
Hendra mencoba menghubungi Elang untuk meminta bantuan setelah pertemuannya dengan Kai. Dia merasa panik jika ancaman Kai menjadi kenyataan dan memiskinkannya.
Namun tanggapan Elang begitu acuh. Dia hanya diam sambil tersenyum tipis, menatap Jessy dan Hendra secara bergantian.
"Bagaimana Tuan? Apa bisa anda menjamin perusahaan kami akan baik-baik saja?" Tanya Hendra untuk kesekian kalinya.
"Itu bukan urusan ku." Jessy melirik ke arah Hendra. Sebelumnya dia sudah menerka jika Elang akan bersikap acuh.
"Kami meminta perlindungan selayaknya anak buah."
"Kau bahkan belum mendapatkan hasil apapun!" Tunjuknya kasar ke wajah Hendra." Tidak ada perubahan yang terjadi. Kalian sama-sama bodoh." Seketika raut wajah Elang berubah sebab fikirannya tertuju pada nasib Devan, Adik kesayangannya yang mungkin sudah merenggang nyawa.
"Maafkan sikap Hendra. Aku sudah mencegahnya tapi dia tidak mendengar." Jessy berdiri seraya menarik lengan Hendra.
"Lain kali jangan datang ke sini hanya untuk permintaan sialan itu!!"
"Baik Tuan permisi."
Bergegas saja Jessica mengiring Hendra keluar sebelum Elang semakin marah dan menghabisi nyawa keduanya.
Sepanjang perjalanan Jessy memberi isyarat Hendra untuk diam sampai mereka masuk ke dalam mobil.
"Jangan bodoh kamu Dra. Tuan Elang bisa membunuh mu." Segera saja Jessica memacu mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Aku hanya meminta bantuan sebab kita mengabdi padanya."
"Kita hanya pesuruh, mustahil dia mau membantu." Hendra mendengus seraya menatap keluar kaca jendela.
"Kalau begini, lebih baik kita putuskan kerjasama saja. Bersekutu dengan Tuan Elang tidak berguna." Jessy tersenyum simpul. Hendra masih terlalu dini untuk mengetahui bagaimana peraturan yang wajib di patuhi.
"Lakukan kalau kau ingin mati."
Sejak dulu Jessy ingin berhenti namun Elang terlanjur mengikatnya kuat.
"Berhenti sama halnya dengan mati. Kau fikir ini hal yang mudah? Kalau bisa pergi, aku memilih pergi dan hidup tenang dengan hartaku tapi Tuan Elang selalu memberikan misi di luar nalar." Hendra menelan salivanya kasar seraya menoleh.
"Kalau kau tahu itu, kenapa kau mengenalku padanya?"
"Karena dia menyebut ku gagal! Aku hampir di bunuh sehingga terpaksa aku membawa namamu agar Tuan Elang memberikan tambahan waktu."
"Gila kamu Jess?!!" Tentu saja Hendra terkejut mendengar kenyataan jika Jessy memanfaatkannya.
"Ingin hidup mewah tapi tidak ingin berkerja keras. Itu adalah dampak yang harus kau jalani."
"Tapi tidak seperti ini Jess. Kau sama halnya menumbalkan ku." Jessy menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah.
__ADS_1
"Turunlah." Pintanya tersenyum.
"Kau mau kemana?"
"Bersenang-senang sebelum Elang membunuh ku." Jawab Jessy tidak lagi menutupi.
"Pulang dulu. Sudah beberapa hari kau sibuk dengan urusan mu."
"Jangan munafik Dra. Aku sudah bosan dengan cara bercinta mu. Aku ingin mencari sensasi lain." Hendra membuang nafas kasar.
Rumah mewah dan kemudahan memang sanggup dia genggam. Tapi Hendra tidak lagi bisa merasakan kehangatan keluarga seperti apa yang Nay suguhkan dulu.
"Aku Suami mu."
"Jangan cupu kamu. Aku tahu kamu sering bermain-main dengan wanita di diskotik itu."
"Itu karena kau terus pergi."
"Sudahlah turun, cepat."
Jessy membuka pintu mobil lalu mendorong tubuh Hendra agar turun. Setelah berhasil, dia menutup pintu dan memacu mobilnya pergi sementara Hendra masih berdiri terpaku.
🌹🌹🌹
Nay mengambil sembarangan minuman bersoda yang tersimpan di dalam kulkas. Dia membaca setiap kemasan untuk memilih minuman yang tidak boleh di konsumsi Ibu hamil.
Berarti selama ini aku hidup bersama orang yang keji. Dia sampai tega membunuh hanya karena kesalahan masa lalu.
Sejauh ini Nay tidak memahami bagaimana keji dan kejamnya Kai jika di hadapkan dengan musuh. Dia fikir Kai sekedar menggertak atau melukai tanpa harus menghilangkan nyawa. Tapi pemandangan tadi membuatnya paham kalau Kai bisa melakukan penyiksaan di luar nalar manusia.
Maaf Nak. Daripada kau nanti berubah menjadi monster lebih baik kau pergi sekarang..
Tepat di saat Nay akan meminumnya, Kai tiba-tiba muncul lalu membuang minuman ke segala arah.
Praaaaaannnggggkkkk...
Alan memilih menunggu di ambang pintu untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.
"Kembali ke kamar." Pinta Kai menyeret kasar Nay yang berusaha menolak.
"Tidak! Lepas!" Nay menggerak-gerakkan lengannya namun tangan Kai mencengkram nya erat.
"Memang sebaiknya kau di dalam kamar agar tidak membuat onar!"
"Aku hanya bicara kebenaran! Aku tidak mau ada di sini bersama monster seperti mu!!" Kai menghela nafas panjang. Merasa iba dengan wajah kecewa yang Nay perlihatkan. Dia merasa ikut tertusuk belati sehingga perlahan cengkraman nya merenggang lalu Kai memutuskan untuk duduk.
__ADS_1
"Aku tidak membunuhnya. Kau puas." Ucap Kai lirih.
"Aku mendengar bunyi tembakan!"
"Terserah jika kau tidak percaya." Nay menoleh ke arah Alan yang memberikan isyarat dengan anggukan kepala." Jangan sakiti anak kita." Meski terasa berat, Kai mencoba melontarkan ucapan tersebut dengan nada rendah.
"Bawa aku bertemu dengannya. Aku ingin bukti."
"Hm setelah makan siang." Kai berdiri lalu berjalan pergi untuk membersihkan diri. Keangkuhan masih saja di pertahankan meski perlahan dia menunjukan sedikit perubahan." Aku ganti baju dulu. Saat aku turun, makan siang sudah harus siap." Imbuhnya setengah berteriak lalu melangkah keluar dapur.
"Apa benar itu?" Tanya Nay pada Alan.
"Iya Nona. Tuan tidak pernah berbohong. Dia menembakan peluru pada tembok."
"Hm."
Dengan gerakan lambat, Nay mengambil gulai kambing lalu menghangatkannya. Sikap yang di tujukan Kai tidak sanggup melunturkan kekesalannya sampai-sampai perasaan Nay terasa mengambang.
.
.
.
Singkat waktu, lima belas menit kemudian. Kai terlihat menuruni anak tangga dan berjalan ke arah dapur. Alangkah terkejutnya dia ketika menyadari isi piring Nay sudah hampir habis.
"Mau ke mana?" Kai menahan pundak Nay yang akan beranjak pergi.
"Aku sudah selesai makan."
"Tetap di tempat." Pintanya seraya duduk lalu menggeser piring kosongnya dengan gerakan kasar." Mulai hari ini kau harus melayani ku ketika aku sedang makan." Tujuan Kai melakukan itu karena ingin menunjuk keseriusannya untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Aku kesal melihat mu!" Umpat Nay terpaksa mengisi piring Kai dengan beberapa centong nasi.
"Meski kesal kau harus bertahan. Aku Suami mu, kau harus ingat itu." Meski duduk, Nay berusaha menghindari pandangan pada Kai dengan memalingkan wajahnya.
"Tujuannya apa?"
"Pernikahan kita?"
"Iya." Jawab Nay ketus.
"Awalnya aku ingin menolong dan menebus kesalahan ku." Sebaiknya ku katakan sekarang. Biarkan saja dia bertambah marah, aku sudah menyuruh Alan memperketat penjagaan..
Setelah melihat kejadian tadi. Kai berniat mengatakan kebenaran soal kecelakaan yang menimpa Nay kala itu. Walaupun dia tahu itu sangat beresiko, namun Kai bukan orang yang berbelit-belit dan suka menjaga kebohongan.
__ADS_1
🌹🌹🌹