja berusaha menyangkal peringatan yang di bicarakan.


"Aku sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk Nay." Keduanya tersenyum sejenak ketika seorang pelayan menyuguhkan minuman.


Aku tahu Caca anak yang pintar dan berprestasi. Tapi untuk hal lelaki. Pengetahuannya sangat dangkal.


"Jadi tadi kalian makan siang?"


"Hm ya. Dia baik sekali." Jawab Caca memuji-muji cara manis Elang memperlakukannya.


"Entahlah Ca. Aku bingung harus bagaimana mengatakannya."


Sangat tidak mungkin jika Nay membahas gelar yang di sandang Kai. Sebab dirinya juga masih belum sepenuhnya tahu. Namun mendengar peringatan Kai soal orang terdekat, membuat Nay merasa khawatir dengan Caca.


"Semua akan baik-baik saja."


"Aku berharap seperti itu. Em setelah ini kita tidak bisa sering bertemu." Caca menegakkan kepalanya.


"Kenapa?" Nay melirik ke Kai sejenak lalu tersenyum.


"Suamiku sangat posesif." Kai menghembuskan nafas berat ketika Nay melontarkan alasan asal-asalan untuk menutupi kejamnya kehidupan Kai.


"Oh begitu." Caca tertawa kecil. Menurutnya itu wajar sebab Nay sangat cantik.


"Daripada dia terus marah-marah karena cemburu. Lebih baik aku berada di rumah saja." Caca tersenyum canggung. Dia tidak percaya kalau Nay bisa dengan cepat memulai hubungan baru. Padahal kenyataannya, Nay masih berusaha mencerna dan menerima takdir yang membawanya.


Senangnya menjadi Nay. Dia sudah menikah muda sementara aku..


Di umurnya yang sudah kepala tiga. Soal jodoh tentu menjadi prioritas utama. Apalagi hampir semua teman sebayanya sudah menikah dan memiliki anak.

__ADS_1


Kini fikiran Caca kembali tertuju pada Elang. Setelah pertemuan singkat dengan Nay, dia bergegas pulang dan kembali di buat terkejut pada kiriman bunga yang di tujukan untuknya.


"Dari siapa Ca." Tanya si Ibu.


"Teman Ma." Jawab Caca tersipu malu. Dia cepat-cepat masuk lalu mengirim pesan ucapan terimakasih. Ini seperti mimpi. Apa Kak Roy tertarik padaku? Ya Tuhan...


Caca memegang dadanya yang bergetar hebat. Tubuhnya di hempaskan ke atas ranjang sambil menunggu balasan dari Elang yang ternyata tengah asyik bercinta dengan wanita lain.


🌹🌹🌹


Nay tidak ingin berfikiran negatif. Dia membuang tebakan buruknya dan ingin menerima sosok Roy sebagai jodoh untuk Caca. Namun tetap saja. Meski dia berusaha tidak curiga tapi semua yang di ceritakan Caca terdengar ganjil.


"Dia tidak pernah berpacaran." Gumam Nay pelan.


"Bagaimana lagi kalau kenyataannya dia tidak mau."


"Itu karena dia terlalu lugu."


"Bukan terlalu lugu. Tapi terlalu mudah juga murah." Nay sontak menoleh cepat.


"Temanku tidak seperti itu." Jawab Nay tidak terima kalau Caca di sebut murahan.


"Kenyataannya seperti itu. Seharusnya dia tidak langsung percaya pada lelaki yang baru di kenalnya dalam dua kali pertemuan." Nay terdiam. Dia membenarkan hal tersebut." Aku akan menyuruh seseorang untuk mengawasinya. Agar kau tidak khawatir. " Kai menghela nafas panjang. Dia sempat mencari tahu arti dari kata posesif. Apa dia suka aku bersikap posesif?


"Mas." Memikirkan tentang ucapan Nay membuat Kai tidak fokus.


"Apa?"


"Apa tidak beli saja? Mungkin kamu lelah?"


"Aku tidak suka masakan beli. Kalau kamu ingin membeli silahkan."


"Aku menawari mu."


"Lebih baik aku memasak sendiri."


"Nasi goreng saja." Jawab Kai cepat.


"Oke nanti ku buatkan."


"Hm." Kai fokus menatap ke depan sambil terus memikirkan kata posesif. Apa dia berusaha mengingat ku soal posesif atau dia menyukai saat aku bersikap posesif?


Pertanyaan tersebut berputar-putar sampai keduanya tiba di rumah. Otak Kai yang sejak awal terobsesi dengan sosok Sisil. Terus menimbang-nimbang apapun yang Nay katakan padanya.


Nay meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja lalu menggesernya ke hadapan Kai.


"Silahkan Mas." Ujar Nay menawarkan. Kai melihat pemandangan nasi goreng yang sangat mengiurkan meski dia belum ingin menunjukkan betapa sukanya dia dengan masakan buatan Nay.


"Hm. Ku makan." Kai menyendok nya pelan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Tangannya ajaib sekali.

__ADS_1


"Kamu sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada." Kai mencoba menutupi kegelisahannya." Kenapa kamu berubah baik dan tidak berteriak-teriak?" Tanyanya sambil mengunyah.


"Bukankah kamu yang suka berteriak-teriak."


"Aku terbiasa bicara kasar dan keras."


"Sudah ku katakan jika aku sedang berusaha menyukaimu." Perasaan Kai kembali bergetar hebat. Terasa menghantam kuat seakan jantungnya ingin meloncat keluar.


"Secepat itu?"


"Apalagi yang bisa ku lakukan?"


"Hm, itu pilihan terbaik. Em setelah ini aku ada beberapa urusan dengan Alan. Sebaiknya kamu beristirahat setelah makan malam."


"Oke baik." Tiba-tiba saja Nay teringat dengan sosok Devan." Siapa lelaki yang kamu kurung di markas?" Kai menghela nafas panjang sambil memelankan kunyahan.


"Jangan minta aku untuk membebaskannya."


"Memangnya dia siapa?"


"Adik si pengecut. Katakan, apa dulu kau mengenalnya?"


"Erlangga?"


"Ya."


"Aku mengenal Kak Erik saja."


Nay tidak ingin memperpanjang obrolan yang di rasa tidak penting. Walaupun dulu Erlangga sering titip salam lewat Erik, namun Nay tidak membalasnya sebab dirinya tahu Elang sosok yang tidak baik.


Tanpa Kai sadari, kalau bukan satu kali saja Nay menolongnya. Beberapa kali Nay menggagalkan rencana pembullyan dengan berbagai cara yang tidak pernah Elang ketahui.


"Kenapa bertanya hal itu?"


"Kenapa kamu berbohong pada temanmu?" Sontak Nay menegakkan kepalanya.


"Berbohong masalah apa?"


"Aku posesif." Rasa ingin tahu membuat Kai terpaksa menanyakannya daripada mengganggu fikiran.


"Tidak mungkin juga kalau aku berkata jujur padanya jadi aku mengarang cerita."


"Oh begitu." Berarti dia asal bicara.


"Tapi.. Aku menebak kamu orang seperti itu." Dia sampai rela tidak menikah hanya untuk menunggu ku. Bukankah terdengar bodoh? Tapi lelaki ini benar-benar melakukannya..


"Hm mungkin. Itu untuk keselamatan mu. Apa kau keberatan?"

__ADS_1


"Selama niatmu baik. Ya sudah ku terima." Kai tersenyum sebentar kemudian kembali memasang wajah datar. Ingin rasanya dia mengutarakan perasaan bahagianya tapi semua itu masih tertahan.


🌹🌹🌹


__ADS_2