Benih Titipan Tuan Mafia

Benih Titipan Tuan Mafia
Bagian 70


__ADS_3

Nay terbangun di atas tumpukan kardus. Matanya menyipit lalu tertutup lagi. Pusing hebat menghantam kepalanya sehingga Nay memutuskan untuk memejamkan mata sebentar.


"Kamu sudah sadar?" Sapaan Caca membuat Nay langsung melebarkan matanya.


"Kau?" Nay bergegas duduk. Menatap sekitar ruangan tertutup itu." Di mana ini? Katakan!!" Meski masih pusing Nay berdiri lalu mendorong pundak Caca kasar.


"Maaf." Caca terisak dengan wajah tertunduk.


"Kau fikir ini main-main Ca! Kenapa kau tega padaku!"


"Aku terdesak! Dia akan membunuh kedua orang tuaku kalau aku tidak menyerahkan mu!"


"Jadi. Ini sudah terencana?" Caca mengangguk pelan." Di mana ini? Katakan? Kita harus keluar." Nay mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ada dua buah jendela yang sudah di tutup rapat dengan kayu. Elang memang menyediakan kamar untuk ruang penyekapan.


"Ini sudah setengah jalan Nay. Jangan berusaha kabur karena kau akan membahayakan nyawa orang tuaku." Kini tatapan tajam Nay beralih pada Caca.


"Aku tidak menyangka kau tega melakukan ini padaku Ca!"


"Jujur saja jika aku menyesal kita bertemu lagi! Keluargaku terancam karena dendam Roy pada Suami mu!"


"Kau hanya di peralat Ca. Seharusnya kamu berkata jujur padaku! Mas Kai akan membantumu." Caca tersenyum mengejek. Dia masih mengira jika Elang lebih berkuasa daripada Kai. Padahal Elang hanyalah seorang pecundang yang pintar melarikan diri.


"Apa yang bisa di lakukan Suami mu? Bisa-bisa Kak Roy membantai keluarga ku."


"Bodoh kamu Ca!!" Teriak Nay kesal." Elang itu hanya seorang pengecut yang pintar bersembunyi! Dia sedang memanfaatkan mu untuk tujuannya. Aku yakin keluargamu sudah tidak selamat meskipun kau memberikan ku." Caca tersenyum canggung. Jujur saja dia sedikit stres memikirkan ancaman Roy. Caca merasa aneh atas hidupnya.


"Tidak mungkin. Dia bilang akan membebaskan kedua orang tuaku."


"Kamu benar-benar bodoh Ca." Eluh Nay duduk lemah." Kehamilan mu mungkin sudah di rencanakan. Bagaimana mungkin kamu dengan mudah menyerahkan ku. Kita berada dalam masalah besar. Kau bisa saja di bunuh setelah ini. Seharusnya kau bercerita padaku. Suamiku akan menolong mu bahkan menolong keluarga mu." Caca duduk di sisi Nay seraya menangis terisak.


"Ini semua gara-gara Suami mu." Masih saja Caca berkata demikian. Otaknya sudah penuh dengan sugesti dari Elang.


"Tenang saja. Alan akan mencari kita kalau anak buahnya melapor."


"Mereka sudah di bunuh dan sengaja di bunuh." Nay menoleh cepat." Dia sudah melenyapkan mereka." Nay menghembuskan nafas berat. Tangan kanannya meraba paha. Senjata api miliknya sudah tidak di sana.


Seharusnya aku tidak pergi. Bagaimana jika Mas Kai tidak menemukan aku. Dia pergi ke luar kota dan anak buah Alan tidak mungkin melapor.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, Elang muncul dengan bungkusan di tangan. Caca cukup tercengang melihat penampakan Elang yang sesungguhnya. Tampan. Paras Elang jauh lebih tampan daripada penyamarannya sebagai Roy.


Dia Ayah dari anakku.


Sungguh gila suara hati Caca. Dia tidak mengerti betapa tidak berhatinya sosok di hadapannya.


"Makanlah." Elang menyodorkan bungkusan yang langsung di tampis kasar oleh Nay.


"Keluarkan aku!" Nay mendorong tubuh Elang yang tengah tersenyum simpul ke arahnya.


"Itu hal yang mustahil sayang. Aku mendapatkan mu dengan bersusah payah." Caca merasa cemburu mendengar panggilan manis untuk Nay. Meski anak yang di kandungnya haram. Tapi Caca masih mengingat jelas bagaimana sikap Elang padanya dulu terutama momen yang terjadi di apartemen.


"Mas Kai akan memburu mu!" Elang terkekeh nyaring.


"Memang siapa yang memberitahu? Semua jejak sudah ku hapus termasuk ponsel milikku. Aku membuang nya ke jurang agar Kai mengira kau berada di sana." Nay berpaling sambil mendengus. Ada ketakutan besar terpatri pada mimik wajahnya." Besok pukul empat kita pergi ke Texas. Kita menikah dan memulai hidup baru di sana. Aku baru sadar kalau ternyata kamu itu Sisil. Naysila, gadis angkuh yang selalu menolak ku." Nay tidak bergeming. Mencoba memikirkan cara namun tidak juga menemukan jalan untuk kabur.


"Bagaimana dengan kedua orang tuaku Kak." Sahut Caca pelan.


"Ada. Mereka di ruangan sebelah."


"Mereka baik-baik saja kan?"


"Mustahil. Kau pasti sudah membunuh nya!"


"Aku lebih percaya Kak Roy daripada dirimu."


"Ya terserah. Aku kecewa padamu Ca!" Teriak Nay geram. Menunjuk kasar ke wajah Caca.


"Tenang saja sayang. Aku akan memperlakukan mu selayaknya ratu." Nay meludah tepat ke wajah Elang yang langsung mengusapnya.


"Aku memilih mati saja!!"


"Berani sekali kau melakukan itu padaku?!" Plaaaaaakkkkkk!!! Elang menampar pipi kanan Nay sampai hampir terjungkal. Caca yang melihat itu malah tersenyum seakan ikut merasa bahagia.


Rasakan kamu Nay. Seharusnya kamu bersyukur karena Kak Roy menyukai mu bukan aku!!Suami mu tidak memiliki kuasa tapi Kak Roy.


"Hidup mu ada di genggaman ku! Aku bisa melakukan apapun!"

__ADS_1


"Ya lakukan! Kau fikir aku takut hah!" Meski nyeri pada pipi terasa. Nay tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Dia bahkan masih mencari celah untuk bisa kabur dari ruangan itu.


"Kamu memang pantas menjadi milikku sayang." Dengan gilanya Elang menyergap tubuh Nay dari belakang. Tangan kanannya memegang pipi dan berusaha memiringkan kepala Nay agar dia mendapatkan sedikit lummatan bibir.


Caca berpaling, tidak kuasa melihat adegan di hadapannya. Cemburu tentu saja bergejolak di hati. Apalagi sampai saat ini Caca masih memiliki sedikit rasa untuk Elang.


"Sialan!! Lepas!!!" Nay menyikut perut Elang lalu mendorong tubuhnya sampai terduduk di tanah. Matanya menatap sekitar, mencari sesuatu untuk menjaga diri.


Nay bergegas berjalan menuju meja kaca. Ruangan yang di tempati merupakan bekas kantor. Dengan gerakan cepat Nay menginjak kaca dan berusaha memecahkannya. Beruntung sebab meja kaca sudah rapuh sehingga serpihan-serpihan berhamburan di sekitar.


Nay memungut nya satu, menggenggamnya erat meski harus melukai tepak tangan miliknya. Segera saja dia mengacungkan serpihan kaca ke arah Elang yang sudah berdiri.


"Menurut mu aku takut? Itu hanya senjata anak kecil."


"Ayo maju jika ingin aku melukai mu!!" Teriak Nay mengancam. Caca berdiri mematung, entah kenapa dia menikmati momen di hadapannya. Bukankah seharusnya dia menolong Nay? Tapi rasanya persahabatan yang terjalin bertahun-tahun tidaklah berarti.


"Tanganmu bahkan bergetar. Pasti telapak tangan mu terasa perih kan." Ujar Elang berusaha mengalihkan perhatian Nay agar dia bisa menyergapnya.


"Kau salah! Aku melewati banyak kepedihan! Rasa sakit ini tidaklah berarti." Dalam waktu sekejap Elang merasakan perih pada perut. Nay berhasil melukainya dan membuktikan jika dirinya bukan sekedar melontarkan ancaman.


Elang menunduk, darah langsung merembes ke baju miliknya sehingga sontak membuat emosinya membuncah. Segera saja dia berjalan menghampiri Nay lalu menghadiahkan sebuah hantaman pada kepala. Tubuh Nay tersungkur tidak sadarkan diri. Tangan besar dan kekar tentu langsung membuatnya pingsan.


"Dasar wanita tidak tahu di untung!!" Umpatnya sambil duduk berjongkok lalu mengangkat tubuh Nay. Kakinya melangkah ke arah pintu keluar. Segera saja Caca mengekor, dia tidak ingin di tinggal sendirian." Kau tetap di sini." Pinta Elang kasar.


"Aku ikut Kak."


"Ku bilang tetap di sini! Aku akan mengikatnya di tempat lain sampai besok."


"Aku takut Kak. Lebih baik kamu pertemukan aku dengan kedua orang tuaku."


"Setelah aku berangkat. Kau boleh bertemu dengannya. Ingat pada rencana tambahan. Sebelum aku berhasil pergi, kau di larang mengatur!" Hahaha bodoh! Orang tuanya sudah ku pindahkan ke alam lain. Besok giliran mu.


"Baik Kak."


Elang tersenyum simpul. Merasa bangga karena tidak ada kendala sedikitpun. Namun ketika pintu ruangan terbuka, raut wajahnya berubah pucat dengan senyum aneh.


Sial!!

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2