
Aroma masakan menyeruak memenuhi setiap sudut ruangan. Alan sengaja tidak pergi sebab dia ingin tahu bagaimana penampakan masakan Nay.
Sementara Nay sendiri, menikmati kegiatannya memasak karena dulunya hal itu menjadi rutinitas sehari-hari. Tidak pernah lupa dia menyiapkan sajian sederhana untuk keluarga kecilnya yang kini sudah hancur tidak tersisa.
Biasanya Nia sudah membawa piring lebih dulu sambil bertanya kapan masakan itu matang..
Nay tersungging ketika memori itu terlintas. Namun sedikit pun dia tidak lagi mengingat Hendra karena perasaan cintanya musnah akibat rasa kecewa.
"Sepertinya sedap." Puji Alan sudah berdiri di ambang pintu.
"Kau mau?" Tanya Nay lirih.
"Jika di izinkan." Jawab Alan sopan.
"Aku memasak cukup banyak, sekalian untuk makan malam."
"Saya hanya meminta sedikit saja. Ingin mencicipinya."
"Makan saja. Tidak apa. Nasinya juga sudah matang."
Alan sengaja membeli perabotan untuk mempersingkat waktu. Jika harus mengambil di gudang, mungkin Nay akan kelelahan membersihkannya.
"Nona duluan. Saya nanti saja."
"Sudahlah ayo. Aku terlanjur menyiapkan dua piring."
Nay menyukai makan bersama. Rasanya lebih menyenangkan sampai-sampai dia sering menahan lapar hanya untuk menunggu Hendra pulang agar bisa makan bersama.
"Apa kamu takut pada Tuanmu?" Alan tersenyum simpul sebab itulah kenyataan." Biarkan dia menghabiskan makanan penuh pengawet itu sendirian." Imbuhnya masih merasa kesal atas sikap acuh nan dingin yang Kai suguhkan.
"Tuan memang jarang makan Nona."
"Terserah apa alasannya. Yang pasti aku tidak bisa memakannya. Ayo silahkan." Ujar Nay menawarkan. Meski belum seberapa saling mengenal, tapi Nay merasa jika Alan lebih sopan daripada Kai.
"Tidak Nona. Nanti akan jadi masalah besar. Biar saya tunggu di luar."
"Hei tunggu. Setidaknya temani aku makan. Urusan Tuan, biar aku yang bicara." Baru saja Nay mengatakannya. Kai muncul dari balik punggung Alan.
"Katakan. Aku di sini." Sahut Kai berjalan menuju meja makan. Alan tersenyum sejenak kemudian memilih pergi.
__ADS_1
"Makan sendirian mengikis selera." Jawab Nay seraya menyendok satu centong nasi.
Sebenarnya Nay tidak menaruh benci pada Kai apalagi menyalahkannya atas apa yang menimpa hidup nya. Namun yang jadi masalah, Kai selalu mengawali pembicaraan dengan nada ketus dan juga dingin sehingga memicu perasaan kesal.
"Tidak sopan sekali. Kau mengajak orang lain dan malah mengabaikan ku." Biar ku temani makan, jangan mengajak orang lain. Tapi bibirnya terasa keluh dan akhirnya mengucapkan kalimat yang tentu membuat Nay bertambah kesal.
"Katamu ingin beristirahat."
"Sudah." Jawab Kai berbohong. Dia bahkan sulit memejamkan mata meskipun sudah mencobanya.
"Hm ya sudah makan saja. Membeli bahan juga memakai uangmu." Kai menghela nafas panjang. Dia merasa bingung harus bersikap seperti apa.
"Aku tidak yakin ini enak." Ujarnya kembali menutupi rasa ingin tahu akan rasa masakan Nay.
"Jika tidak yakin jangan di makan. Di kulkas masih banyak makanan kesukaan mu." Segera saja Kai menggeser piringnya dengan raut wajah sulit di artikan.
"Kalau aku sakit perut, kau harus tanggung jawab." Masih saja Kai terus berceloteh.
"Hm." Gumam Nay menikmati setiap kunyahan dengan fikiran tertuju pada Nia, anak semata wayangnya.
Kai menyendok sedikit nasi lalu menambahkan gulai ayam yang tersaji. Aromanya sangat sedap namun Kai tidak yakin jika rasanya sesuai dengan bayangannya.
Ketika satu suapan berhasil di masukkan. Seketika mata Kai membulat merasakan sensasi yang sudah lama tidak di rasakan.
Kai menelannya lembut seraya memperhatikan Nay yang masih terlihat tidak fokus meski bibirnya terus mengunyah.
"Kau sedang meratapi nasib?" Tanya Kai membuyarkan lamunan Nay.
"Tidak. Ini masakan kesukaan anakku." Jawabnya pelan.
Ini juga kesukaan ku. Apalagi gulai kambing.
"Oh."
"Aku merindukan nya." Kai seakan tidak perduli walaupun di dalam lubuk hatinya merasakan penyesalan akan insiden kecelakaan tersebut." Bagaimana Tuan? Bukankah lebih enak daripada makanan pengawet itu." Imbuhnya bertanya. Nay tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Dia yakin jika kini anaknya sudah tenang di alam lain.
"Biasa saja. Aku sering memesan di restoran terbaik." Tentu saja Kai masih bertahan dengan keangkuhannya.
"Wajar saja. Karena aku bukan seorang juru masak. Aku hanya mantan Ibu rumah tangga yang kini tidak jelas statusnya." Jawab Nay kembali ketus. Lelaki ini benar-benar tidak bisa berbicara sopan pada wanita. Lihatlah, dia memakan itu tapi mencibirnya!!
__ADS_1
"Kau Istri ku dan itu syah."
"Aku malas membahas status. Itu tidak sesuai dengan sikapmu!"
"Lantas kau ingin aku seperti apa? Bersikap lemah dan memanjakan mu seperti ratu?" Nay menghela nafas panjang. Dia tidak ingin di manjakan apalagi di jadikan ratu oleh lelaki seperti Kai." Buang jauh-jauh keinginan itu. Hidup ku terlalu keras, itu kenapa kau harus kuat jika ingin menjadi Istri ku." Nay tertawa kecil. Lebih tepatnya meledek.
"Sama sekali tidak ingin. Kau memaksa ku berada di posisi ini." Nay melirik ketika Kai menambahkan nasi ke piringnya." Katanya tidak seberapa enak? Kenapa nambah." Kai melirik malas dan melanjutkan makannya.
"Aku lapar jadi terpaksa." Jawabnya pelan.
"Lantas sampai kapan aku berada di sini? Aku ingin pergi ke rumah saudara ku dan hidup tenang di sana."
"Jangan berfikir terlalu jauh. Sekarang ini adalah rumahmu." Nay membereskan piring miliknya lalu mencucinya.
"Apa tujuanmu melakukan ini Tuan? Aku tidak mengerti kenapa semuanya malah bersifat menekan." Protes Nay pelan.
"Di larang menanyakan alasannya." Kai berdiri, dia meletakkan piring kotor ke hadapan Nay.
"Aku tidak ingin memiliki hubungan lagi."
"Masih memikirkan lelaki itu."
"Tidak." Jawab Nay cepat. Dia mengeringkan tangannya dan membalikkan badannya menatap Kai.
Lelaki di hadapannya terlihat sangat tampan namun penampakan itu tidak sesuai dengan sikap yang Kai perlihatkan.
"Jika memang tidak. Kenapa kau terus saja menolak pernikahan ini?" Tanya Kai seraya berpaling. Dia takut matanya buta jika terus menerus menatap paras di hadapannya.
"Sebab pernikahan ini hanya sementara. Kau sendiri yang berkata demikian bahkan menyiapkan surat perjanjian itu." Nay menggeser tubuhnya sedikit. Mengikuti kemana Kai menyembunyikan wajahnya." Kenapa kau selalu menghindar ketika aku berbicara padamu." Protes Nay tersenyum. Sungguh dia baru menjumpai lelaki seaneh Kai.
"Aku malas melihatmu!"
"Kau berbohong padaku Tuan. Jika memang malas kenapa kau mengurung ku dan mengikatku dengan pernikahan." Nay beranjak pergi untuk membereskan sisa gulai ayamnya." Bilang saja jika kau tertarik padaku karena aku cantik." Imbuhnya terdengar meledek.
"Mana mungkin. Wajah milik mu itu palsu! Sangat banyak wanita yang lebih cantik darimu."
Wajah Nay berubah datar. Ucapan Kai cukup membuat perasaannya memburuk. Cepat-cepat dia menutup masakannya lalu berjalan keluar dapur tanpa membalas ucapan yang Kai lontarkan.
Kai menghela nafas panjang. Menatap kepergian Nay dengan sesal di hatinya. Ingin rasanya dia mencegah lalu mengungkapkan kebenaran jika dirinya sudah mencintai Nay sejak pertolongan singkat dulu.
__ADS_1
Aku tidak perduli bagaimana buruknya dirimu. Meskipun kamu tidak melakukan operasi itu, aku hanya akan menikah denganmu sesuai janjiku..
🌹🌹🌹🌹