
Kai bernafas lega ketika melihat Nay kembali masuk ke dalam kamar dari layar laptopnya. Dia kesulitan memejamkan mata apalagi setelah kejadian tadi.
Hampir saja dia menebak jika Nay di culik tapi secarik kertas yang tertempel di kaca lemari mematahkan tuduhan tersebut. Pencarian di fokuskan pada Cafe dan restoran dan akhirnya Kai menemukan Nay tepat di saat mobil Elang terparkir.
Kemana lagi dia?
Umpat Kai dalam hati. Dia duduk tegak untuk mengawasi Nay yang kembali berjalan keluar. Sontak saja Kai menoleh ketika terdengar suara ketukan pintu tidak beraturan berasal dari pintu kamarnya.
Dia membuat onar lagi..
Kai sengaja tidak langsung membuka pintu. Sebenarnya dia ingin beristirahat sebentar namun kekhawatirannya pada Nay membuatnya gelisah. Kai memutuskan menunggu Nay terlelap tapi rupanya Nay belum berhenti membuatnya kesal.
Terpaksa Kai beranjak ketika ketukan pintu semakin terdengar kencang. Dia membuka pintu dan mendapati Nay juga Alan berdiri di baliknya.
"Kenapa kau berisik sekali." Eluh Kai ketus.
"Sebab kau tidak memberiku makan."
"Di kulkas sangat banyak makanan ringan. Jika kau ingin makanan berat, bilang saja pada Alan." Pengalaman Kai yang terlalu dangkal soal wanita membuatnya tidak dapat memposisikan ucapan dengan tepat.
"Seharusnya kau yang menyiapkan itu." Nafas Kai terbuang kasar, dia melirik ke arah Alan yang terlihat tersenyum aneh.
"Saya sudah memesan makanan untuk Nona."
"Lantas, kenapa dia di sini." Menunjuk ke Nay." Kau tahu aku tidak suka di ganggu ketika beristirahat." Imbuhnya.
"Saya.."
"Jika sikapmu seperti ini. Jangan pernah kau berkata pada orang-orang soal status kita apalagi pada sahabatku." Jawab Nay tidak kalah kasar.
"Itu tidak ada hubungannya. Status kita memang sudah menikah jadi kau jangan melanggar batasan yang ada." Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ingin menyalahkan Kai atas sikapnya namun dia takut ikut campur.
"Melanggar apa? Katakan Tuan. Aku masih ingat isi surat perjanjian. Tidak boleh ada perasaan di antara kita sebab pernikahan ini akan berakhir jika anak ini sudah lahir."
Kai mendengus lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Dia mengambil surat perjanjian dan merobeknya di hadapan Nay.
"Sudah selesai. Jangan membahas perjanjian yang ada di dalamnya."
"Tidak. Aku tidak mau hidup dengan robot seperti mu." Kai tersenyum simpul.
"Kau memang tidak tahu terimakasih."
"Ku lahir kan anak ini dan kita bercerai."
__ADS_1
"Sampai kapanpun kita tidak akan bercerai. Aku berjanji akan memberikan hidup yang layak untuk mu."
"Kehidupan layak seperti apa? Rumah besar ini bahkan terasa dingin."
Tidak dapat di pungkiri jika Kai juga merasakan hal yang sama. Kehangatan di rumah miliknya sudah menghilang sejak Ibunya meninggal dunia. Sudah tidak ada usapan hangat di kepala juga aroma masakan di pagi hari.
"Mungkin Nona ingin selalu makan masakan rumahan Tuan." Sahut Alan memberanikan diri untuk ikut angkat bicara. Dia sadar jika sikap Kai terlalu kaku.
"Carikan pembantu." Jawab Kai cepat.
"Baik Tuan."
"Kalau tidak sesuai lidah, itu hal yang sia-sia." Nay kembali membuat emosi Kai terkoyak.
"Lantas apa mau mu hah?"
"Siapkan bahan makanan di kulkas. Terserah jika kau tidak suka masakan rumahan. Kau boleh habiskan semua makanan penuh bahan pengawet itu sendirian. Aku ingin memberikan janin ini asupan gizi yang cukup."
Setelah melontarkan kalimat tersebut, Nay kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Nona akan membuat rumah ini beraroma masakan seperti dulu." Gumam Alan tersenyum simpul.
"Tidak ada masakan yang mengalahkan makanan buatan Mama."
"Makanan Tante Erin sangat sedap. Lantas bagaimana Tuan? Apa permintaan Nona di kabulkan."
Kai masuk ke kamarnya sementara Alan menuruni anak tangga untuk melaksanakan perintah Kai. Meski penampilannya acak-acakan, tapi Alan cukup tahu tentang bahan makanan karena seringnya mengantar Mama Erin berbelanja.
🌹🌹🌹
Mimik wajah Hendra terlihat cemas ketika siang ini Elang menyuruhnya menemuinya. Jessica yang tengah pergi ke luar kota tidak dapat menemaninya sehingga kali ini Hendra datang sendirian.
Lima belas menit kemudian, Elang baru saja memasuki ruangan berukuran besar tersebut.
Hendra tidak mengerti dengan suasana ruangan yang begitu sunyi. Suara mobil berlalu lalang di depan tidak terdengar padahal di luar begitu ramai dengan hiruk pikuk perkotaan.
"Jessy tidak dapat hadir."
"Hm aku tahu. Aku memang membutuhkan mu saja." Jawab Elang duduk tegak.
"Apa saya melakukan kesalahan?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin memberikan tambahan misi." Hendra mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
"Apa itu Tuan?"
"Apa Naysila itu mantan Istri mu?" Sontak Hendra melebarkan matanya. Menatap bingung ke arah Elang.
"Bagaimana Tuan tahu?"
"Aku selalu tahu."
"Aku tidak tahu dia di mana. Kami sudah bercerai."
"Kau baru saja bertemu dengannya satu hari yang lalu." Tentu saja Hendra merasa bingung sebab wajah Nay sudah banyak berubah meski dulunya Nay memang sangat cantik.
"Tuan bicara apa? Saya tidak tahu."
"Sekertaris Han adalah Naysila bukan Naya. Itu hanya nama samaran." Hendra tersenyum aneh. Tentu saja dia merasa terkejut mendengar kenyataan itu.
"Tidak mungkin Tuan. Wajah Nay sudah tidak bisa di perbaiki."
"Buktinya dia berubah menjadi sangat cantik. Aku menginginkan dia." Permintaan Elang semakin membuat Hendra semakin terkejut." Jika kau bisa membawa Nay padaku. Aku akan memberikan mu satu perusahaan lagi. Aku menjamin keselamatan mu dan tentu saja hidupmu akan jauh lebih mudah juga menyenangkan." Hendra terdiam beberapa saat. Kenyataan soal Nay masih membingungkan perasaannya.
Apa benar dia Nay? Jika memang benar, dia sekarang cantik sekali..
Ada sesal terbesit ketika Hendra menyadari jika wajah Nay masih bisa di perbaiki. Tapi di sisi lain, kini hidupnya jauh lebih menyenangkan sebab dirinya bisa menggaet banyak wanita dengan uang yang di milikinya.
"Kau kelihatannya keberatan." Hendra tersadar dari lamunannya.
"Tidak Tuan. Em tapi saya sudah tidak bertemu dengannya hari ini."
"Aku tidak mau tahu soal bagaimana caranya kau menyelesaikan misi ini." Hendra belum juga memahami jika dia hanya di manfaatkan.
"Sekarang aku bahkan tidak tahu dia di mana."
"Kamu bisa tanya itu lewat temannya." Elang tersenyum tipis seraya memperhatikan Hendra yang tengah memasang wajah bingung.
"Caca?"
"Hm ya."
"Aku tidak punya kontaknya."
"Aku punya." Elang meletakan secarik kertas di atas meja. Hendra mengambil kertas tersebut dan membacanya." Tugasmu hanya membawa Nay kepada ku lalu kau akan mendapatkan perusahaan dan hidup penuh ketenangan sesuai janji." Elang sengaja memanfaatkan keluguan Hendra sebab dirinya tahu jika menculik Nay secara terang-terangan akan membahayakan nyawanya.
"Saya akan berusaha."
__ADS_1
"Hm bagus." Jika dia berhasil, itu keuntungan untuk ku dan jika dia tidak berhasil, itu juga keuntungan untukku. Sambil menunggu keajaiban, biarkan saja aku memanfaatkan kebodohan orang-orang seperti Hendra. Hahahaha..
🌹🌹🌹